PRIORITAS, 16/10/26 (Buntok, Kalteng): Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), kian memprihatinkan hingga menelan korban jiwa.
Keterangan resmi mengenai dampak musibah tersebut dipaparkan dalam konferensi pers di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jalan Pelita Raya, Buntok, Jumat (16/10/26).
Agenda jumpa pers ini dipaparkan secara berdampingan oleh Kepala BPBD Barsel Agus In Yulius dan Kepala Dinas Kesehatan setempat, dr. Dadang Baskoro Nugroho.
Jatuhnya korban meninggal dunia
Agus In Yulius merinci eskalasi dampak dari bencana kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut.
Dalam laporannya, terdapat korban meninggal dunia diantaranya seorang bayi yang masih berusia enam bulan sepuluh hari akibat paparan dampak karhutla.
Pihaknya menekankan bahwa kondisi udara yang memburuk menjadi perhatian serius pemerintah daerah guna mencegah munculnya korban tambahan di tengah masyarakat.
Data klinis ISPA dan kasus pneumonia
Sementara itu, dr. Dadang Baskoro Nugroho memaparkan kondisi kesehatan masyarakat secara umum selama krisis asap berlangsung.
Berdasarkan rekapitulasi instansi sektoral Dinkes Barsel, jumlah warga yang terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan tertangani oleh 12 puskesmas serta rumah oksigen telah menyentuh angka 9.893 orang.
Selain kasus ISPA, akumulasi pasien pneumonia yang memerlukan perawatan rawat inap intensif di fasilitas kesehatan mencapai 724 jiwa, dengan catatan mortalitas sebanyak tujuh kasus selama periode Agustus hingga Oktober.
Luas area terbakar dan lonjakan hotspot
BPBD Barsel mencatat total luasan vegetasi yang terbakar di seluruh teritorial Barito Selatan kini membentang hingga 1.264,99 hektar.
Lonjakan titik panas (hotspot) terpantau sangat masif, bahkan sempat menyentuh angka 700 titik dalam kurun waktu sehari.
Upaya mitigasi dan permohonan bantuan pusat
Menghadapi krisis lingkungan ini, pemerintah daerah telah melayangkan permohonan bantuan pengerahan helikopter pengebom air (water bombing) serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kepada pemerintah provinsi dan pusat.
Penanganan darurat di lapangan terus dioptimalkan bersama unsur TNI-Polri melalui pengoperasian armada tangki pemadam serta pembuatan sumur bor.
Sebagai langkah preventif, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan mengimbau masyarakat agar menghentikan aksi pembakaran lahan serta disiplin mengenakan masker pelindung saat beraktivitas di luar ruangan. (P-Ahmad Arbani)








