
Dalam pidatonya, Selasa (24/2/26), Donald Trump memaparkan arah kebijakan dan agenda pemerintahan yang akan dijalankan ke depan. Ini menjadi pidato kenegaraan pertama Trump pada masa jabatan keduanya. (‘Courtesy’ detiknews/Reuters/Kenny Holston)PRIORITAS, 3/5/26 (Washington): Soal ketiadaan pemimpin di Teheran, dan keinginan kuat Iran untuk ajukan kesepakatan karena situasi domestiknya yang kian tertekan kembali disinggung Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sembari memperingatkan kemungkinan dilakukannya kembali serangan militer terhadap negara tersebut jika dinilai memicu eskalasi konflik lagi.

Adapun pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan saat berada di Florida, baru-baru ini.
Trump juga menyebut peluang serangan tetap terbuka apabila Iran “berperilaku buruk” atau melakukan tindakan yang dianggap membahayakan kawasan.
“Jika mereka berperilaku buruk atau melakukan sesuatu yang tidak baik, ada kemungkinan itu bisa terjadi. Tetapi untuk saat ini, kita lihat saja,” tegas Trump dilansir dari Al-Jazeera.

Kebingungan dalam kepemimpinan
Kemudian Trump juga mengeklaim posisi Amerika Serikat saat ini cukup kuat dalam menghadapi Iran.
Disebutnya, Teheran tengah berada dalam kondisi tertekan dan ingin mencapai kesepakatan secepatnya.
“Mereka ingin membuat kesepakatan karena mereka sudah sangat terpukul,” kata Trump, dikutip Beritasatu.com.
Bahkan ia menyebut Iran mengalami kebingungan dalam kepemimpinan. Lalu Trump menambahkan, pemimpin tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei, sudah tidak lagi berkuasa sekarang.
“Mereka kesulitan menentukan siapa pemimpinnya. Mereka tidak tahu siapa yang memimpin saat ini,” tambahnya.
Tunggu Iran resmi ajukan proposal
Di samping itu, Trump mengungkapkan Iran telah mengirimkan proposal kesepakatan yang terdiri dari 14 poin.
Tapi, ia menyebut detil lengkap dari dokumen tersebut masih menunggu penyampaian resmi dari pihak Iran.
“Mereka sudah menyampaikan konsep kesepakatan. Sekarang mereka akan memberikan rumusan lengkapnya,” ujarnya lagi.
Mainkan perang kata-kata via media
Sementara itu, pengamat Timur Tengah dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran saat ini masih mengalami kebuntuan.
Kedua pihak, menurutnya, lebih banyak menunjukkan sikap saling tekanan di ruang publik dibandingkan melakukan dialog serius.
“Keduanya seperti sedang memainkan perang kata-kata. Mereka perlu lebih serius,” ujar Vatanka dalam wawancara dengan Al-Jazeera secara terpisah.
Karenanya ia menyarankan pembicaraan tidak terus dilakukan melalui media, melainkan difokuskan pada isu utama yang menjadi sumber ketegangan itu.
“Fokus utamanya adalah Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran,” katanya lagi.
Lalu Vatanka juga menilai penyelesaian konflik membutuhkan pendekatan bertahap untuk membangun kepercayaan antara kedua pihak.
Diingatkannya, kesepakatan besar dalam waktu singkat sulit terwujud mengingat panjangnya sejarah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
“Jangan berharap ada kesepakatan besar atau perjanjian non-agresi dalam waktu dekat. Hubungan yang telah memburuk selama puluhan tahun tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat,” ujar Alex Vatanka. (P-*r/Bst/jr)

