PRIORITAS, 20/10/26 (Jakarta): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bergerak cepat mengusut tuntas kasus dugaan korupsi dana siap pakai untuk penanganan bencana di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Lembaga antirasuah tersebut resmi menyita dokumen, barang bukti elektronik, uang, perhiasan, serta tiga unit mobil hasil penggeledahan di Kantor BNPB dan tujuh lokasi lainnya.
Rangkaian penggeledahan maraton tersebut berlangsung selama lima hari, tepatnya pada 15-19 Oktober 2026. Area yang disasar penyidik meliputi rumah, perkantoran, dan lokasi lain yang tersebar di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan, hingga Bekasi.
"Termasuk, Kantor BNPB yang beralamat di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, yang dilakukan penggeledahan pada Kamis (15/10)," kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, kepada awak media di Jakarta, Selasa (20/10/26), dilansir dari Antara.
Budi menambahkan, seluruh barang bukti yang disita akan dianalisis lebih lanjut. Penyidik KPK juga dijadwalkan memanggil sejumlah pihak terkait untuk dimintai konfirmasi mengenai asal-usul barang-barang tersebut.
Total sitaan awal capai Rp5,47 miliar
Sebelum penggeledahan ini, KPK telah mengamankan barang bukti bernilai fantastis saat melancarkan Operasi Tangkap Tangan (OTT). Pada 16 Oktober 2026, KPK mengumumkan penyitaan aset senilai Rp5,47 miliar yang terdiri atas pecahan mata uang asing, logam mulia, hingga aset digital.
Barang buktibtersebut meliputi uang tunai senilai Rp3,35 miliar, mata uang asing sebesar USD7.500 dan USS9.000, 56 keping emas (133 gram) senilai Rp315,8 juta, tabungan emas (192 gram) senilai Rp452 juta, serta aset kripto senilai Rp1,10 kali lipat miliar.
Seret adik kepala BNPB dan pejabat internal
Penyidikan intensif ini merupakan kelanjutan dari OTT KPK yang menjaring 15 orang pada 13 Oktober 2026. Dari operasi tersebut, lima orang telah resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Salah satu tersangka utama adalah Bima Setiawan, yang merupakan Tenaga Ahli Kepala BNPB sekaligus adik kandung dari Letnan Jenderal TNI Suharyanto (Kepala BNPB yang menjabat saat OTT berlangsung).
Empat tersangka lainnya yang turut ditahan KPK adalah Gabriel Purwaka Sigit (Pejabat Pembuat Komitmen/Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB), Richard Erlangga (Tenaga Ahli Kepala BNPB), Gery Prasetiawan (Direktur PT Trans Lintas Selaras), serta Syifa Nrika Ghifarin (Swasta).
KPK surati Panglima TNI terkait peran prajurit aktif
Selain menggeledah ruangan kerja Kepala BNPB, kasus ini juga mulai menyentuh ranah hukum militer. Mengingat posisi Kepala BNPB dijabat oleh perwira tinggi militer aktif, KPK menegaskan telah berkoordinasi dengan otoritas pertahanan.
KPK telah memberikan notifikasi resmi kepada Pusat Polisi Militer (Puspom TNI) mengenai dugaan keterlibatan Suharyanto.
Institusi penegak hukum tersebut menyatakan akan segera mengirimkan surat resmi kepada Panglima TNI guna menindaklanjuti keterlibatan prajurit TNI aktif dalam lingkaran korupsi dana bencana ini. (P-Ant/ht)








