PRIORITAS, 9/10/26 (Buntok, Kalteng): Kapolres Barito Selatan (Barsel), AKBP Eko Mardianto, memimpin langsung upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Madara, Kecamatan Dusun Selatan, Kamis (8/10/26). Langkah tanggap darurat ini dilakukan menyusul maraknya sebaran titik panas (hotspot) yang terpantau melalui pencitraan satelit.
"Desa Madara termasuk kawasan prioritas penanganan karhutla di Kecamatan Dusun Selatan karena merupakan wilayah lahan gambut," ujar Eko saat dikonfirmasi, melalui sambungan telepon seluler, Jumat (9/10/26).
Eko menjelaskan, proses pemadaman dan pendinginan di lokasi titik api kedua Jalan Madara memakan waktu sekitar 6 hingga 7 jam. Karakteristik lahan gambut yang kering dan tebal menjadi tantangan utama Tim Karhutla Terpadu yang terdiri atas BPBD, TNI, Manggala Agni, KPHL, dan Masyarakat Peduli Api.
"Kondisi dasar gambut yang kering membuat api sulit padam dan sangat berpotensi menyala kembali. Selain itu, tim menghadapi kendala pasokan air, di mana lokasi penampungan air berjarak sekitar 5 kilometer dari titik api," tuturnya.
Eko menegaskan, komitmen aparat dan relawan tercermin dalam jargon 'Pantang Pulang Sebelum Padam'. Selama masa Tanggap Darurat Tahap III yang berlangsung hingga 2 November 2026, gabungan personel akan memperkuat patroli terpadu, deteksi dini, serta respons cepat terhadap kemunculan titik panas baru.
Kabut asap berasal dari sumber lokal
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Barito Selatan, Agus In'yulius, mengungkapkan bahwa kabut asap pekat yang menyelimuti kawasan Barsel bersumber dari karhutla lokal.
Berdasarkan pemantauan BPBD per Jumat (9/10/2026) pukul 06.00 WIB, terdeteksi sebanyak 383 titik panas di wilayah Barsel, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kecamatan Dusun Selatan. Adapun kecepatan angin bertiup antara 2 hingga 5 knot atau sekitar 1,8 hingga 9,3 kilometer per jam, yang mendorong pergerakan asap ke wilayah sekitar.
Data Sipongi Kementerian Kehutanan periode 1 Agustus hingga 8 Oktober 2026 mencatat sebaran titik panas tertinggi berpusat di Desa Madara dengan 1.567 titik, disusul Desa Sungai Jaya sebanyak 1.256 titik, Desa Kalahien 1.038 titik, Desa Marawan Lama 744 titik, serta Kelurahan Mangkatip sebanyak 344 titik.
"Dari data tersebut, dapat dipastikan sumber api memang berasal dari wilayah Barsel sendiri. Asapnya kemudian menyebar ke daerah lain yang memiliki sedikit atau bahkan tanpa titik panas," jelas Agus, melaui pesan singkat yang diterima Beritaprioritas.com, Jumat (9/10/26).
Kualitas udara berada pada level berbahaya
Agus mengatakan, dampak kebakaran lahan gambut ini telah memicu penurunan kualitas udara yang ekstrem. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per Jumat (9/10/2026) pukul 07.00 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat PM10 mencapai 1.000 µg/m³ dan PM2.5 mencapai 659 µg/m³. Angka ini menempatkan kualitas udara di Barito Selatan berada pada level Berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Mengenai pemicu kebakaran, Agus menyebutkan adanya indikasi kelalaian hingga unsur kesengajaan oleh oknum masyarakat. "Tidak hanya kelalaian, sebagian kebakaran ini ditengarai akibat adanya unsur kesengajaan," kata Agus.
Terkait dugaan pembakaran di Desa Madara, Kapolres Barsel menegaskan pihaknya masih melakukan proses penyelidikan untuk menentukan unsur pidana.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan kepolisian jika menemukan titik api atau aktivitas mencurigakan. Setiap laporan yang masuk melalui layanan Call Center 110 akan segera diverifikasi dan ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung ke lapangan. (P-Ahmad Arbani)








