Menakar langkah politik Victor Mailangkay

Sem Muhaling
Sabtu, 3 Oktober 2026
4 menit membaca

Oleh Stefan Obadja Voges *)

PANGGUNG politik Sulawesi Utara (Sulut) baru saja terkejut dengan keputusan besar dari salah satu tokoh seniornya. Dr Johannes Victor Mailangkay, SH, MH, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Utara, secara resmi menyatakan mundur dari Partai Nasional Demokrat (NasDem). Surat pengunduran diri tersebut diserahkannya langsung kepada Ketua Umum NasDem Surya Paloh di ‘NasDem Tower’, Jakarta.

Langkah berani ini memicu diskusi hangat. Di satu sisi, Victor Mailangkay adalah potret politisi dengan rekam jejak birokrasi dan legislatif yang sangat panjang. Di sisi lain, muncul stigma klasik yang sering disematkan padanya: sebagai politisi senior, ia kerap dinilai “kurang menjual” secara elektoral – (padahal, fakta lapangan jauh panggang dari api, Red) – jika dibandingkan dengan figur-figur populis yang lebih lihai memikat massa.

Mengapa anggapan ini muncul, dan bagaimana kita harus melihat sosok Victor Mailangkay di tengah dinamika politik Sulut hari ini?

Rekam jejak panjang: Kekuatan di ruang sidang

Lahir di Makassar pada 20 September 1957, Victor Mailangkay bukanlah orang baru. Ia adalah saksi hidup sekaligus pelaku sejarah politik Sulut. Memulai karier politiknya bersama Golkar selama lebih dari tiga dekade (1982–2018), ia kemudian berlabuh ke NasDem pada 2018 dan melaju sehingga berhasil mendapatkan kepercayaan menjabat sebagai Ketua DPW Partai NasDem Sulut.

Karier legislatifnya membentang dari DPRD Kota Manado, DPRD Sulut hingga menjadi Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulut. Puncaknya, ia berhasil menduduki kursi eksekutif sebagai Wakil Gubernur Sulut mendampingi Gubernur Yulius Selvanus Komaling.

Melihat portofolio tersebut, tidak perlu meragukan kapasitas Victor sebagai seorang teknokrat dan konseptor kebijakan. Latar belakang pendidikan hingga jenjang S3 (doktor hukum) membuatnya lebih populer. Baik sebagai pemikir, negosiator di balik meja, maupun politisi yang taat asas.

Alasan label “kurang menjual” kerap menempel

Di era politik modern yang sangat bertumpu pada pencitraan dan media sosial, gaya berpolitik Victor Mailangkay memang tampak kontras. Ia bukanlah tipe politisi yang gemar memproduksi kontroversi demi mendulang engagement, atau melempar janji-janji populis di hadapan kamera.

Ada beberapa faktor mengapa (oleh segelintir elite, Red) banyak yang menilai, ia ‘kurang memiliki daya jual elektoral’ yang masif:

1. Gaya komunikasi yang formal dan serius: Sebagai seorang pakar hukum, pendekatan Victor cenderung normatif dan berbasis regulasi. Bagi sebagian pemilih awam yang menyukai gaya komunikasi santai, berapi-api, atau jenaka, gaya Victor mungkin terasa kurang menghibur.

2. Kekuatan jaringan elit vs massa akar rumput: Kekuatan utama Victor terletak pada kemampuannya mengonsolidasikan organisasi dan membangun struktur partai. Namun, dalam kontestasi langsung yang membutuhkan popularitas instan, figur yang mengandalkan kerja-kerja senyap seperti dirinya sering kali kalah pamor dari figur berkarakter showman.

3. Lebih kuat sebagai “nomor dua” atau konseptor: Posisinya sebagai Wakil Ketua DPRD atau kini sebagai Wakil Gubernur menegaskan perannya yang krusial sebagai penopang sistem, roda penggerak pemerintahan, alih-alih menjadi magnet utama pencari suara.

Mundur dari NasDem: Bukti integritas atau peta baru?

Keputusan Victor untuk mundur dari jabatan Ketua DPW sekaligus kader NasDem justru memperlihatkan sisi lain dari karakter politiknya yang tegas, independen, teguh berprinsip dan idealis. Ia secara terbuka mengakui sudah tidak seirama dengan cara kerja Ketua DPP NasDem sekaligus Komando Wilayah Sulut, Felly Estelita Runtuwene.

Bagi seorang politisi yang mendapat label “kurang menjual,” keputusan keluar dari salah satu partai besar yang membesarkannya adalah langkah yang sangat berisiko. Namun, dari sudut pandang integritas, hal ini menunjukkan bahwa Victor Mailangkay lebih memilih memegang prinsip ketimbang mempertahankan kenyamanan fasilitas partai. Ia memilih mundur demi menjaga keharmonisan internal agar tidak terjadi perpecahan yang lebih meluas.

Kesimpulan: Politik bukan sekadar jualan kosmetik

Menilai Victor Mailangkay hanya dari kacamata “daya jual” elektoral adalah cara pandang yang tidak adil terhadap demokrasi. Pemerintahan yang sehat membutuhkan keseimbangan. Jika sebuah daerah hanya dipimpin oleh orang-orang yang mahir pencitraan tanpa memahami seluk-beluk hukum dan birokrasi, maka roda pemerintahan akan rapuh.

Victor Mailangkay barangkali bukan politisi yang memiliki jutaan pengikut fanatik di media sosial. Namun, ia adalah tipe jangkar politik—figur senior yang memastikan aturan main tetap berjalan lurus di tengah badai pragmatisme. Langkah politiknya setelah keluar dari NasDem kini dinanti, apakah ia akan berlabuh ke partai lain seperti Gerindra atau mengambil jalur baru. Satu hal yang pasti, pengalamannya yang matang tetap menjadi aset berharga bagi dinamika politik Sulawesi Utara. ***

*) Stefan Obadja Voges, SH, MH adalah seorang akademisi, praktisi hukum, pengamat politik, serta tokoh kepemudaan dan kebudayaan terkemuka asal Manado, Sulawesi Utara, juga Kolumnis Beritaorioritas.com. Ia sangat populer di kalangan masyarakat Sulawesi Utara karena kombinasi prestasinya di dunia akademik serta keaktifannya dalam industri kreatif dan berbagai organisasi kemasyarakatan.

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025