PRIORITAS, 15/10/26 (Garut, Jawa Barat): Komisi X DPR RI mendorong pemerintah daerah dan para pelaku industri kreatif untuk mengoptimalkan karya film sebagai media promosi pariwisata dan kebudayaan daerah.
Pendekatan visual lewat cerita dinilai sangat efektif untuk menarik minat wisatawan berkunjung sekaligus menghidupkan ekonomi lokal.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, menyatakan bahwa potensi film pendek sangat besar jika digarap secara cerdas sejak awal. Bahkan, ia menyarankan agar setiap kepala desa mulai memanfaatkan media ini sebagai ajang promosi digital destinasi di wilayah mereka.
"Sudah pasti itu (menarik wisatawan). Makanya salah satu sarananya film pendek. Kalau cerdas dari awal, setiap kepala desa sebenarnya bisa menyediakan film pendek untuk ajang promosi," ujar Ferdiansyah usai menghadiri acara Diskusi Film dan Pemutaran Film Pendek Indonesia yang digelar Kementerian Kebudayaan RI di Cipanas, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (15/10/26).
Strategi film durasi 4 menit untuk wisata Garut
Ferdiansyah mencontohkan Kabupaten Garut yang memiliki segudang destinasi wisata unggulan dengan kearifan lokal yang kuat.
Menurutnya, promosi lewat film tidak harus berdurasi panjang, melainkan cukup berkisar antara 3 hingga 5 menit asalkan pesan yang disampaikan kuat dan menarik.
Ia mengusulkan agar dinas terkait membuat penggalan-penggalan film pendek untuk destinasi prioritas di Garut, seperti Situ Cangkuang, dan Situ Bagendit.
Namun, Ferdiansyah menekankan agar konten film tidak hanya mengeksplorasi keindahan alam atau lokasi wisatanya saja. "Misalnya jangan bicara Cangkuang-nya saja, tapi bicara keunikan aspek budayanya dan kehidupan masyarakat sekitar," tambahnya.
Tingkatkan kualitas kreator muda dan budaya kolaborasi
Diungkapkan, kegiatan diskusi yang rutin dilaksanakan bersama Kementerian Kebudayaan RI ini juga menghadirkan para praktisi film senior.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas teknis para kreator muda dan komunitas lokal dalam hal teknik penulisan skenario yang kuat, pengaturan pencahayaan (lighting), dan teknik pengambilan gambar (sinematografi).
Selain kemampuan teknis, Ferdiansyah menyoroti pentingnya membangun ekosistem kolaborasi di industri kreatif. Ia menyayangkan masih banyaknya pelaku film lokal yang cenderung bergerak sendiri-sendiri tanpa kemitraan yang solid.
"Di sini dibahas mengenai batasan-batasan produksi bersama. Nah, kolaborasi ini nampaknya masih belum menjadi budaya, yang ada saat ini masih main sendiri-sendiri," ujarnya, dilansir dari Antara.
Ia menambahkan, melalui penguatan kompetensi dan kolaborasi, karya film pendek yang dihasilkan diharapkan memiliki nilai jual tinggi sekaligus menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata nasional. (P-Ant/ht)








