
Potret udara menunjukkan kebun warga Lubuk Beringin dengan latar perbukitan Lubuk Raya. Lanskap “Bujang Raba” berperan penting bagi hidrologi dan ekosistem Jambi, sekaligus menjadi ruang pertanian berkelanjutan yang sejak puluhan tahun ditanami durian, jernang, pinang, karet, dan lainnya. (Courtesy: Adi Renaldi/Project M. Indonesia via pulitzercenter.org)Oleh: Ahmad Arbani (Jurnalis Beritaprioritas.com di Kalimantan Tengah)

PRIORITAS, 29/9/26 (Palangkaraya, Kalteng): Di tengah kepenatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rutin mendera wilayah-wilayah penyangga di Kalimantan dan Sumatra, secercah optimisme justru lahir dari sebuah desa di Kabupaten Bungo, Jambi.
Model penjagaan hutan berbasis kesadaran kolektif warga kini dilirik pemerintah pusat sebagai resep ampuh meredam amuk si jago merah sekaligus mendatangkan kesejahteraan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni secara terbuka menyebut kawasan Lanskap Bujang Raba di Jambi sebagai “oase” di tengah lelahnya upaya memadamkan karhutla yang melanda Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan.

“Di tengah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di mana-mana, ada satu hal yang membuat kita bangga, senang, sekaligus optimis,” ujar Menhut dalam keterangannya melalui siaran pers Kemenhut, Selasa (29/9/26).
Menurutnya, kunci utama menyelamatkan hutan bukan sekadar instruksi normatif, melainkan ketika masyarakat desa diberdayakan dan dilibatkan secara nyata.

Kondisi danau luas saat musim kemarau panjang, kini sebagian berubah menjadi daratan, seperti terjadi di Danau Malawen terletak di Desa Pamait, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. (Beritaprioritas.com/Ahmad Arbani)
Langkah transformatif yang disorot Menhut ini sejatinya lahir dari kepahitan masa lalu. Kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur—yang kini dikenal sebagai Lanskap Bujang Raba seluas ±7.292 hektare—pernah mengalami masa kelam akibat pembalakan liar dan kebakaran hebat.
Namun, kesadaran mengubah nasib menyatukan 1.183 kepala keluarga yang terbagi dalam lima Hutan Desa: Lubuk Beringin, Laman Panjang, Buat, Sungai Telang, dan Senamat Ulu. Didampingi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, warga bahu-membahu menjaga tutupan hutan tetap lestari.
Hasilnya kini berbuah manis. Tidak hanya mengembalikan ekosistem sungai yang jernih dan mendongkrak pariwisata lokal, Bujang Raba bertransformasi menjadi model perdagangan karbon Perhutanan Sosial.
Dengan persetujuan penerbitan unit karbon mencapai 238.281 ton setara karbon dioksida (ton CO2e), potensi ekonomi dari penjualan karbon di kawasan ini diperkirakan bisa meraup hingga Rp30 miliar.
“Kalau menebang mendapat keuntungan, dan menjaga juga mendapat keuntungan, pasti lebih enak menjaga. Itu yang kita pastikan bersama, bahwa masyarakat mendapat sesuatu dari menjaga hutan,” tegas Raja Juli.
Bagi Kementerian Kehutanan, keberhasilan di Bujang Raba membuktikan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan formula ganda: pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat tapak yang dikombinasikan dengan penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu.
Pendekatan serupa rencananya akan diperkuat melalui pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), yang nantinya akan bersinergi erat dengan Masyarakat Peduli Api (Manggala Agni).
Sebagai wujud dukungan konkret, Kementerian Kehutanan juga bersiap mengirimkan tambahan peralatan pemadam kebakaran ke lima hutan desa di Lanskap Bujang Raba.
Kini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana mereplikasi model “oase” tersebut ke wilayah-wilayah rawan karhutla berskala luas—terutama di lahan-lahan gambut Sumatra dan Kalimantan—sehingga penanganan kebakaran hutan tidak lagi sekadar memadamkan api yang telanjur berkobar, melainkan merawat akar rumput untuk menjaga kelestarian alam secara permanen. (P)

