Lompat ke konten
Kamis, 15 Oktober 2026
Breaking
NASIONALEnergi & Sumber DayaPemerintahan

Kebutuhan Air Bersih, AHY: Jadi Ancaman Serius

Armin Mandika2 menit baca
Bagikan
Kebutuhan Air Bersih, AHY: Jadi Ancaman Serius
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono saat memimpin raoat.(CNBC Indonesia)

PRIORITAS, 15/10/26 (Jakarta): Akses air bersih di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Ketergantungan terhadap air tanah masih sangat tinggi.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sekitar 70 persen kebutuhan air bersih warga dan 90 persen kebutuhan air baku industri masih dipenuhi dari air tanah. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah karena penggunaan air tanah secara berlebihan dapat memperparah penurunan permukaan tanah atau land subsidence.

"70 persen air bersih warga dan 90 persen air baku industri masih diambil dari air tanah. Ini yang sebetulnya menjadi alarm yang harus kita antisipasi. Kalau tidak, land subsidence semakin buruk dan Pantura semakin terancam," jelas AHY dalam Rapat Koordinasi Swasembada Air Nasional di kantornya, dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis (15/10/26).

Tak hanya ketergantungan terhadap air tanah, AHY menyoroti terbatasnya akses air minum di pulau-pulau kecil. Ia memaparkan, hanya sekitar 5,64 persen pulau kecil berpenghuni yang telah memiliki Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

"Pulau-pulau kecil yang rawan krisis air itu bisa dilihat, ini faktanya adalah hanya kurang lebih 6 dari 100 pulau kecil yang berpenghuni yang punya SPAM. Berarti kalau dipersentase hanya kurang lebih 5,64 persen," ungkapnya.

Selain keterbatasan tersebut juga berdampak pada mahalnya harga air di pulau-pulau kecil. AHY menyebut harga air di wilayah tersebut dapat mencapai tiga hingga lima kali lipat dari rata-rata nasional.

"Lalu harga airnya, ini 3 sampai 5 kali lipat dari rata-rata nasional. Jadi mereka itu bisa mengeluarkan Rp15.000 sampai Rp25.000 per liter. Jadi jauh lebih mahal," jelasnya.

Pihak pemerintah menilai persoalan ini perlu ditangani melalui penguatan akses air minum serta pengelolaan sumber daya air yang lebih terukur, agar kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa memperburuk kondisi lingkungan.(P-*/am)

 

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami