
Grup Kolintang Rhytim of Minahasa (RoM) akan membawa misi kebudayaan ke panggung internasional di Paris dengan dipadu dengan repertoar Nusantara, klasik dunia, hingga lagu populer (‘Courtesy’ RRI.co.id) PRIORITAS, 21/09/26 (Minahasa): Kolintang Minahasa kembali mendapat panggung internasional. Alat musik tradisional asal Sulawesi Utara tersebut akan tampil di Paris, Prancis, sebagai bagian dari misi diplomasi budaya Indonesia di tingkat dunia.

Keberadaan kolintang dalam agenda kebudayaan di Paris menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Minahasa sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pelestarian warisan budaya takbenda. Kolintang tidak hanya sebagai alat musik, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Minahasa.
Musik kolintang merupakan permainan musik berkelompok menggunakan bilah-bilah kayu yang menghasilkan nada berbeda dengan cara memukul bilah-bilah itu dengan tongkat pemukul. Permainan secara ansambel membutuhkan kekompakan antarpemain sehingga turut mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong.
Kolintang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Dalam perkembangannya, alat musik tersebut tidak lagi terbatas pada kegiatan adat. Kini aktivitas seni kolintang telah tampil dalam berbagai pertunjukan seni, kegiatan pariwisata, penyambutan tamu dan promosi kebudayaan.

Pengakuan internasional terhadap kolintang semakin memperkuat upaya pelestarian alat musik tersebut. UNESCO memasukkan praktik dan ekspresi budaya terkait kolintang dalam daftar Warisan Budaya Takbenda pada 2024. Pengakuan tersebut sekaligus membawa tanggung jawab untuk memastikan tradisi kolintang terus hidup dan terwariskan kepada generasi berikutnya.
Keberadaan kolintang di Paris kemudian menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tradisi tersebut terus berkembang dan dapat menjadi sarana komunikasi budaya antara Indonesia dengan masyarakat internasional.
Diplomasi budaya melalui kolintang membuka ruang bagi Indonesia untuk memperkenalkan nilai, sejarah dan kreativitas masyarakat Minahasa kepada dunia. Bunyi khas instrumen kayu tersebut menjadi medium yang dapat menjembatani perbedaan bahasa dan latar belakang budaya.
Dalam konteks yang lebih luas, kolintang juga memiliki nilai sosial karena memmainkannya secara bersama-sama. Setiap pemain memiliki bagian masing-masing yang harus selaras satu dengan yang lain. Dengan demikian menghasilkan harmoni sebagai satu kesatuan.
RRI sebelumnya mencatat kolintang sebagai salah satu ekspresi budaya yang merepresentasikan identitas masyarakat Sulawesi Utara. Instrumen tersebut juga memiliki fungsi dalam berbagai kegiatan budaya dan sosial masyarakat.
Melansir rri.co.id, pengakuan UNESCO bukan menjadi akhir perjalanan kolintang. Pemerintah dan komunitas budaya masih menghadapi pekerjaan besar untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut, terutama melalui regenerasi pemain dan perluasan pendidikan musik tradisional.
Kementerian Kebudayaan sebelumnya menyampaikan bahwa status UNESCO harus diikuti dengan langkah konkret untuk melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan warisan budaya bagi masyarakat. Salah satu perhatian yang disorot adalah memastikan regenerasi pemain kolintang serta memperkuat ekosistem musik tradisi.
Upaya membawa kolintang ke panggung internasional seperti Paris menjadi bagian dari proses memperluas pengenalan terhadap warisan budaya Minahasa. Di saat yang sama, keberadaan kolintang di tingkat global diharapkan tetap berakar pada komunitas yang selama ini menjaga dan mengembangkan tradisi tersebut.
Dengan demikian, dentingan bilah-bilah kayu kolintang tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga membawa cerita tentang Minahasa dan kekayaan budaya Indonesia ke ruang diplomasi internasional. (P-*/sm)

