Darurat ebola landa Kongo: Semakin sulit dibendung, 8.067 kasus terkonfirmasi dan 3.901 kematian

Jeffry Wuisan
Senin, 28 September 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 28/9/26 (New York): United Nations (UN) atau Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan, peringatan darurat akibat masih merebaknya kasus penyakit ebola di Republik Demokratik Kongo, yang kini mencapai 8.067 kasus terkonfirmasi dan 3.901 kematian.


“Menurut data otoritas kesehatan yang diterbitkan pada hari Senin, laporan situasi terbaru mencatat 8.067 kasus terkonfirmasi dan 3.901 kematian, sehingga tingkat kematian kasus mencapai 48,4 persen”, demikian pernyataan PBB, hari Senin (28/9/26).

World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia memperingatkan wabah masih terus ditandai dengan penularan yang berkelanjutan.

WHO mencatat dari lebih 8 ribu kasus, hanya sebanyak 2.070 pasien dapat pulih.


Virus Ebola ini juga ikut menjangkiti 202 tenaga kesehatan setempat yang bertugas menangani pasien dan korban.

Laporan per 20 September 2026 menyebutkan sebanyak 47 tenaga kesehatan meninggal akibat tertular virus Ebola di Kongo.

Menurut WHO, jumlah kasus baru yang dilaporkan setiap hari tetap tinggi, sementara intensitas penularan sangat bervariasi di berbagai provinsi dan zona kesehatan yang terdampak.

“Tingkat kematian terus tinggi terjadi di masyarakat, menyoroti keseriusan penyakit ini dan tantangan dalam deteksi kasus tepat waktu serta akses ke perawatan pasien yang dini dan memadai,” jelas WHO.

Provinsi Ituri tetap menjadi pusat wabah, tetapi pola penularan terus berbeda.

Provinsi lain naik

Insiden di provinsi Ituri telah menurun secara bertahap dari puncaknya pada pertengahan Agustus.

Sebaliknya Provinsi Kivu Utara mengalami peningkatan substansial tertinggi yang dilaporkan pada pertengahan September 2026 ini.

Penularan berkelanjutan juga terus terjadi di Provinsi Haut-Uele, sementara aktivitas penularan baru telah dilaporkan di Provinsi Tshopo.

Wabah tersebut kini telah memengaruhi 63 zona kesehatan di tujuh provinsi.

WHO mengatakan perluasan geografis terbaru, termasuk daerah yang baru terdampak di Sud-Ubangi dan Haut-Uele, telah meningkatkan risiko penularan lintas batas.

Kasus Ebola terbesar

Pihak WHO menyatakan virus Ebola yang menyerang Kongo ini adalah jenis Bundibugyo.

Sejak terdeteksi pada bulan Mei, wabah Bundibugyo ini telah berkembang menjadi kasus Ebola terbesar dan paling mematikan yang pernah tercatat di Kongo.

Wabah Ebola itu juga terbesar kedua di dunia, setelah epidemi Afrika Barat pada 2014-2016.

Pada 15 Mei 2026, WHO mengumumkan peringatan merah Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional atas virus Ebola Bundibugyo di Kongo ini.

Wabah Ebola ini adalah yang ke-17 di negara itu sejak virus tersebut pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976.

Saat ini, belum ada vaksin berlisensi atau terapi yang disetujui secara khusus untuk penyakit virus Bundibugyo.

WHO dan para mitranya mendukung upaya penelitian serta pengembangan yang dipercepat untuk mengevaluasi kandidat vaksin termasuk terapi investigasi. (P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan