
Psikolog klinis Kasandra Putranto. (Courtesy: Instagram/@a.kasandraputranto)PRIORITAS, 28/6/26 (Jakarta): Perilaku posesif pasangan sebaiknya diwaspadai, karena bisa jadi merupakan tanda bahaya yang mengarah pada hubungan tidak sehat.

Hal itu diungkapkan Psikolog klinis, Dra. A. Kasandra Putranto. “Dalam psikologi hubungan, perilaku tersebut dapat menjadi tanda bahaya yang mengarah pada hubungan yang tidak sehat atau bahkan kekerasan dalam hubungan,” kata Kasandra, sebagaimana dilansir dari Antara Minggu (28/6/26) yang menghubungi Kasandra pada Rabu (24/6/26).
Disampaikan Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu bahwa hubungan yang sehat dibangun atas dasar rasa hormat, kepercayaan, dan penghargaan terhadap batasan pribadi masing-masing.
“Kalau salah satu pihak mulai mendominasi dan mengurangi otonomi pihak lain, maka hubungan pasangan itu bisa jadi tidak lagi sehat,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam konsep kontrol koersif, individu yang berperilaku posesif dapat secara bertahap membatasi kebebasan pasangan dengan melakukan pengawasan, isolasi sosial, intimidasi, sampai pengaturan aktivitas sehari-hari.
“Pada tahap awal, perilaku ini sering tampak sebagai perhatian, misalnya selalu ingin mengetahui keberadaan pasangan, meminta laporan setiap aktivitas, atau menunjukkan pengungkapan berlebihan dengan alasan khawatir,” ucapnya.
Pentingnya memahami perilaku posesif
Pada bagian lain keterangannya Kasandra mengemukakan pentingnya memahami perilaku posesif, yang wujudnya seringkali halus dan kadang disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang, karena bisa mengarah pada kekerasan.
Perilaku posesif, tambahnya, tidak selalu mengarah pada kekerasan fisik. “Individu dengan perilaku posesif juga bisa melakukan kekerasan psikologis seperti memanipulasi, menyampaikan ancaman terselubung, dan mengendalikan aktivitas,” lanjutnya.
Dikatakannya, individu dengan perilaku posesif bisa secara bertahap mengendalikan korban sampai korban merasa tidak mampu mengambil keputusan sendiri.
“Karena terjadi secara bertahap, korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam hubungan yang mengandung unsur kekerasan,” katanya.
Seperti ramai diberitakan dalam dua pekan belakangan ini, terjadi kekerasan terhadap seorang perempuan berusia 29 tahun selama tiga tahun disekap dan dianiaya oleh kekasihnya di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Perempuan yang dilaporkan hilang kontak dengan keluarga sejak tahun 2023 itu ditemukan dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah selama sekitar tiga tahun disekap dan dianiaya secara kejam oleh sang pacar. (P-*/rwt)

