Kalahkan salmon, ikan sidat ternyata punya omega-3 tertinggi di dunia

Khalied Malvino
Minggu, 4 Januari 2026
IPTEK Riset 0 786
3 menit membaca

PRIORITAS, 4/1/26 (Jakarta): Selama ini salmon dianggap raja Omega-3 dunia. Faktanya, ikan dengan kandungan Omega-3 tertinggi justru berasal dari Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap ikan sidat sebagai pemilik kadar DHA dan EPA paling tinggi, melampaui salmon dan ikan gabus.


Temuan ini disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Gadis Sri Haryani. Ia menegaskan bahwa asumsi publik selama ini keliru karena sidat memiliki profil gizi yang jauh lebih unggul.

“Selama ini kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Gadis dalam Seminar Penguatan Tata Kelola dan Hilirisasi Industri Sidat Sebagai Dasar Perumusan Kebijakan Nasional Perikanan Berkelanjutan, dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu (3/1/26).

Sidat tercatat mengandung Omega-3 (DHA dan EPA) paling tinggi, sekaligus kaya vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, fosfor, dan kalori. Kandungan DHA berperan krusial dalam perkembangan serta fungsi otak manusia, sedangkan EPA berfungsi menjaga kesehatan jantung dan menekan peradangan.


Di balik nilai gizinya yang tinggi, sidat menyimpan tantangan besar dari sisi kelestarian. Gadis menilai pengelolaan berbasis sains mutlak diperlukan agar eksploitasi berlebihan tidak mengancam populasi sidat di alam. Terlebih, sidat merupakan komoditas perikanan strategis dengan nilai ekonomi tinggi bagi Indonesia.

Secara biologis, sidat tergolong spesies kritis dengan siklus hidup katadromus. Artinya, sidat memijah di laut dalam, lalu bermigrasi menuju perairan payau dan air tawar.

“Katadromus artinya telur dan larva sidat berasal dari laut, berbentuk leptocephalus yang pipih, transparan, dan tidak bisa berenang,” ujar Gadis.

Dalam perjalanan menuju muara sungai, larva tersebut berubah menjadi glass eel atau sidat kaca sebelum akhirnya tumbuh di perairan tawar. Siklus yang melibatkan tiga ekosistem—laut, estuari, dan sungai—membuat sidat sangat rentan terhadap gangguan lingkungan.

Tekanan pasar memperparah situasi. Penangkapan glass eel liar yang masif, degradasi lingkungan muara, gangguan jalur migrasi, hingga perubahan musim panen membuat populasi sidat terancam dan pasokan industri tidak stabil.

“Ketersediaan glass eel memicu fluktuasi harga ekstrem. Bahkan, ada kondisi ketika hasil tangkapan tidak terserap industri karena kapasitas hatchery sudah penuh,” jelas Gadis.

Untuk menekan eksploitasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerbitkan kebijakan pembatasan kuota penangkapan glass eel serta menetapkan ukuran minimal ekspor sidat 150 gram per ekor. Kebijakan ini bertujuan menjaga populasi liar sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui pembesaran di dalam negeri.

Namun, implementasinya belum sepenuhnya optimal. Tantangan masih datang dari keterbatasan fasilitas pembesaran, ketergantungan pakan impor, hingga lemahnya pengawasan dan koordinasi antar pemangku kepentingan.

Gadis menegaskan, tata kelola ekologi harus menjadi fondasi hilirisasi industri sidat. Ini mencakup penerapan rencana aksi nasional, konservasi berbasis bukti ilmiah, serta perlindungan fungsi alami ekosistem perairan.

“Transformasi harus diarahkan dari sekadar mengekspor bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tinggi melalui budidaya dan industri pengolahan sidat,” ujarnya.

Menurutnya, ketahanan ekologi dan ekonomi hanya bisa tercapai jika populasi sidat terjaga, industri stabil, dan Indonesia mampu bersaing di pasar global tanpa mengorbankan kelestarian sumber daya alam.

“Pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab akan menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga masa depan ekosistem laut dan air tawar Indonesia,” tandasnya. (P-Khalied M)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan