Darurat karhutla di Buntok: Asap pekat lumpuhkan transportasi dan ancam kesehatan warga Kalteng

Herling Tumbel
Minggu, 20 September 2026
6 menit membaca

Oleh: Ahmad Arbani (Jurnalis Beritaprioritas.com di Kalteng)


PRIORITAS, 20/9/26 (Buntok, Kalteng): Langit Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), kehilangan warnanya.

Pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak sekadar membatasi pandangan mata, melainkan memutus rantai mobilitas, mengancam keselamatan perjalanan darat, hingga memaksa aktivitas pendidikan kembali lumpuh.

Di tengah situasi darurat ini, jeritan warga dan para pekerja lapangan berbenturan dengan kenyataan pahit minimnya uluran tangan perlindungan kesehatan dari instansi berwenang.


Maut mengintai di jalan raya, transportasi lumpuh

Dampak karhutla paling kasat mata dirasakan oleh para pengemudi angkutan umum lintas daerah. Haqan Ahmad (25), seorang sopir travel rute Buntok–Palangka Raya, merasakan betul bagaimana jarak pandang di jalur perbatasan Barsel dan Kapuas berubah menjadi titik paling berbahaya dalam penjelajahannya.

“Titik parah seputaran perbatasan Barsel–Kapuas,” ucap Haqan via telepon selular, Sabtu (19/9/26) malam.

Sisa amukan api pada malam sebelumnya tambah Haqan, bahkan masih terlihat membara di jalur Madara–Pendang, kawasan yang sempat dilaporkan terbakar hingga melumpuhkan kabel tanam milik PT Telkom.

Konsekuensinya, durasi berkendara yang normalnya memakan waktu 3,5 jam harus melar menjadi 4 jam penuh. Para pengemudi terpaksa merayap pelan di siang bolong sambil menyalakan lampu utama demi menghindari kecelakaan maut.

Risiko di jalan raya bukan isapan jempol. Haqan menuturkan, sekitar pukul 05.00 WIB di kawasan letter S Timpah, kendaraannya hampir menghantam ranting-ranting pohon besar sisa pembersihan yang tak terlihat di balik selimut asap.

“Sektor udara turut bergejolak karena sejumlah penumpang tujuan Bandara Cilik Riwut, Palangka Raya batal terbang akibat armada pesawat mengalihkan pendaratan (divert) menuju Balikpapan dan Banjarbaru,” imbuhnya.

Jeritan warga Buntok terkurung polusi

Kawasan Jalan Batuah, Buntok, Kalteng, Minggu (20/9/26). (Ist.)

Di tengah kepungan polusi pekat di Kalimantan Tengah, keluhan serupa datang dari permukiman penduduk. Anni (47 tahun), seorang ibu rumah tangga di Jalan Padat Karya, Kelurahan Buntok Kota, Kecamatan Dusun Selatan, menyatakan bahwa intensitas kabut terparah menembus wilayah mereka hingga malam hari.

“Sejak siang kabut paling pekat sepanjang ini dan masih berlanjut hingga malam. Jangankan anak-anak, saya sendiri mengalami batuk, dampak menghirup udara yang sangat tidak sehat ini. Anak sudah diliburkan sejak Kamis (17/9/26), masuk sebentar, karena melihat kondisi kabut, langsung dipulangkan,” tulis Anni melalui pesan WhatsApp kepada media ini, Sabtu (19/9/26) malam.

Seluruh anggota keluarga, beber Anni, kini memilih bertahan di dalam rumah sambil menjaga toko kelontong. Usaha dagang rumahan yang menjadi tumpuan nafkah harian mulai sepi pembeli, sebab ruang publik tidak lagi ramah bagi paru-paru.

Tragisnya, baik Anni maupun para sopir travel mengaku belum pernah menerima sehelai pun bantuan masker gratis atau fasilitas pemeriksaan kesehatan dari pemerintah daerah.

Mereka merogoh kocek pribadi demi bertahan hidup, sementara partikel debu pembakaran tetap merangsek masuk meski pintu serta jendela rumah tertutup rapat.

Respons pemerintah dan lonjakan titik panas

Menanggapi eskalasi bencana karhutla yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebelumnya mencatat lonjakan drastis hotspot dari 52 titik melonjak tajam hingga 406 titik.

Sebaran terparah mencakup Desa Madara, Pendang, Sanggu, hingga jalur hauling PT MUTU, yang membuat jarak pandang anjlok ekstrem hingga tersisa 50 meter.

Menyikapi krisis ini, Pemkab Barsel pekan lalu secara resmi memperpanjang masa status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan selama 30 hari ke depan melalui rapat lintas sektor.

Langkah taktis ini diambil guna memperkuat operasi terpadu di lapangan, mengingat ancaman kebakaran masih membara di sejumlah titik.

Walaupun demikian, kebijakan administratif tersebut dinilai masih lambat dirasakan dampaknya oleh masyarakat bawah yang mengharapkan distribusi masker medis serta posko pengobatan gratis.

Pendidikan berhenti di diambang indeks 300

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Selatan, Manat Simanjuntak, mengonfirmasi bahwa angka 300 bukan lagi sekadar peringatan, melainkan batas bahaya yang memaksa sekolah menghentikan kegiatan tatap muka.

“ISPU 300 mas sudah berbahaya dan harus PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh),” ujar Manat, melalui pesan singkat, Minggu (20/9/26).

Pernyataan tersebut, menurut Manat, merujuk pada Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI tertanggal 28 Agustus 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Karhutla.

Regulasi ini menginstruksikan penghentian total kegiatan berkumpul di satuan pendidikan untuk kategori di atas 300, dengan prioritas pada evakuasi serta perlindungan kesehatan melalui koordinasi bersama BPBD dan Dinas Kesehatan.

Data grafik lapangan yang dikirim Manat menunjukkan urgensi luar biasa. Padan Minggu (20/9/26) pukul 07.00 WIB, Stasiun KLH/BPLH Sanggu mencatat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menyentuh angka 1.000 atau kategori berbahaya maksimal, dengan parameter kritis PM10 sebesar 1.000 dan PM2,5 mencapai 680.

Konsentrasi PM2,5 menembus 700 mikrogram per meter kubik, diperparah kecepatan angin 0 kilometer per jam, suhu 24,5 derajat, serta kelembaban 94 persen yang membuat asap terkurung tak bergerak.

“Kemarin 19 September ISPU 937, hari ini 1000. Jadi kami putuskan semua sekolah dari PAUD, SD, SMP wajib PJJ tiga hari ke depan dan dievaluasi harian sesuai SE,” tulis Manat via pesan singkat.

Krisis nasional dan ancaman kesehatan lintas wilayah

Bencana ekologis di Kalimantan ini merupakan bagian dari teka-teki krisis udara nasional yang jauh lebih kelam. Berdasarkan analisis Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) bertajuk “Choking on inaction: Indonesia’s fires led to 1,700 deaths in August — but regular air pollution even more”, polusi udara akibat karhutla di berbagai penjuru nusantara sepanjang Agustus 2026 telah merenggut 1.700 nyawa.

Analis CREA, Katherine Hasan, mengungkapkan bahwa warga di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan memikul risiko kematian tiga hingga empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan populasi di Pulau Jawa.

Peningkatan kadar partikel halus PM2,5 di wilayah Kalimantan meroket hingga enam kali lipat—dari 20 mikrogram menjadi 120 mikrogram per kubik—yang memaparkan 69 persen total populasi pada kualitas udara kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi terdampak langsung lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Ironisnya, di tengah kepungan asap beracun yang terus berulang setiap tahun, wilayah Kalimantan hingga kini tetap berdiri tanpa ditopang fasilitas rumah sakit khusus paru yang memadai.

“Asap tebal dan kabut asap lintas batas dari karhutla yang menyita perhatian publik dapat dengan mudah mengaburkan krisis polusi udara mematikan yang dihadapi masyarakat Indonesia hampir sepanjang tahun,” tegas Katherine dalam siaran pers, Senin (14/9/26).

Ia menambahkan bahwa momentum ini harus membuka peluang krusial untuk mendorong reformasi udara bersih secara menyeluruh.

Kadiskes dan Kepala BPBD Barsel belum merespons

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Barito Selatan, dr. Dadang Nugroho, yang dihubungi Beritaprioritas.com melalui pesan singkat sejak Sabtu malam (19/9/26) hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan.

Konfirmasi terkait rumah oksigen gratis, pembagian masker, vitamin, serta tips pencegahan ISPA bagi ibu hamil dan anak saat PM2,5 tinggi.

Demikian pula Kepala BPBD Barito Selatan, Agus In Yulius, yang dikonfirmasi media ini sejak Sabtu malam (19/9/26) belum merespons. Kepada Agus In Yunus, ditanyakan hal-hal terkait informasi asap kiriman dari kabupaten tetangga, kendala pemadaman di titik api terparah, serta kebutuhan paling mendesak selama perpanjangan status siaga karhutla 30 hari.

Di tengah kepungan pekatnya polusi, harapan Haqan, Anni, dan jutaan warga kini bersandar pada ketegasan aparat penegak hukum untuk menindak tegas oknum pembakar lahan demi kepentingan pribadi, agar langit Buntok dan bumi Kalimantan lekas pulih dari cekikan polusi mematikan. (P-*/ht)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan