Wabah Ebola mengganas di Kongo, Lebih 2000 orang tewas

Jeffry Wuisan
Sabtu, 15 Agustus 2026
5 menit membaca

PRIORITAS, 15/8/26 (Kinshasa): Wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kini semakin mengganas dan menyebar ke 6 provinsi. Sebanyak 2.214 orang telah tewas di tengah peringatan penularan yang terus terjadi.


Laporan yang dirilis otoritas kesehatan DRC pada Jumat waktu setempat,
kasus orang yang positif terjangkit terkonfirmasi juga meningkat menjadi 4.727 korban.

Menurut United Nations (PBB) dalam pembaruan seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Sabtu ini (15/8), World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, mengatakan rantai penularan tersembunyi Ebola itu dipicu pasien yang mencapai stadium lanjut tanpa pernah menerima perawatan.

“Kematian masih terjadi di luar fasilitas kesehatan dan rantai penularan yang diketahui, sementara beberapa pusat perawatan kini kewalahan”, lapor WHO.


Wabah ebola kali ini tercepat dalam sejarah, yang dipicu varian langka, Bundibugyo, dan belum memiliki obatnya.

Laporan tersebut menyebutkan wabah tersebut telah memengaruhi 55 zona kesehatan Kongo di provinsi Bas-Uele, Haut-Uele, Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Tshopo, dengan Ituri tetap menjadi pusat penyebarannya.

Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Jean Kaseya, mengatakan satu orang yang positif mengidap Ebola telah melakukan perjalanan dari Isiro di Haut-Uele yang berdekatan ke Buta, dan meninggal di sana kemudian.

Orang itu diduga sudah menyebarkan penyakit Ebola ke warga lain, namun tidak terdeteksi.

Dari hampir 5 ribu orang terinfeksi baru 976 orang dinyatakan pulih sejak awal epidemi.

Otoritas kesehatan memperingatkan penularan komunitas masih terus berlanjut.

Celah dalam pelacakan kontak dapat memperpanjang epidemi Ebola terbesar kedua di dunia yang pernah tercatat.

Pelacakan rumit

Kaseya mengatakan lebih dari 63 persen kematian akibat Ebola saat ini terjadi di masyarakat, bukan di pusat perawatan atau rumah sakit.

Kematian di masyarakat semakin memperumit upaya penanggulangan, karena otoritas kesehatan mungkin tidak mengetahui siapa saja yang melakukan kontak dengan orang terinfeksi sebelum atau setelah kematian.

Hal itu membuat pelacakan kontak dan pemakaman yang aman serta bermartabat menjadi lebih sulit.

Laporan pemerintah terbaru menyebutkan tingkat pelacakan kontak mencapai 82,6 persen. Namun, Africa CDC menyatakan proporsi kontak terdaftar yang dilacak tidak dengan sendirinya mencerminkan efektivitas pelacakan kontak, jika banyak kontak yang tidak pernah teridentifikasi sejak awal.

Angka-angka tersebut menunjukkan pengawasan berbasis komunitas dan identifikasi kontak perlu diperkuat.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sebagian besar kematian terus terjadi di tengah masyarakat.

Sementara banyak kasus baru terdeteksi di antara orang-orang yang tidak ada dalam daftar kontak yang ada, menunjukkan beberapa rantai penularan belum teridentifikasi.

“Ini sudah menjadi epidemi Ebola terbesar kedua yang pernah tercatat, dan penyebarannya lebih cepat daripada wabah Ebola sebelumnya,” kata Tedros dalam konferensi pers di Jenewa.

“Dengan laju saat ini, wabah ini berpotensi melampaui wabah Ebola di Afrika Barat tahun 2014 hingga 2016,” ia memperingatkan.

Epidemi Ebola di Afrika Barat tahun 2014-2016, menjadi wabah terbesar yang pernah tercatat, menginfeksi lebih dari 28.600 orang dan menewaskan 11.325 orang.

Penularan dan gejala

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, virus Ebola adalah penyakit menular yang sangat mematikan pada manusia, disebabkan infeksi virus dari genus Orthoebolavirus (famili Filoviridae).

Penyakit ini pertama kali muncul di Afrika pada tahun 1976 dan sering memicu wabah di wilayah sub-Sahara, menyebabkan kerusakan organ serta perdarahan internal maupun eksternal,  dengan tingkat kematian yang tinggi.

Penyebaran virus Ebola dapat terjadi dari hewan ke manusia (Zoonosis), melalui kontak langsung saat menyembelih, memasak, atau mengonsumsi daging hewan liar yang terinfeksi.

Penularan antar-manusia terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh (seperti urin, air liur, keringat, feses, muntahan, air mani, atau ASI) dari orang yang sakit atau yang telah meninggal akibat Ebola.

Benda yang terkontaminasi virus juga bisa sumber penularan, jika orang lain memegang atau kontak dengan pakaian, alat tidur, jarum suntik, atau peralatan medis yang tercemar cairan tubuh penderita.

Meski virus Ebola tidak menyebar melalui udara seperti flu atau COVID-19, namun cairan atau darah yang terinfeksi dapat masuk ke dalam tubuh orang lain melalui kulit yang terluka atau selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut.

Gejala klinis orang terinfeksi Ebola (Ebola virus disease/EVD) biasanya muncul tiba-tiba setelah masa inkubasi 2–21 hari (rata-rata 8–10 hari) setelah terpapar virus.

Gejala awal sering bersifat nonspesifik (“gejala kering”) dan bisa mirip malaria, flu, demam tifoid, atau infeksi bakteri lain, sehingga diagnosis dini sulit tanpa riwayat paparan.

Gejala lanjut setelah 4–5 hari sakit (wet symptoms) biasanya terjadi gangguan gastrointestinal seperti mual, muntah, diare berair hebat (bisa sangat banyak), nyeri perut.

Penderita juga mengalami ruam kulit (maculopapular, biasanya di leher, batang tubuh, lengan bisa mengelupas).

Mata merah/iritasi (conjunctival injection)
Nyeri dada, sesak napas
Bingung, delirium, atau kejang (lebih jarang)
Cegukan (hiccups)
Pada wanita hamil bisa terjadi keguguran spontan

Perdarahan tidak selalu muncul (dilaporkan sekitar 40% kasus atau kurang di beberapa wabah). Jika terjadi, biasanya di tahap lanjut.

Gejala bisa berkembang ke syok, gagal organ multiple, dan kematian dengan tingkat fatalitas rata-rata sekitar 50%, bervariasi 25–90% tergantung wabah dan perawatan.

Perawatan suportif dini (rehidrasi, penanganan gejala) sangat meningkatkan peluang bertahan hidup.
Orang yang terinfeksi tidak menularkan sebelum gejala muncul.

WHO dan CDC memperingatkan jika ada kecurigaan paparan (seseorang melakukan perjalanan ke daerah endemis Afrika sub-Sahara, atau kontak dengan cairan tubuh penderita), segera cari pertolongan medis dan perlu isolasi diri. (P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan