PRIORITAS, 24/8/26 (Kinshasa): Penyebaran virus Ebola di Republik Demokratik Kongo masih sulit dibendung. Saat ini kasus terkonfirmasi sudah 5.514 terjangkit dengan 2.642 orang tewas.
Wabah Ebola strain Bundibugyo ini mulai terdeteksi pada 15 Mei 2026 lalu.
Penyebarannya sangat cepat dan dalam waktu tiga bulan telah menyebabkan lebih 5.500 kematian.
World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia hari Senin (24/8) memberi peringatan wabah tersebut masih sulit dibendung setelah lebih dari 100 hari terdeteksi.
WHO juga menyatakan epidemi ini telah menjadi wabah dengan pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat.
"Wabah ini telah mencapai momen yang menentukan," kata Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Janabi, dalam sebuah pernyataan.
Kantor kemanusiaan PBB (OCHA) sebelumnya menyebut kasus Ebola di bagian timur Republik Demokratik Kongo ini, berpotensi menjadi yang paling mematikan, karena menewaskan satu orang setiap 30 menit.
Kematian masih tinggi
Data resmi terbaru menyebut tingkat kematian kasus Ebola masih tinggi mencapai 47,9 persen, meski sebanyak 1.200 pasien bisa diselamatkan.
Rata-rata, sekitar 90 kasus terkonfirmasi tercatat setiap hari selama tiga bulan pertama pengawasan.
Angka ini jauh lebih tinggi daripada yang diamati selama periode yang sama pada epidemi 2014-2016 di Afrika Barat dan epidemi 2018-2020 di Republik Demokratik Kongo.
Wabah tersebut telah menyebar ke 57 zona kesehatan di provinsi Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, Bas-Uele, dan Tshopo.
"Pilihan yang kita buat sekarang akan menentukan seberapa cepat kita dapat mengendalikan wabah ini, melindungi, dan menyelamatkan nyawa", kata Janabi.
Menurut WHO, provinsi Ituri tetap menjadi pusat penyebaran, menyumbang sekitar 85 persen dari semua kasus dan 79 persen dari kematian.
Masalah deteksi dini
Kematian yang terjadi di luar pusat perawatan Ebola tetap menjadi perhatian utama.
WHO mengatakan tingkat kematian di masyarakat yang enggan melakukan tes kesehatan di fasilitas medis, menyumbang sekitar 60 persen dari total kematian yang tercatat dalam beberapa minggu terakhir.
Ini menunjukkan adanya masalah yang terus berlanjut terkait deteksi dini, rujukan, dan akses ke pengobatan.
Organisasi tersebut mengatakan ketidakamanan, konflik bersenjata berulang, pengungsian penduduk, serangan terhadap fasilitas kesehatan, keengganan masyarakat dan akses yang sulit, terus menghambat operasi, khususnya di DRC bagian timur.
"Kita dapat mengendalikan wabah Ebola, tetapi hanya melalui peningkatan tindakan di komunitas yang terdampak," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Ia menyerukan sumber daya yang berkelanjutan dan kerja sama lebih kuat antara otoritas nasional dan lokal, komunitas terdampak serta mitra internasional.
WHO telah meningkatkan kapasitas respons secara signifikan sejak wabah dimulai.
Jumlah laboratorium yang mampu melakukan pengujian Ebola telah meningkat dari satu menjadi 19, dengan kapasitas untuk memproses lebih dari 3.000 sampel per hari.
Kapasitas perawatan juga telah meningkat dari kurang dari 10 tempat tidur menjadi lebih dari 1.300.
Ada harapan baru, karena
uji klinis terhadap potensi pengobatan dan evaluasi kandidat vaksin Ebola juga sedang berlangsung.
WHO menyatakan tes diagnostik molekuler pertama untuk penyakit virus Bundibugyo, yang telah dimasukkan dalam daftar penggunaan darurat, telah diterapkan.
WHO telah mengerahkan lebih dari 260 ahli dan mengirimkan lebih dari 330 ton pasokan medis serta logistik penting, termasuk mengalokasikan US$5,6 juta untuk mendanai operasi darurat.(P-*/jw)








