PRIORITAS, 9/10/26 (Jakarta): Menjelang dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, daya saing sektor pariwisata Indonesia mencatatkan tren positif yang signifikan.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengungkapkan hal itu dalam Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Jakarta, Jumat (9/10/26), sebagaimana dilansir dari Antara.
Ia menjelaskan, posisi pariwisata Indonesia di kancah global kian kokoh. Hal ini didorong oleh kuatnya komitmen pemerintah serta kekayaan modal alam dan budaya yang melimpah.
"Capaian ini menjadi modal besar kita. Namun, ini juga memberikan gambaran jelas mengenai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama pada infrastruktur, layanan pariwisata, kebersihan, kesiapan digital, dan keamanan," ujar Widiyanti.
Indonesia tembus peringkat 23 dunia
Dilaporkan, berdasarkan data Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2026 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) pada September lalu, skor Indonesia meningkat menjadi 4,56 (naik dari 4,46 pada tahun 2024).
Dengan kenaikan skor ini, kata Menpar, posisi pariwisata Indonesia kini berada di peringkat ke-23 di dunia, ke-6 di Asia Pasifik, dan ke-2 di Asia Tenggara (di bawah Singapura).
Hebatnya lagi, Indonesia sukses menempati peringkat pertama dunia pada pilar Prioritization of Travel & Tourism dengan skor 6,12.
Selain itu, RI berada di peringkat ke-5 untuk daya saing harga, peringkat ke-9 pada sumber daya alam, serta peringkat ke-15 untuk sumber daya budaya dan dampak sosial ekonomi.
Realisasi investasi meroket 56 persen
Dikatakan, sektor pariwisata yang kian kompetitif turut memicu pertumbuhan investasi yang agresif. Realisasi investasi pariwisata melonjak tajam dari Rp47,14 triliun pada 2024 menjadi Rp73,56 triliun pada 2025, atau tumbuh sebesar 56,05 persen.
Meski demikian, Menpar Widiyanti mencatat bahwa investasi saat ini masih terpusat di Bali, Jakarta, dan sektor amenitas.
"Kami terus mendorong investasi yang lebih merata ke berbagai destinasi, termasuk ke 13 Destinasi Pariwisata Prioritas dan Regeneratif serta KEK Pariwisata," tambahnya.
Membidik pasar wisata bahari dan marina
Salah satu strategi utama Kemenpar untuk memperluas investasi adalah dengan mengembangkan potensi wisata bahari, khususnya sektor pelayaran (yachting) dan marina.
Pada September 2026, Menpar Widiyanti mempromosikan potensi maritim Indonesia di hadapan 160 organisasi internasional di Monako. Langkah ini menegaskan kesiapan Indonesia sebagai destinasi baru dunia untuk industri yachting.
Disampaikan, sebagai negara kepulauan di kawasan Coral Triangle, Indonesia memiliki modal wisata selam kelas dunia seperti di Raja Ampat dan Labuan Bajo, lengkap dengan lebih dari 700 titik selam potensial.
Industri perhotelan raih rekor MICHELIN Keys 2026
Sejalan dengan lonjakan investasi, performa industri perhotelan di tanah air juga menunjukkan tren positif. Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, memaparkan data Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang.
Secara kumulatif sepanjang Januari–Agustus 2026, TPK hotel bintang mencapai 49,56 persen, naik 2,30 poin persentase dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kualitas pelayanan (hospitality) Indonesia juga semakin diakui dunia melalui pencapaian MICHELIN Keys 2026. Disampaikan, sebanyak 47 hotel dan resor Indonesia berhasil meraih MICHELIN Keys 2026, naik dari 33 properti pada tahun sebelumnya.
Selain itu, Indonesia menjadi negara pemegang MICHELIN Keys terbanyak kedua di Asia Tenggara setelah Thailand.
"Penghargaan global ini membuktikan bahwa kualitas pelayanan pariwisata Indonesia semakin diakui dunia sekaligus memperkuat posisi kita sebagai destinasi berkualitas," ucap Ni Luh Puspa. (P-Ant/ht)








