PRIORITAS, 16/10/26 (Jakarta): Penurunan terburuk dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sejarah pasar modal Indonesia sejak krisis tahun 1998.
Sebagaimana perdagangan pada Jumat (16/10/26), IHSG ambruk sebesar 11,57 persen ke level 5.199,96, menjadi penurunan harian terdalam dalam 28 tahun terakhir.
Dari data Refinitiv, dilansir dari CNBC Indonesia, penurunan IHSG kali ini bahkan lebih tajam dibandingkan saat krisis keuangan global 2008, ketika indeks pernah mengalami penurunan 10,38 persen dalam sehari.
Adapun kejatuhan yang lebih dalam terakhir kali terjadi pada 8 Januari 1998, saat IHSG ambruk hingga 11,95 persen di tengah krisis moneter.
Untuk tekanan kali ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kekhawatiran terhadap dampaknya pada aliran dana asing turut membayangi perdagangan saham domestik.
Selama hampir tiga dekade terakhir, IHSG beberapa kali mengalami penurunan harian lebih dari 10 persen, mulai dari krisis moneter 1998, tragedi Bom Bali 2002, hingga krisis keuangan global 2008.
Selanjutnya lima penurunan harian IHSG terbesar berdasarkan data Refinitiv periode Januari 1998 hingga 16 Oktober 2026.
Untuk penurunan harian terbesar IHSG dalam periode tersebut terjadi pada 8 Januari 1998. Saat itu, indeks anjlok 11,95 persen dan ditutup pada level 347,11 di tengah krisis moneter yang melanda Indonesia.
Adapun kejatuhan IHSG terjadi bersamaan dengan merosotnya nilai tukar rupiah yang kehilangan sekitar 26 persen nilainya terhadap dolar AS dalam sehari.
Bahkan tekanan jual begitu besar hingga IHSG sempat terperosok sekitar 19 persen sepanjang perdagangan, sebelum memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.
Dampaknya kepanikan investor semakin meningkat setelah pemerintah mengumumkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 1998/1999 yang dinilai belum mampu menjawab persoalan ekonomi saat itu. Kekhawatiran terhadap kelanjutan program penyelamatan ekonomi bersama Dana Moneter Internasional (IMF) turut memperburuk kepercayaan pasar dan memicu aksi jual saham secara besar-besaran.
Kurang lebih 28 tahun berselang, IHSG kembali mengalami penurunan harian dua digit. Pada perdagangan Jumat (16/10/26), indeks merosot 11,32 persen ke level 5.199,96, menjadi kejatuhan terdalam sejak Januari 1998.
Tak sama dengan krisis moneter 1998, tekanan kali ini terjadi di tengah kekhawatiran terhadap posisi Indonesia dalam indeks saham global.
Aksi ini menyusul kekhawatiran pelaku pasar terhadap kurangnya transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta lemahnya penegakan aturan di pasar modal.
Kalau rencana tersebut direalisasikan, saham-saham Indonesia berpotensi dikeluarkan dari sejumlah indeks global MSCI yang selama ini menjadi acuan investasi berbagai pengelola dana internasional.
Kemudian, sebelum kejatuhan pada 2026, salah satu penurunan terbesar IHSG terjadi pada 8 Oktober 2008. Saat itu, indeks merosot 10,38 persen ke level 1.451,67 sebelum perdagangan dihentikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ketika itu, krisis keuangan global sedang mengguncang pasar dunia setelah kebangkrutan Lehman Brothers pada September 2008. Kekhawatiran terhadap kondisi lembaga keuangan dan perlambatan ekonomi global memicu aksi jual di berbagai bursa saham, termasuk Indonesia.
Kemudin penghentian perdagangan dilakukan untuk meredam kepanikan investor dan mencegah tekanan jual yang lebih besar. Bursa kemudian tetap ditutup pada beberapa hari perdagangan berikutnya sebelum kembali dibuka pada 13 Oktober 2008.
Adapun kejatuhan besar lainnya terjadi pada 14 Oktober 2002, ketika IHSG anjlok 10,36 prsen hingga ditutup pada level 337,48.
Untuk penurunan tersebut terjadi pada hari perdagangan pertama setelah tragedi Bom Bali pada 12 Oktober 2002. Peristiwa yang menewaskan ratusan orang itu mengguncang Indonesia sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi keamanan dan kegiatan ekonomi nasional.
Kondisi pasar saham langsung bereaksi negatif ketika perdagangan kembali dibuka pada Senin (14/10/2002). Investor mengkhawatirkan dampak serangan tersebut terhadap sektor pariwisata, investasi, serta kepercayaan internasional terhadap Indonesia.
Masalahnya tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian setelah peristiwa tersebut.
Selanjutnya krisis keuangan global 2008 tidak hanya sekali membuat IHSG mencatatkan penurunan harian lebih dari 10 persen.Dua hari sebelum kejatuhan pada 8 Oktober, IHSG lebih dahulu anjlok 10,03 persen ke level 1.648,74 pada perdagangan Senin (6/10/2008).
Untuk penurunan tersebut terjadi ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka perdagangan setelah libur panjang Lebaran. Selama bursa domestik tutup, pasar saham global terus mengalami tekanan akibat memburuknya krisis keuangan di Amerika Serikat (AS).
Saat perdagangan kembali dibuka, kekhawatiran terhadap dampak krisis global langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia. Investor semakin khawatir terhadap kondisi ekonomi dunia, terutama setelah krisis sektor keuangan AS mulai berdampak pada pasar keuangan di berbagai negara.(P-*/am)
Β








