Lompat ke konten
Jumat, 16 Oktober 2026
Breaking
EKBISPerikanan

Ikan Tuna Ternyata Mengadung Banyak Parasit

Armin Mandika3 menit baca
Bagikan
Ikan Tuna Ternyata Mengadung Banyak Parasit
Ilustrasi ikan tuna beku.(CNBC Indonesia)

PRIORITAS, 16/10/26 (Jakarta):Β Ikan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, yaitu ikan tuna, ternyata mengandung banyak parasit.

Sebagaimana dilansir laman Kementerian Kelautan dan Perikanan, dilaporkan total serapan tuna, tongkol, dan cakalang untuk konsumsi dalam negeri pada tahun 2023 mencapai 1,57 juta ton.

Hanya saja ikan tuna berlemak yang sering diolah menjadi sashimi atau ikan kaleng, sering kali mengandung parasit. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang menemukan parasit di hampir seluruh ikan tuna yang diperiksa oleh para ahli.

Sebagaimana peneliti dari Federal University of Santa Catarina, Brasil, menganalisis 53 ekor tuna yang ditangkap di perairan setempat. Hasilnya, sebanyak 96 persen ikan ditemukan terinfeksi parasit berupa cacing.

Kemudian para peneliti menemukan lebih dari 1.600 cacing dari seluruh sampel ikan yang diperiksa. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Ocean and Coastal Research.

Lewat bantuan mikroskop, tim peneliti memeriksa berbagai organ ikan. Hanya ginjal dan jantung yang secara konsisten tidak ditemukan parasit.

Sedangkan usus menjadi organ dengan tingkat infeksi tertinggi. Setelahnya, parasit paling banyak ditemukan pada jaringan otot, yakni bagian ikan yang umumnya dikonsumsi manusia, kemudian lambung.

"Temuan ini menyoroti pentingnya pemeriksaan sanitasi," ulas para peneliti, dikutip dari ScienceAlert, sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia, Jumat (9/10/26).

Bahkan mereka juga menekankan pentingnya membuang organ dalam ikan segera setelah ditangkap. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah larva berpindah dari organ dalam menuju jaringan otot.

Ikan tuna yang diteliti merupakan spesies Katsuwonus pelamis, yang dikenal sebagai skipjack tuna, oceanic bonito, atau katsuo. Di Indonesia, jenis ini lebih dikenal sebagai ikan cakalang.

Adapun spesies tersebut memiliki nilai komersial tinggi dan merupakan jenis tuna yang paling melimpah di Brasil. Pada 2022, cakalang bahkan menjadi spesies laut ketiga yang paling banyak ditangkap di dunia, dengan volume mencapai 3,1 juta ton.

Kemudian penelitian menemukan dua kelompok cacing yang umum menginfeksi ikan tersebut, yakni Trypanorhyncha dan Anisakis. Keberadaan parasit pada ikan sebenarnya bukan fenomena baru. Ikan dan parasit telah hidup berdampingan dalam ekosistem laut selama proses evolusi yang panjang.

Hanya saja jumlah parasit yang ditemukan dalam penelitian ini serta penyebarannya ke berbagai organ ikan menjadi perhatian para peneliti.

Namun demikian, penelitian tersebut masih berskala kecil karena hanya melibatkan 53 ikan dan dilakukan pada satu periode tertentu. Sehingga hasilnya belum bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa 96 persen tuna atau cakalang di seluruh dunia terinfeksi parasit.

Sehingga konsumen tidak perlu langsung membuang tuna kalengan yang ada di rumah. Infeksi pada manusia akibat larva Trypanorhyncha tergolong jarang. Selain itu, tidak semua spesies Anisakis diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Bahkan sebagian besar parasit juga tidak lagi berbahaya setelah mati melalui proses pemasakan atau pengalengan. Risiko lebih besar muncul ketika ikan yang mengandung spesies parasit tertentu dikonsumsi mentah atau tidak dimasak dengan sempurna.

Hanya parasit yang masih hidup dapat menempel pada dinding saluran pencernaan manusia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sejumlah gangguan pencernaan, mulai dari sakit perut, mual, muntah hingga diare.

Bahkan industri makanan laut umumnya melakukan pemeriksaan sebelum ikan dijual kepada konsumen. Parasit yang terlihat akan dibuang dalam proses pengolahan.

"Di luar potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia, parasit dapat mengurangi daya jual dan nilai produk makanan laut karena implikasinya terhadap keamanan dan kualitas pangan, menurunkan kepercayaan konsumen, serta menyebabkan kerugian ekonomi bagi industri perikanan," urai para peneliti.(P-*/am)




Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami