Darurat kabut asap di Barito Selatan, kasus ISPA tembus ribuan jiwa

Herling Tumbel
Rabu, 23 September 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 22/9/26 (Buntok, Kalteng): Dampak buruk kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng) dirasakan secara langsung oleh masyarakat  lebih parah dalam beberapa hari terakhir.


Sejumlah warga mengeluhkan serangan pusing hebat, sesak napas, hingga mata perih yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, hingga konsumsi obat secara berkala.

Lena Puspita (51 tahun), warga Jalan Keladan, Buntok, mengaku keluarganya terpaksa membatasi seluruh kegiatan di luar ruangan. Menurutnya, penggunaan pendingin udara di rumah tidak mampu menetralisir partikel asap yang tetap merangsek masuk, sehingga anggota keluarganya harus mengonsumsi obat asma, vitamin dan air mineral secara disiplin.

Keluhan serupa secara terpisah, disampaikan Ninda, warga setempat yang terpaksa mengurung diri di dalam kamar selama dua hari terakhir akibat pusing dan sesak napas.


Sementara itu, Abit, seorang pedagang di Jalan Merdeka Raya, menuturkan bahwa matanya terasa perih sepanjang hari saat harus tetap mencari nafkah di luar rumah.

Hentikan pelaku pembakaran dan kendalikan asap

Puluhan warga lainnya juga melaporkan keluhan serupa melalui pesan singkat dan sambungan telepon yang diterima Beritaprioritas.com sejak beberapa hari terkhir hinga Selasa (22/9/26).

Di tengah kepungan kabut asap pekat yang melumpuhkan aktivitas, suara kekecewaan dan permohonan dari masyarakat kian menguat. Melalui harapan yang disuarakan Lena Puspita dan warga lainnya, masyarakat mendesak agar pemerintah dapat menghentikan para pelaku kebakaran ini tanpa kompromi.

Warga juga berharap pemerintah bergerak cepat menangani persebaran kabut asap yang kian pekat. Langkah nyata ini sangat dinantikan demi mengurangi risiko keberbahayaan bagi keselamatan dan kesehatan terutama seluruh warga Barito Selatan.

Lonjakan penderita ISPA capai ribuan jiwa

Kabupaten Barito Selatan darurat kabut asap. (AI)

Ancaman kesehatan akibat udara kotor ini terlihat nyata dari lonjakan pasien di berbagai fasilitas kesehatan daerah. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan, dr. Dadang Nugroho, mengungkapkan bahwa data kunjungan pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut di 12 puskesmas menunjukkan peningkatan signifikan dari bulan ke bulan.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan, jumlah penderita ISPA tercatat sebanyak 571 orang pada bulan Juni, lalu melonjak menjadi 953 orang pada bulan Juli, dan kembali naik tajam hingga 1.295 orang pada bulan Agustus.

“Tren mengkhawatirkan ini berlanjut di mana hingga tanggal 18 September saja, jumlah warga yang berobat akibat ISPA sudah mencapai 739 orang,” kata dr. Dadang, melalui pesan singkat yang diterima Beritaprioritas.com, Selasa (22/9/26).

Kualitas udara masuk kategori berbahaya

Situasi darurat ini turut dikonfirmasi oleh Kepala Bidang Pengendali Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (PPPL DLH) Barito Selatan, Resti Teluni.

Hasil pemantauan menunjukkan Indeks Standar Pencemaran Udara melonjak hingga angka 999 atau berada pada kategori “berbahaya”.

Saat diwawancarai Beritaprioritas.com, melalui sambungan telepon, Selasa (22/9/26). Resti menyebut, parameter kritis didominasi oleh debu kasar PM10 pada angka maksimal serta partikel halus PM2.5 yang menyentuh angka 660.

Respons cepat Dinas Kesehatan

Sebagai langkah taktis menanggulangi lonjakan pasien akibat buruknya kualitas udara, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan melalui Dinas Kesehatan mengoptimalkan fasilitas Rumah Oksigen Gratis di Buntok.

Berdasarkan laporan resmi yang dirilis melalui Website OPD Barsel – Kabupaten Barito Selatan, posko layanan kesehatan ini aktif melayani masyarakat setiap hari dengan dukungan tenaga medis gabungan dari Dinas Kesehatan, RSUD/RSJS Buntok, serta UPT Puskesmas.

Dalam kurun waktu empat hari pelayanan, posko mencatat kunjungan warga yang didominasi oleh kasus infeksi saluran pernapasan atas, asma, keluhan pusing, dan hipertensi. Pada hari Minggu (13/9/26), sebanyak lima pengunjung mendapatkan obat suportif.

Terapi oksigen

Lonjakan kunjungan terjadi pada Senin (14/9/26) dengan 14 orang mendatangi posko dan 10 di antaranya langsung menerima terapi oksigen.

Layanan berlanjut pada 15 September 2026 bagi enam pengunjung yang juga mendapatkan edukasi kesehatan, serta pada 16 September 2026 dengan delapan pengunjung yang menerima fasilitas oksigen dan resep obat komprehensif.

Melalui optimalisasi Rumah Oksigen Gratis ini, pemerintah daerah memastikan masyarakat dapat memperoleh akses pelayanan medis, oksigen, dan obat-obatan secara mudah dan tanpa dipungut biaya.

Pemerintah daerah terus mengimbau seluruh warga agar mengurangi aktivitas di luar ruangan serta selalu mengenakan masker saat terpaksa beraktivitas di luar rumah demi melindungi kesehatan pernapasan. (P-Ahmad Arbani)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan