PRIORITAS, 20/10/26 (Jakarta): Syane Loho menjadi satu-satunya penerima Anugerah Citra Perempuan Tionghoa Indonesia (CPTI) 2026 yang berasal dari luar Pulau Jawa. Lima penerima penghargaan lainnya semua berasal dari Jakarta, Surabaya, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Anugerah CPTI 2026 yang diselenggarakan Peraga Indonesia, diserahkan dalam sebuha acara megah di Ballroom Ayryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (4/10/26). Beritaprioritas.com menurunkan hasil wawancara dengan perempuan keturunan Tionghoa-Manado itu.
Menjadi bagian dari generasi kelima atau keenam keturunan Tionghoa di Indonesia tidak melunturkan sedikit pun nilai luhur leluhur di dalam diri Syane Loho. Perempuan kelahiran Manado, 9 November 1959 ini sukses membuktikan bahwa identitas kebudayaan dan dedikasi profesional dapat berjalan beriringan secara harmonis.
Dikenal luas sebagai seorang Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang berintegritas, perjalanan hidup Syane merupakan cerminan keteguhan seorang perempuan dalam menghadapi perubahan zaman.
Hormat asal usul sebuah prinsip mutlak
Tumbuh besar di kawasan pecinan Manado dalam kehangatan keluarga yang rukun dan bahagia, masa kecil perempuan yang akrab disapa Syan ini dipenuhi kenangan indah.
Meski bahasa sehari-hari yang digunakannya adalah Bahasa Manado, kedekatan rohani dan kultural terhadap leluhur tetap terjaga kuat. Hal ini berkat keberadaan altar sembahyang roh suci di rumahnya serta keyakinan teguh yang dipeluknya, agama Khonghucu.
Bagi Syane, menghormati asal-usul adalah sebuah prinsip mutlak. Kepada para kliennya, ia sering kali menegaskan sebuah pesan mendalam: "Menyangkal leluhur adalah dosa, karena tanpa mereka kita ini tidak ada."
Kenangan hangat merayakan Tahun Baru Imlek/Kongzili dengan bersembahyang lalu makan bersama kedua orang tuanya, Bapak Nyong Loho dan Ibu Wietje Sondakh, serta saudara-saudaranya, menjadi memori yang selalu ia rindukan. Terlebih, kedua orang tuanya selalu melibatkan anak-anak dalam setiap kegiatan, membentuk ikatan kekeluargaan yang begitu solid.
Titik balik menuju dunia hukum
Langkah Syane memasuki dunia hukum bermula dari sebuah peristiwa masa lalu yang menimpa keluarganya. Kala itu, tanah bersertifikat dan rumah milik orang tuanya yang dipinjamkan secara gratis kepada orang lain, justru dikuasai dan enggan dikosongkan.
Sengketa tersebut bergulir panjang hingga ke tingkat Mahkamah Agung sebelum akhirnya dimenangkan oleh orang tuanya. Pengalaman pahit inilah yang memicu tekad kuat di dalam diri Syane untuk mendalami ilmu hukum agar dapat melindungi hak-hak masyarakat.
Perjalanan akademisnya membawa Syane meraih gelar Sarjana Hukum hingga menempuh jenjang Magister (S2/Spesialis Notariat non-gelar pada masa itu).
Di masa mudanya, tantangan sebagai perempuan keturunan sempat ia rasakan, terutama ketika menghadapi birokrasi yang rumit dan cenderung mempersulit perizinan usaha orang tuanya pada era Orde Baru.
Namun, seiring waktu dan perubahan zaman, ia bersyukur bahwa perlakuan pemerintah serta masyarakat terhadap kaum Tionghoa kini sudah semakin membaik dan inklusif.
Inspirasi ibu dan prinsip "Enjoy" hidup
Dalam membentuk karakter dan ketangguhannya, Syane menyebut figur ibundanya sebagai sosok yang paling berpengaruh besar. Di bawah bimbingan sang ibu dan teladan kedua orang tuanya, Syane tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
Menjalani profesinya saat ini, ia memegang teguh prinsip hidup yang bersahaja namun mendalam: "Enjoy-lah hidup ini dan jangan jadi beban bagi orang lain."
Kini, ibu dari Tasya BPD Loho ini merasa sangat bersyukur karena segala pencapaian dalam hidupnya telah sesuai dengan harapan. Di waktu senggangnya, ia kerap menyalurkan hobi jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran.
Menatap hari tua, harapan Syane sangat mulia; ia ingin menikmati hidup yang nyaman sembari terus konsisten membantu siapapun yang pantas dibantu sepanjang ia mampu.
Dukungan untuk Citra Perempuan dan Generasi Muda Tionghoa
Sebagai salah satu penerima anugerah Citra Perempuan Tionghoa Indonesia, Syane menilai penghargaan ini sangat positif dalam memberikan motivasi dan rasa bangga atas perjuangan kaum perempuan keturunan, terutama sebagai bagian dari minoritas.
Terkait perkembangan generasi muda, ia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap ajang Miss Tionghoa Indonesia 2026. Menurutnya, ajang tahunan ini sangat edukatif, kreatif, dan mampu memberi pembekalan agar kaum muda Tionghoa siap eksis di berbagai lini kehidupan.
Secara khusus, ia menitipkan pesan menantang namun membangun untuk para peserta di masa depan. "Ke depannya, peserta harus fasih berbicara dan menulis Mandarin. Karena namanya Miss Tionghoa Indonesia, kalau tidak bisa fasih berbicara dan menulis bahasa Mandarin serta Bahasa Indonesia, apa kata dunia?" tuturnya dengan penuh semangat diakhiri tawa riang.
Bagi generasi muda perempuan Tionghoa Indonesia secara umum, sosok yang matang oleh pengalaman ini menitipkan sebuah nasihat berharga: hadapi setiap masalah, serta bekerjalah tanpa beban tetapi tetap penuh dengan rasa tanggung jawab. (P-rwt)








