
Buah Kelapa Dalam Bido yang ada di Morotai dan Minahasa dari bibit unggul berkualitas yang dapat dipanen setelah ditanam 2-3 tahun.(brmp palma mapanget)PRIORITAS, 22/1/26 (Jakarta): Program hilirisasi kelapa di Indonesia yang mulai gencar dilakukan pemerintah untuk membangkitkan kembali kejayaan kelapa, sebaiknya jangan sembarang memakai bibit, agar benar-benar dapat meningkatkan produktifitas secara nasional.

“Bibit kelapa berkualitas tinggi hanya datang dari kebun induk yang baik dan berkualitas”, jelas Profesor Hengky Novarianto, yang pernah mengepalai Badan Penelitian Kelapa (Balitka) Mapanget, Sulawesi Utara, kepada Beritaprioritas.com, hari Kamis (22/1/2026)
Menurut Consultant of Coconut Development itu, program hilirisasi komoditi kelapa Indonesia yang dicanangkan seluas 500.000 ha selama 3 tahun (2025-2027), membutuhkan bibit sebanyak 50 juta bibit kelapa berkualitas.
Ironisnya jika dilihat dari potensi data bibit 34 varietas Kelapa Dalam, yang telah dilepas Kementrian Pertanian (Kementan) RI sampai tahun 2025, hanya memiliki potensi sekitar 3 juta bibit.

Itupun tersebar di berbagai Provinsi, dan merupakan kelapa rakyat yang dimiliki sekian petani kelapa dalam satu hamparan desa dan atau kecamatan.
Kebun induk yang baik
Untuk mendukung kebutuhan bibit kelapa bagi program hilirisasi tersebut, maka melalui Direktorat Perbenihan Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan RI, telah dilakukan penambahan Pohon Induk Terpilih (PIT) Kelapa Dalam sebagai sumber benih bersertifikat.
PIT itu diambil dari seluruh Kabupaten dan Provinsi yang memiliki varietas Kelapa Dalam unggul pada tahun 2025.
Informasi dari Direktorat Perbenihan Perkebunan, pada saat ini telah tersedia sebanyak 20 juta bibit Kelapa Dalam.
Teknologi penyediaan bibit Kelapa Dalam melalui seleksi Pohon Induk Terpilih dalam Blok Penghasil Tinggi (BPT) adalah metode pemuliaan yang telah diterapkan sejak lama dan tidak berubah sampai sekarang.
“Seharusnya untuk jangka panjang bibit Kelapa Dalam berkualitas tinggi wajib dari Kebun Induk Kelapa Dalam. Kebun induk harus dibangun sesuai dengan kaidah pembangunan kebun induk kelapa yang baik”, katanya.
Ia menjelaskan, kebun induk untuk kelapa unggul itu, juga harus menerapkan pemilihan varietas yang baik dan benar, termasuk sumber benih kelapa.
Selain itu, perkecambahan, pembibitan, penanaman di kebun induk, sampai pemeliharaan harus menerapkan sesuai dengan budidaya kelapa terbaik.
“Tetapi sampai saat ini belum ada Kebun Induk Kelapa Dalam yang seperti itu”, ungkapnya.
Perbaiki pengadaan bibit
Ia menekankan, produksi dan produktivitas kelapa Nasional akan lebih cepat meningkat, jika memperbaiki strategi pengadaan bibit Kelapa Dalam yang selama ini hanya bergantung dari sumber benih PIT.
Berdasarkan ilmu Pemuliaan maka bibit Kelapa Dalam yang berasal dari PIT dan bercampur dengan yang bukan PIT dalam satu hamparan BPT, maka secara genetik jadi tidak murni.
Hal seperti itu sulit dihindari apalagi karakteristik Kelapa Dalam yang bersifat heterozygote, karena pola persilangan yang cenderung menyerbuk silang.
Ia menilai, secara teori kelapa dari Blok Penghasil Tinggi tersebut memang dapat dimurnikan dengan cara melakukan seleksi massa negatif. Tapi pada kenyataannya banyak masyarakat pemilik kelapa atau petani, tidak mau menebang kelapa tersebut meskipun bukan Pohon Induk Terpilih.
“Menebang dan mengganti rugi dengan dana tertentu, tidaklah mudah. Bayangkan jika dalam hamparan BPT terdapat 10.000 pohon kelapa, lalu hasil seleksi PIT sebanyak 20% atau 2.000 pohon, maka kelapa yang bukan PIT harus ditebang sebanyak 8.000 pohon. Hitung sendiri ganti rugi yang harus disiapkan, belum peremajaannya”, paparnya.
Seleksi massa positif
Profesor Hengky menyebutkan, alternatif strategi yang lebih memungkinkan diterapkan adalah seleksi massa positif.
Artinya, sumber bibit kelapa diseleksi dari PIT terbaik dan akan digunakan sebagai bibit untuk Pembangunan Kebun Induk Kelapa Dalam.
Pembangunan Kebun Induk misalnya dilakukan di setiap Kabupaten/Provinsi yang memiliki varietas kelapa Dalam unggul.
Luas kebun induk kelapa bisa dimulai dari 5-10 ha sesuai ketersediaan lahan, dana dan kesesuaian lokasi.
“Tantangannya siapa yang akan membiayai dan membangun kebun induk ini. Selama ini dihimbau pemerintah daerah yang melepas varietas agar membangun kebun induk, tapi kenyataan tidak berjalan”, katanya.
Ia berharap mungkin ke depan, jika ada komitmen dan keseriusan pemerintah pusat dan daerah, bisa dibangun bekerjasama dengan kelompok tani kelapa dan swasta.
Sesuai perhitungannya, jika bibit Kelapa Dalam yang bersumber dari PIT dalam BPT dan diseleksi sebanyak 20 persen, maka kenaikan produksi pada turunan bibit kelapa ini diperkirakan hanya sekitar 5 persen.
“Meski begitu, jika bibit kelapa berkualitas tinggi bersumber dari Kebun Induk Kelapa Dalam yang dibangun sistimatis dan sesuai budidaya yang baik, maka produktivitas Kelapa Dalam dari turunan bibit kelapa ini akan lebih tinggi dari pada bibit Kelapa Dalam dari PIT dalam BPT”, tekannya.(P-Jeffry W)

