Lompat ke konten
Jumat, 16 Oktober 2026
Breaking
INTERNASIONALBisnisPertanianINFOGRAFIK

Membaca Peluang Manado dalam Bisnis Kelapa Dunia Pasca World Coconut Day 2026

Semuel Muhaling11 menit baca
Bagikan
World Coconut Day 2026
Infografis: World Coconut Day 2026 yang berlangsung pada 7–10 Oktober di Manado membuka peluang pengembangan industri, investasi, dan perdagangan kelapa Sulawesi Utara ke pasar global.

Catatan Semuel Muhaling

(Jurnalis Berita Prioritas)

DARI Bumi Nyiur Melambai, kelapa bukan lagi sekadar hasil kebun. Perhelatan internasional World Coconut Day 2026 yang berhasil menghadirkan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai negara membuka peluang bagi Manado untuk memperkuat perdagangan, investasi, industri pengolahan, hingga pariwisata berbasis kelapa. Tantangannya kini adalah mengubah pertemuan global menjadi keuntungan nyata bagi petani dan perekonomian daerah.

Perhelatan kelas dunia di Manado pada 7–10 Oktober 2026 ini memiliki arti lebih dari sekadar penyelenggaraan sebuah agenda internasional. Kota yang selama ini dikenal sebagai pintu gerbang pariwisata Sulawesi Utara itu menjadi titik pertemuan para pemangku kepentingan industri kelapa dunia melalui World Coconut Day 2026.

Lebih dari 1.000 peserta terdaftar dari berbagai negara berkumpul dalam kegiatan yang berlangsung di Courtyard by Marriott Manado. Pemerintah, peneliti, pelaku industri, pengusaha, petani, investor, serta organisasi internasional bertemu untuk membicarakan masa depan komoditas yang telah lama menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di kawasan tropis tersebut.

Menurut laporan resmi International Coconut Community (ICC), penyelenggaraan World Coconut Day 2026 berhasil dituntaskan pada 10 Oktober. Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan, promosi inovasi, dan penjajakan kerja sama dalam rantai nilai kelapa global.

Bagi Manado, keberhasilan itu bukan semata-mata tentang kelancaran acara dan kehadiran delegasi asing. Perhelatan tersebut menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih strategis: setelah para peserta kembali ke negara masing-masing, sejauh mana peluang bisnis yang terbuka dapat dimanfaatkan Sulawesi Utara?

Lebih dari 1.000 Peserta dari 27 Negara 

World Coconut Day 2026 mengangkat tema Coconut in Times of Uncertainty: Securing Food, Energy, and Livelihoods, yang berarti kelapa di tengah ketidakpastian untuk menjamin pangan, energi, dan penghidupan masyarakat.

Tema ini mencerminkan perubahan cara dunia memandang kelapa. Komoditas tersebut tidak lagi hanya diposisikan sebagai bahan baku santan, minyak goreng, atau kopra, tetapi juga sebagai sumber berbagai produk industri, bahan berbasis hayati, dan peluang pengembangan energi terbarukan.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik melaporkan bahwa kegiatan ini menghadirkan delegasi dari 27 negara. Sebelum acara berlangsung, panitia memproyeksikan sekitar 500 peserta konferensi internasional dan menyiapkan 60 stan pameran.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan membuka kegiatan tersebut pada 8 Oktober 2026, didampingi Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus. Kehadiran pemerintah pusat dan pemerintah daerah memperlihatkan bahwa pengembangan kelapa mulai mendapat perhatian sebagai bagian dari agenda ekonomi strategis nasional.

Rangkaian kegiatan meliputi konferensi internasional pada 8–10 Oktober, pameran pada 7–9 Oktober, pertemuan bisnis, serta kunjungan lapangan pada 10 Oktober. Melalui agenda tersebut, peserta dapat membahas perkembangan pasar, perdagangan internasional, investasi, produktivitas perkebunan, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengembangan produk turunan kelapa.

Penyelenggaraan bersama ICC dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memberikan kesempatan bagi daerah untuk memperkenalkan potensi perkebunan sekaligus memperluas jaringan dengan pembeli, investor, dan perusahaan pengolahan dari berbagai negara.

Namun, besarnya jumlah peserta belum otomatis berarti investasi telah terealisasi. Keberhasilan ekonomi kegiatan semacam ini perlu dinilai melalui tindak lanjut yang terukur, mulai dari kontrak perdagangan, investasi baru, pengembangan teknologi, hingga peningkatan pendapatan pekebun.

Pentingnya Kelapa bagi Sulawesi Utara

Potensi kelapa Sulawesi Utara sebenarnya telah ditopang oleh basis perkebunan yang luas. Data Dinas Perkebunan Daerah yang diberitakan Antara pada 3 Mei 2025 mencatat luas areal tanaman kelapa di provinsi ini mencapai sekitar 264.677 hektare, dengan produksi 266.053 ton dan produktivitas sekitar 1.248 kilogram per hektare.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kelapa merupakan salah satu komoditas penting bagi perekonomian daerah. Perkebunan rakyat menjadi penopang utama, sekaligus sumber penghidupan bagi banyak keluarga di wilayah pesisir dan pedesaan.

Data yang sama memperkirakan jumlah petani pengolah kelapa mencapai 198.434 orang. Sementara itu, areal yang telah menghasilkan tercatat sekitar 213.059 hektare. Terdapat pula sekitar 22.376 hektare tanaman yang belum menghasilkan atau masuk kategori tua dan rusak.

Persoalan tanaman tua, produktivitas, dan kesinambungan pasokan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Industri pengolahan membutuhkan bahan baku dalam jumlah memadai, dengan kualitas dan harga yang dapat diprediksi. Tanpa dukungan dari sektor hulu, peluang ekspansi industri justru berisiko terhambat.

Gambaran nilai ekonominya terlihat dari ekspor. Wakil Gubernur Sulawesi Utara Victor Mailangkay, sebagaimana diberitakan Antara Manado , menyebut nilai ekspor produk turunan kelapa pada 2024 mencapai sekitar Rp2,55 triliun atau 89,49 persen dari nilai ekspor Sulawesi Utara yang dimaksud dalam laporan tersebut.

Komoditas yang diekspor mencakup minyak kelapa, kelapa parut, bungkil kelapa, air kelapa, minyak kelapa mentah, santan, tepung kelapa, dan tempurung kelapa.

Angka ini memperlihatkan bahwa kelapa telah menjadi bagian penting dari perdagangan luar negeri Sulawesi Utara. Akan tetapi, besarnya nilai ekspor produk turunannya perlu diikuti peningkatan pasokan bahan baku, efisiensi produksi, serta pembagian manfaat ekonomi yang lebih baik bagi petani.

Data tersebut berasal dari pemberitaan 2025 mengenai kinerja 2024, sehingga tidak boleh dibaca sebagai angka realisasi terbaru setelah World Coconut Day 2026.

Dari Kopra Menuju Industri Bernilai Tambah Tinggi

Selama bertahun-tahun, kehidupan ekonomi perkelapaan di banyak daerah Indonesia sangat dipengaruhi oleh perdagangan kopra dan bahan mentah. Pola tersebut tetap penting, tetapi peluang nilai tambah yang lebih besar berada pada pengolahan menjadi produk dengan pasar dan kegunaan yang lebih beragam.

Kelapa dapat dikembangkan menjadi minyak kelapa, minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO), santan kemasan, air kelapa siap minum, tepung kelapa, kelapa parut kering, arang tempurung, karbon aktif, hingga berbagai produk berbasis sabut.

Masing-masing produk membutuhkan teknologi, standar mutu, modal, dan akses pasar yang berbeda. Karena itu, strategi pengembangan industri tidak cukup hanya dengan memperluas kebun. Daerah perlu membangun ekosistem yang menghubungkan petani, pengumpul, koperasi, industri pengolahan, lembaga pembiayaan, laboratorium pengujian, dan eksportir.

Dalam pembukaan World Coconut Day 2026, Zulkifli Hasan menegaskan pentingnya sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha. Pengembangan kelapa, menurut pemerintah, perlu bergerak dari penjualan bahan mentah menuju produk olahan yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.

Komitmen tersebut sejalan dengan pandangan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang menempatkan peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan pekebun, inovasi, pengolahan, dan pemasaran sebagai bagian dari satu ekosistem.

BPDP juga menyoroti bahwa lebih dari 99 persen perkebunan kelapa Indonesia dimiliki pekebun rakyat. Artinya, keberhasilan industri seharusnya tidak hanya diukur dari peningkatan ekspor atau keuntungan perusahaan, tetapi juga dari membaiknya kesejahteraan orang-orang yang menghasilkan bahan bakunya.

Bagi Sulawesi Utara, hal ini membuka ruang bagi tumbuhnya usaha kecil dan menengah yang memproduksi makanan, minuman, kosmetik berbahan kelapa, serta produk rumah tangga dan kerajinan. Jika dibangun dengan standar mutu dan jaringan pemasaran yang tepat, usaha-usaha tersebut dapat memperluas lapangan kerja di luar sektor perkebunan.

Peluang Manado Jadi Gerbang Perdagangan Kelapa

Manado memiliki modal untuk mengambil peran sebagai simpul bisnis perkelapaan. Kota ini mempunyai fasilitas perhotelan, jasa, komunikasi, dan penyelenggaraan pertemuan yang dapat mendukung kegiatan bisnis internasional. Kedekatannya dengan wilayah-wilayah penghasil kelapa di Sulawesi Utara juga memberikan keuntungan dalam membangun hubungan antara produsen dan pasar.

Meski demikian, Manado tidak harus menjadi lokasi seluruh perkebunan dan pabrik pengolahan. Peran yang lebih realistis adalah menjadi pusat perdagangan, pemasaran, pembiayaan, promosi investasi, konsultasi teknis, serta pertemuan antara produsen dan pembeli.

Dalam model ini, kebun tetap berada di daerah penghasil, sementara pengolahan dapat dikembangkan di lokasi yang paling efisien dari segi bahan baku, energi, tenaga kerja, dan transportasi. Manado berperan menghubungkan semua mata rantai tersebut dengan jaringan bisnis nasional maupun internasional.

World Coconut Day 2026 memberi kesempatan untuk membangun jaringan tersebut. Pertemuan bisnis atau business-to-business (B2B) yang menjadi bagian kegiatan memungkinkan pelaku usaha menjajaki kemitraan, mengenali kebutuhan pembeli, dan mempelajari standar produk yang berlaku di pasar tujuan.

Namun, jaringan yang terbentuk harus dipelihara setelah acara selesai. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi basis data produsen dan eksportir, katalog produk kelapa Sulawesi Utara, pertemuan dagang berkala, serta pendampingan sertifikasi dan perizinan.

Peluang berikutnya adalah menjadikan Manado sebagai lokasi promosi produk kelapa yang terintegrasi dengan pariwisata. Pameran, festival produk lokal, demonstrasi pengolahan, dan paket kunjungan ke sentra perkebunan berpotensi mempertemukan pelaku usaha dengan wisatawan sekaligus calon pembeli.

Akan tetapi, gagasan tersebut membutuhkan perencanaan dan pengukuran hasil. Posisi Manado sebagai gerbang bisnis kelapa tidak terbentuk hanya karena menjadi tuan rumah satu perhelatan internasional, melainkan melalui kesinambungan kegiatan perdagangan dan investasi.

Pemerintah Siapkan Pengembangan 51.721 Hektare pada 2027

Peluang industri kelapa juga mendapat dukungan dari agenda pemerintah pusat. Dalam keterangan resmi Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 8 Oktober 2026, Zulkifli Hasan menyampaikan rencana pengembangan kawasan kelapa seluas 51.721 hektare untuk 2027.

Program tersebut mencakup perluasan areal sekitar 42.721 hektare dan peremajaan tanaman seluas 9.000 hektare. Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp154,58 miliar untuk mendukung program tersebut.

Rencana ini menjadi penting karena tanaman kelapa yang sudah tua dapat memengaruhi produktivitas dan kemampuan petani memenuhi permintaan industri. Pemerintah juga menyoroti kebutuhan pengembangan varietas yang lebih cepat menghasilkan, pembibitan, dan perbaikan manajemen perkebunan.

Informasi tersebut dapat ditelusuri melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Bagi Sulawesi Utara, peluangnya adalah memastikan bahwa daerah memperoleh manfaat dari program nasional tersebut melalui usulan yang berbasis kebutuhan nyata. Peremajaan kebun, penyediaan bibit berkualitas, pelatihan budidaya, dan penguatan kelompok pekebun dapat diprioritaskan berdasarkan kondisi tanaman dan potensi produksi.

Namun, rencana nasional itu tidak otomatis berarti seluruh areal atau anggaran akan dialokasikan ke Sulawesi Utara. Pemerintah daerah tetap perlu menyiapkan data, program, dan usulan yang memenuhi kriteria pengembangan.

Di sisi industri, peningkatan produksi perlu diselaraskan dengan kapasitas pengolahan dan kepastian pasar. Jika produksi bertambah tanpa pembeli yang memadai, petani tetap berisiko menghadapi harga yang berfluktuasi. Sebaliknya, jika industri berkembang lebih cepat daripada pasokan bahan baku, kebutuhan produksi dapat kembali dipenuhi dari luar daerah.

Keseimbangan antara kebun dan industri menjadi kunci agar pengembangan kelapa benar-benar memperkuat perekonomian Sulawesi Utara.

Tantangan Berikutnya: Produktivitas, Mutu, dan Keberlanjutan

Keberhasilan World Coconut Day 2026 sekaligus mengingatkan bahwa persaingan industri kelapa dunia tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan. Produktivitas, konsistensi mutu, efisiensi pengolahan, kemampuan memenuhi pesanan, dan ketertelusuran produk menjadi semakin penting.

Sulawesi Utara perlu memperkuat peremajaan tanaman dan praktik budidaya, sekaligus meningkatkan kemampuan petani menghadapi cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Pengelolaan tanah dan air yang baik, pemilihan varietas sesuai kondisi setempat, serta pendampingan teknis dapat membantu menjaga keberlanjutan produksi.

Industri juga perlu memperhatikan pemanfaatan hasil samping. Sabut, tempurung, air kelapa, dan sisa pengolahan memiliki potensi ekonomi jika diolah menggunakan teknologi yang sesuai. Pendekatan ini dapat mengurangi limbah sekaligus membuka sumber pendapatan baru.

Pada saat yang sama, investasi harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat sekitar, kepastian bahan baku, perlindungan lingkungan, dan kelayakan ekonomi. Pabrik baru tidak akan berkelanjutan jika pasokan tidak stabil atau petani tidak memperoleh harga yang layak.

Koperasi dan kemitraan antara petani dengan industri dapat menjadi bagian dari solusi. Melalui kelembagaan yang kuat, petani memiliki peluang memperbaiki posisi tawar, mendapatkan akses pembiayaan, serta memperoleh pendampingan untuk memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan pembeli.

Pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia usaha dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Fokusnya bukan sekadar menghasilkan produk baru, melainkan memastikan produk tersebut mempunyai pasar, memenuhi standar, dan mampu memberikan keuntungan yang wajar bagi seluruh mata rantai.

Dari Perhelatan 4 Hari Menuju Manfaat Jangka Panjang

World Coconut Day 2026 telah memberikan Manado panggung internasional. Lebih dari 1.000 peserta terdaftar, delegasi dari 27 negara, konferensi, pameran, pertemuan bisnis, serta kunjungan lapangan menjadi modal awal untuk memperluas kerja sama perkelapaan.

Akan tetapi, ukuran keberhasilan sesungguhnya baru terlihat dalam bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya. Apakah pertemuan itu menghasilkan kontrak pembelian? Apakah investor benar-benar menanamkan modal? Apakah kapasitas pengolahan meningkat? Apakah petani memperoleh harga yang lebih baik? Dan apakah produk kelapa Sulawesi Utara semakin dikenal di pasar internasional?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan data yang terbuka dan evaluasi berkala. Pemerintah daerah dapat mengembangkan indikator tindak lanjut, seperti jumlah kemitraan yang berjalan, nilai perdagangan yang terealisasi, investasi yang masuk, jumlah pelaku usaha yang memperoleh akses pasar, dan perubahan pendapatan pekebun.

Dengan cara itu, World Coconut Day tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi menjadi titik awal program pengembangan industri yang memiliki sasaran jelas.

Manado memiliki peluang untuk tumbuh sebagai gerbang bisnis kelapa yang menghubungkan perkebunan Sulawesi Utara dengan pasar dunia. Modalnya tersedia dalam bentuk basis produksi daerah, pengalaman ekspor produk turunan, jaringan bisnis yang mulai terbuka, dan perhatian pemerintah terhadap pengembangan kelapa.

Namun, peluang tersebut hanya akan menjadi kenyataan jika pemerintah, petani, industri, lembaga pembiayaan, dan perguruan tinggi bergerak dalam arah yang sama. Perbaikan produktivitas harus berjalan beriringan dengan pengolahan, akses pasar, dan pembagian nilai tambah yang lebih adil.

Pada akhirnya, keberhasilan World Coconut Day 2026 tidak semestinya hanya dikenang dari banyaknya tamu yang datang ke Manado. Ukuran terpentingnya adalah seberapa jauh momentum internasional itu mengubah potensi kelapa menjadi usaha yang tumbuh, pekerjaan yang tercipta, ekspor yang berkelanjutan, serta kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Dari Bumi Nyiur Melambai, masa depan industri kelapa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pohon yang tumbuh, tetapi juga oleh kemampuan mengolah setiap peluang menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan. (Dari berbagai sumber) ***

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami