PRIORITAS, 15/10/26 (Jakarta):Β Pemerintah terus menyusun strategi jitu demi mendongkrak ekspor Indonesia ke level tertinggi. Melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pemerintah resmi memetakan potensi peningkatan ekspor di empat pasar tradisional utama, yakni China, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan India.
Langkah ini ditempuh dengan cara mengidentifikasi selisih (export gap) antara nilai ekspor saat ini dan potensi maksimal yang sebenarnya masih bisa dikembangkan di negara-negara mitra tersebut.
βPemerintah memandang perkembangan ini perlu direspons melalui penguatan strategi ekspor berbasis komoditas dan pasar," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (14/10/26), dilansir dari Antara Kamis (15/10/26).
Airlangga menambahkan, pendekatan ini dilakukan dengan membidik komoditas berkapasitas ekspor tinggi, memetakan kesenjangan pasar dengan kebutuhan impor negara mitra, serta mengurai hambatan yang dihadapi oleh para pelaku usaha nasional.
Rincian potensi 'Export Gap' di 4 pasar utama
Berdasarkan hasil pemetaan komprehensif pemerintah, total potensi export gap yang masih bisa dikejar dari keempat negara tersebut sangat fantastis, yakni mencapai lebih dari 50 miliar dolar AS (atau setara lebih dari Rp700 triliun).
Berikut adalah tabel rincian nilai potensi export gap beserta komoditas unggulan yang paling dicari di masing-masing negara tujuan:
|
Negara Mitra |
Potensi Export Gap |
Komoditas Unggulan yang Berpotensi Ditingkatkan |
|
China |
31 Miliar Dolar AS |
Mineral & logam, mesin & peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, produk kimia. |
|
Amerika Serikat (AS) |
14 Miliar Dolar AS |
Produk kendaraan, mineral & logam, mesin & peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, produk kimia. |
|
India |
10 Miliar Dolar AS |
Mineral & logam, bahan kimia, mesin & elektronik, produk nabati. |
|
Jepang |
5,5 Miliar Dolar AS |
Mineral & logam, hasil laut, produk nabati, bahan kimia. |
βPemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor utama Indonesia,β tutur Airlangga.
Strategi pemerintah dorong produk bernilai tambah
Guna menangkap peluang pasar yang masih terbuka lebar tersebut, pemerintah akan mendorong penguatan ekspor dengan mempertemukan langsung kapasitas produksi dalam negeri dan kebutuhan spesifik negara tujuan. Sektor-sektor yang menjadi fokus utama meliputi pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan, hingga manufaktur.
Tidak hanya komoditas mentah, pemerintah secara agresif juga memetakan potensi ekspor untuk produk-produk hilirisasi teknologi tinggi, seperti perangkat elektronik dan peralatan telekomunikasi.
Selain itu, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memperkuat koordinasi lintas Kementerian/Lembaga (K/L) bersama para pelaku usaha.
Sinergi tersebut bertujuan untuk memangkas berbagai hambatan ekspor di lapangan, mulai dari masalah regulasi domestik, standardisasi persyaratan pasar internasional, hingga kendala teknis logistik.
Melalui eksekusi strategi ini, Menko Airlangga berharap Indonesia tidak hanya mencatat kenaikan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga berhasil memperkuat struktur ekonomi lewat diversifikasi komoditas yang bernilai tambah tinggi. (P-Ant/ht)








