Wabah ebola di Kongo tewaskan 2.325 orang, jadi yang terparah dalam sejarah

Giovanni Riung
Selasa, 18 Agustus 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 18/8/26 (Kongo): Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menewaskan sebanyak 2.325 jiwa. Jumlah korban meninggal ini resmi melampaui rekor tragedi tahun 2018–2020 lalu. Lembaga kesehatan publik setempat mencatat total kasus terkonfirmasi kini telah melonjak hingga 4.945 orang. Lebih lanjut, penularan gelombang ke-17 ini bergerak jauh lebih cepat daripada wabah-wabah sebelumnya. Oleh karena itu, lonjakan kasus harian membuat fasilitas medis setempat makin kewalahan.

Ancaman varian baru tanpa vaksin

Sementara itu, lonjakan kasus fatal ini terjadi akibat penyebaran virus Ebola spesies Bundibugyo. Sampai saat ini, para ilmuwan belum menemukan vaksin maupun obat resmi untuk menembak varian tersebut.

Selain itu, angka kematian pasien terkonfirmasi merangkak naik hingga menyentuh 46 persen. Kendala infrastruktur medis serta minimnya pelacakan kontak memperparah kondisi pasien di lapangan. Akibatnya, banyak warga baru mendatangi rumah sakit setelah berada dalam kondisi kritis.

Orang-orang yang mengenakan alat pelindung menurunkan peti jenazah berisi jasad Jeannine Katusabe, yang meninggal akibat Ebola, ke dalam liang lahat saat prosesi pemakaman di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo bagian timur, Selasa, 11 Agustus (Dieudonne Dirole/BBC).

Upaya penanganan dan kesiapan negara tetangga

Di sisi lain, Uganda berhasil mengendalikan penyebaran virus di wilayah perbatasan mereka. Pihak berwenang Uganda sukses membatasi penularan sehingga hanya mencatat dua kasus kematian sebelum menutup status darurat. Namun, situasi di dalam wilayah Kongo sendiri masih membutuhkan penanganan ekstra ketat. Oleh sebab itu, berbagai organisasi kesehatan internasional mulai menerjunkan tim medis serta menguji coba obat eksperimental.

Pada akhirnya, kerjasama global menjadi kunci utama untuk meredam penyebaran virus mematikan ini. Masyarakat lokal perlu mendapatkan edukasi mengenai bahaya penularan cairan tubuh secara langsung. Pemerintah setempat kini berjuang keras memperkuat penanganan medis demi menyelamatkan lebih banyak nyawa warga. (P-Gio R)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025