
Momentum Kebangkitan industri kelapa Indonesia. (Istimewa/AI)PRIORITAS, 15/6/26 (Jakarta): Industri kelapa Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang kuat. Menjelang pelaksanaan 1st Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026** pada 8–11 Juli 2026 di Medan, minat pelaku usaha nasional maupun internasional terus meningkat. Sejumlah perusahaan besar dari dalam dan luar negeri telah memastikan partisipasi mereka dalam forum yang digadang-gadang menjadi momentum penting revitalisasi industri kelapa nasional.
Perusahaan besar mulai melirik sektor kelapa
Melansir Media Perkebunan, beberapa perusahaan nasional yang telah menyatakan komitmen untuk hadir antara lain kelompok usaha Triputra melalui PT Etam Bersama Lestari, Sambu Group melalui PT Riau Sakti United Plantation dan PT Pulau Sambu, PT Sari Segar Husada, serta Musim Mas dan Minamas Plantation. Kehadiran para pemain besar tersebut dinilai menjadi sinyal positif bahwa sektor kelapa mulai dipandang sebagai industri strategis dengan prospek bisnis yang menjanjikan.
Selama ini, komoditas kelapa kerap berada di bawah bayang-bayang komoditas perkebunan lain yang lebih berkembang. Padahal Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia dengan luas perkebunan mencapai sekitar 3,3 juta hektare yang sebagian besar dikelola petani rakyat.

Menariknya, antusiasme terhadap IICCE 2026 justru lebih dahulu datang dari luar negeri. Perusahaan-perusahaan asal India, Pakistan, Sri Lanka, Filipina hingga Swedia telah menyatakan keikutsertaan mereka dalam konferensi dan pameran internasional tersebut.
Salah satu peserta internasional yang akan tampil adalah perusahaan teknologi asal Swedia, Alfa Laval. Perusahaan yang dikenal sebagai penyedia teknologi pemrosesan berstandar food grade itu akan memperkenalkan berbagai inovasi yang dapat membantu industri kelapa Indonesia meningkatkan kualitas produk hilir dan daya saing di pasar global.
Sekretaris Jenderal Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Hendra J. Purba, menilai meningkatnya minat perusahaan nasional merupakan perkembangan yang sangat penting bagi masa depan industri kelapa Indonesia. Menurutnya, keterlibatan perusahaan-perusahaan besar menunjukkan bahwa kelapa tidak lagi dipandang sebagai komoditas tradisional semata, melainkan sebagai sektor yang memiliki peluang besar untuk tumbuh melalui hilirisasi dan inovasi produk.
Hendra menegaskan, selama beberapa tahun terakhir perhatian terhadap potensi kelapa Indonesia justru lebih banyak datang dari luar negeri. Karena itu, meningkatnya partisipasi perusahaan dalam negeri menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kelapa.
Penyelenggaraan IICCE 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan TPOMI 2026 turut menunjukkan dukungan ekosistem perkebunan yang lebih luas terhadap pengembangan industri kelapa nasional. Menurut Hendra, keberhasilan industri sawit membangun rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir dapat menjadi inspirasi bagi transformasi sektor kelapa Indonesia.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan baku. Sudah saatnya menjadi pemain utama dalam industri hilir kelapa dunia,” tegasnya.
Dengan semakin banyaknya perusahaan besar yang terlibat serta meningkatnya perhatian investor internasional, IICCE 2026 dipandang bukan sekadar konferensi, melainkan titik awal kebangkitan industri kelapa Indonesia menuju era baru yang lebih modern, bernilai tambah tinggi, dan berdaya saing global.

Potensi industri kelapa Indonesia dinilai masih sangat besar namun belum tergarap optimal. Produktivitas yang cenderung stagnan, banyaknya tanaman tua, serta masih terbatasnya pengembangan industri hilir menjadi tantangan utama yang harus diatasi.
Menurut Kementerian Pertanian, pemerintah sendiri terus mendorong percepatan hilirisasi kelapa. Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan kawasan hilirisasi kelapa mencapai 154.000 hektare pada 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas tersebut.
Melalui hilirisasi, nilai ekonomi kelapa dapat meningkat berkali-kali lipat dibandingkan hanya menjual bahan baku mentah. Produk turunan seperti santan, air kelapa, minyak kelapa, hingga berbagai produk pangan dan industri lainnya menjadi peluang besar yang masih terbuka lebar.
Mengusung tema “Stepping Forward to Revitalize Indonesian Coconut Upstream and Downstream Industries”, IICCE 2026 akan menjadi wadah kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, investor, akademisi, peneliti, pelaku industri, hingga mitra internasional untuk membahas pengembangan industri kelapa dari hulu hingga hilir.
Forum ini juga akan mendorong pembahasan mengenai peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, penguatan kelembagaan petani, penerapan teknologi modern, serta pengembangan industri pengolahan bernilai tambah tinggi. (P-*r/sm)

