
Harga tomat di pasar Gorontalo Utara naik. (Ilustrasi/AI)PRIORITAS, 29/9/26 (Gorontalo Utara): Harga tomat di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, mulai mengalami kenaikan. Perubahan harga tersebut terjadi di tengah berkurangnya pasokan tomat yang masuk ke pasar dan meningkatnya harga pembelian dari tingkat petani.

Kenaikan harga saat ini berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram. Kondisi tersebut mulai dirasakan pedagang karena harga dari pemasok mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya.
Pedagang rempah-rempah di Pasar Tradisional Kwandang, Hengki, mengatakan harga tomat yang sebelumnya relatif seragam di kisaran Rp5.000 per kilogram kini bergerak menjadi Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya.
“Kenaikan terjadi karena harga beli di tingkat petani naik, serta suplai tomat dari pemasok ke pedagang di pasar-pasar tradisional cenderung berkurang, memicu kenaikan harga,” kata Hengki di Gorontalo Utara, Selasa (29/09).

Untuk tomat apel berukuran kecil, harga masih bertahan sekitar Rp5.000 per kilogram. Sementara tomat apel ukuran sedang naik sekitar Rp7.000 per kilogram dan kualitas super mencapai Rp8.000 per kilogram.
Menurut Hengki, perubahan harga tersebut tidak terlepas dari kenaikan harga pembelian di tingkat petani. Pada saat yang sama, pasokan tomat kepada pedagang juga mulai berkurang.
Kondisi itu membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual agar tetap dapat menutup biaya pembelian dan distribusi. Kenaikan harga juga berpotensi berlanjut apabila produksi tomat di sentra petani kembali mengalami penurunan.
Pedagang lainnya, Sari Yamin, membenarkan adanya kenaikan harga tersebut. Ia mengatakan pedagang tidak dapat mempertahankan harga lama karena harga dari pemasok sudah lebih tinggi.
Sari mengatakan permintaan masyarakat terhadap tomat sebenarnya masih dalam kondisi normal. Namun, berkurangnya pasokan akibat penurunan produksi membuat harga di tingkat pasar ikut bergerak naik.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa harga tomat di Gorontalo Utara masih sangat terpengaruh kondisi produksi dan kelancaran distribusi dari daerah pemasok. Perubahan di tingkat petani dapat dengan cepat berdampak terhadap harga yang harus konsumen bayar.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo Utara, Ajuba Thalib, mengatakan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap distribusi pangan, termasuk komoditas hortikultura yang beredar di pasar tradisional.
Di Gorontalo Utara terdapat 17 pasar tradisional yang tersebar di 10 dari 11 kecamatan. Tomat jenis apel menjadi salah satu komoditas yang banyak beredar dan sebagian pasokannya dari luar daerah.
Selain berasal dari wilayah Provinsi Gorontalo, tomat yang dijual di pasar-pasar tradisional Gorontalo Utara juga dipasok dari sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
Ajuba mengatakan permintaan tomat saat ini masih relatif terkendali. Komoditas tersebut lebih banyak untuk kebutuhan rumah tangga. Tetapi bukan termasuk bahan pangan yang paling dominan karena masih bisa digantikan dengan bahan lainnya.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap memantau perkembangan harga dan distribusi agar perubahan pasokan tidak berkembang menjadi lonjakan harga yang membebani masyarakat.
Berdasarkan kondisi pasokan saat ini, harga tomat di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram kemungkinan masih bertahan hingga akhir Desember 2026. Namun, perkembangan tersebut tetap bergantung pada produksi petani, kelancaran distribusi, serta jumlah pasokan yang masuk ke pasar.
Pergerakan harga tomat ini juga menjadi bagian dari dinamika harga pangan di Gorontalo Utara. Sebelumnya, komoditas lain seperti bawang merah juga mengalami variasi harga akibat tingginya harga di tingkat distributor. (P-*/Ant/sm)

