PRIORITAS, 8/10/26 (Buntok, Kalteng): Amukan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, terus meluas hingga awal Oktober 2026. Berdasarkan rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat yang disebarkan, total luas lahan yang terbakar sejak Januari telah menembus angka 1.144,46 hektare dari 250 kejadian.
Di tengah kepungan asap dan ancaman kekeringan, pemerintah daerah memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Karhutla hingga 2 November 2026.
Kepala BPBD Barito Selatan, Agus In’ Yulius, mengungkapkan bahwa eskalasi kebakaran terjadi karena karhutla yang semakin meluas, di mana Kecamatan Dusun Selatan menjadi wilayah dengan titik terbakar terbanyak. Karena itu pemerintah memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Karhutla hingga 2 November 2026 mendatang.
"Dusun Selatan adalah tempat karhutla terbanyak terutama di jalur-jalur: Kalahien-Pararapak-Madara, Sababilah-Kecamatan Gunung Bintang Awai dan Jalan Hauling PT. Mutu km 9 sampai km 42.
Lonjakan tersebut terjadi utamanya faktor manusia, didukung situasi lahan atau lokasi yang mudah terbakar karena cuaca atau kekeringan," ujar Agus In’ Yulius dalam wawancara melalui sambungan telepon seluler , Kamis (8/10/26).
Agus menambahkan, faktor utama karhutla murni disebabkan oleh manusia atau dibakar, sementara faktor cuaca (kekeringan yang menyebabkan bahan mudah terbakar) hanyalah faktor pendukung. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada pergeseran titik api secara alami, melainkan dibakar.
"Pergeseran titik api itu tidak ada, titik api tersebut terjadi karena dibakar. Karena itu kita menghimbau kepada masyarakat, di kondisi seperti ini, mohon untuk tidak membakar, karena akibatnya bisa tidak terkendali seperti yang terjadi saat ini," tegasnya.
Terkait penanganan, Agus menyebutkan bahwa koordinasi dan kerjasama antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta instansi berjalan dengan baik, sehingga tahap berikutnya adalah memantapkan kerjasama di lapangan agar penanganan efektif baik dari sisi pencegahan maupun penanggulangan.
Langkah tegas kepolisian dan karakteristik gambut
Di sisi lain, Kepolisian Resor Barito Selatan memetakan bahwa wilayah yang mengalami titik hotspot kategori medium paling banyak berada di Kecamatan Dusun Selatan, khususnya kawasan Kalahien/Masimpun, Parigi, dan Madara.
Wilayah tersebut sebagian besar merupakan lahan gambut dengan kedalaman sekitar 3 hingga 4 meter, sehingga penanganannya membutuhkan pembasahan secara terus-menerus untuk mencegah api kembali muncul.
Kapolres Barito Selatan, AKBP Eko Mardianto, menjelaskan bahwa hingga saat ini Polres Barsel telah menangani 2 Laporan Polisi terkait Karhutla dan proses penyelidikan terus berjalan.
Untuk langkah penanggulangan, pihaknya bersama Satgas Karhutla Terpadu telah mengoptimalkan berbagai upaya taktis di lapangan.
"Langkah yang telah kami lakukan meliputi pembasahan setiap hari bersama Satgas Karhutla Terpadu termasuk memanfaatkan dukungan 10 jerigen XFire, pendirian Posko Lapangan di Dusun Jutuh Desa Pararapak, patroli malam cegah karhutla hingga menjelang subuh untuk pencegahan dan deteksi dini.
Selain itu, pembuatan 9 sumur bor yang tersebar di 6 Polsek, koordinasi dengan Dinas PU untuk optimalisasi embung, mengoptimalkan kendaraan dinas yang dilengkapi tandon air dan mesin alkon, hingga pembuatan sekat kanal sepanjang 5,7 km di Desa Madara bekerja sama dengan PT. NRS dan KPHL," papar AKBP Eko Mardianto kepada Beritaprioritas.com, melalui sambungan telepon selular, Kamis (8/10/26).
Krisis air bersih dan kepedulian sosial
Dampak ekologis dari karhutla dan kemarau panjang ini turut memicu krisis air bersih bagi warga akibat sumur-sumur yang mengering. Dinas PUPR Barito Selatan, dikabarkan tercatat telah menyalurkan 272.600 liter air bersih gratis ke 16 desa/kelurahan.
Jajaran kepolisian melalui program "Polres Barsel Peduli" juga turut aktif meringankan beban warga terdampak. AKBP Eko Mardianto menyebutkan, bahwa pihaknya telah menyalurkan kurang lebih 120.000 liter air bersih disertai kegiatan bakti kesehatan.
Salah satu penyaluran signifikan dilakukan oleh Polsek Dusun Hilir di Desa Batampang (Dusun Simpang Telo), di mana 60.000 liter air bersih dari hasil pengolahan layak konsumsi didistribusikan langsung kepada sekitar 86 kepala keluarga yang terdampak kekeringan. (P-Ahmad Arbani)








