Tine Waworuntu: Jejak Kartini dari utara, wali kota perempuan pertama di Manado yang nyaris dilupakan

Sem Muhaling
Selasa, 21 April 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 21/4/26 (Bitung): Di tengah gegap gempita peringatan Hari Kartini setiap 21 April, nama-nama besar perempuan Indonesia sering kembali disebut: R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, hingga generasi pemimpin perempuan masa kini.


Namun dari Manado, ada satu sosok yang kerap luput dari ingatan publik nasional. Padahal ia mencatat sejarah luar biasa: perempuan pertama menjadi wali kota, yakni di Manado, dan perempuan kedua yang menjadi wali kota di Indonesia setelah Salawati Daud.

Namanya adalah Agustine Magdalena Kandou Waworuntu.

Perempuan di kursi kepemimpinan awal republik


Kala itu tahun 1950. Indonesia baru saja melewati masa revolusi dan masih sibuk menata ulang sendi-sendi kehidupan bernegara.

Kota-kota besar, termasuk Manado, berada dalam fase pemulihan pascaperang. Infrastruktur rusak, tata kota belum stabil, dan pemerintahan lokal masih mencari bentuk terbaiknya.

Di tengah situasi itu, sebuah keputusan berani diambil: seorang perempuan ditunjuk memimpin kota.

Pada 30 September 1950, Agustine Magdalena Kandou Waworuntu resmi menjabat sebagai wali kota ketiga Manado sekaligus menjadi perempuan kedua di Indonesia dan pertama di Manado yang menduduki jabatan wali kota. Ia memimpin hingga 29 Maret 1951.

Penunjukan ini bukan sekadar peristiwa administratif. Surat kabar berbahasa Belanda kala itu menyorotnya sebagai “de eerste vrouwelijk burgemeester in Indonesia” — wali kota perempuan pertama di Indonesia.

Sebuah pengakuan internasional yang menunjukkan betapa langkanya kepemimpinan perempuan di tingkat kota pada masa itu, bahkan dalam konteks global.

Dari Minahasa ke Sorbonne

Sosok yang akrab disapa “Tine” ini bukanlah figur biasa. Ia adalah intelektual perempuan dengan cakrawala internasional.

Ia dikenal sebagai perempuan Indonesia pertama yang meraih pendidikan tinggi di Sorbonne University — sebuah pencapaian luar biasa pada awal abad ke-20, ketika akses pendidikan tinggi bagi perempuan Indonesia masih sangat terbatas.

Kemampuannya dalam berbagai bahasa asing, terutama bahasa Prancis dan Belanda, menjadikannya bagian dari generasi elite intelektual Nusantara yang berperan dalam membangun identitas bangsa di panggung global.

Kehidupan pribadi dan keteguhan

Dalam kehidupan pribadi, Tine Waworuntu menikah dengan seorang dokter, dikenal sebagai Dokter Kandou, yang pernah menjadi dokter pribadi Sultan Kutai.

Dari pernikahan itu lahir seorang anak, Frits Kandou.

Namun hidupnya tidak lepas dari duka. Suaminya meninggal dunia di Belanda saat melanjutkan studi. Sejak itu, Tine menjalani kehidupan sebagai perempuan mandiri—sesuatu yang pada masa itu masih jarang terjadi.

Agustine Magdalena Kandou Waworuntu, sedang mempelajari teknik kotapraja di Jakarta (Foto: Perpusnas)


Membangun kota, membangun bangsa

Sebagai wali kota, ia memimpin Manado dalam masa transisi penting. Walau masa jabatannya relatif singkat, perannya hadir di titik krusial: saat kota membutuhkan penataan ulang pascaperang.

Namun kontribusinya tidak berhenti di pemerintahan. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai wali kota, ia melanjutkan pengabdian di dunia pendidikan dan diplomasi budaya.

Ia pernah:
• Mengajar bahasa Prancis di Jakarta
• Menjadi dosen di Universitas Indonesia (1953–1958)
• Memimpin Alliance Française di Jakarta
•Menjadi instruktur bahasa bagi calon diplomat di Kementerian Luar Negeri
• Bergabung dalam delegasi Indonesia pada konferensi UNESCO di Paris tahun 1952

Sekembalinya ke Manado, ia tetap mengajar di IKIP Negeri Manado (kini Universita Negeri Manado, Unima), menunjukkan konsistensinya dalam dunia pendidikan hingga akhir hayat.

Sosok sederhana dengan dunia yang luas

Fi balik pencapaiannya yang mendunia, Tine dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Ia hampir selalu tampil dengan kebaya—simbol perempuan Indonesia yang anggun sekaligus kuat.

Ada pula kisah kecil yang menghangatkan: ia memelihara seekor burung kakatua yang bisa “bercakap-cakap” dalam bahasa Belanda dan Prancis. Bagi sebagian orang, itu sekadar anekdot. Namun bagi yang mengenalnya, itu mencerminkan dunia kecil di rumahnya—dunia yang sarat bahasa, budaya, dan kecintaan pada pengetahuan.

Warisan yang terlupakan?

Agustine Magdalena Kandou Waworuntu wafat di Manado pada November 1987, dalam usia 88 tahun. Ia dimakamkan di Tumpaan, Minahasa Selatan.

Namanya mungkin tidak setenar tokoh-tokoh perempuan lain dalam buku sejarah nasional.

Namun jejaknya jelas: ia membuka jalan bagi perempuan untuk memimpin di tingkat lokal, bahkan sebelum gagasan kesetaraan gender menjadi wacana luas di Indonesia.

Mengingat jembali di Hari Kartini

Memperingati Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga memperluas ingatan kolektif kita tentang siapa saja perempuan yang telah berkontribusi bagi bangsa.

Dari Manado, Tine Waworuntu memberi pelajaran penting: bahwa emansipasi tidak selalu lahir dari pidato besar atau gerakan masif, tetapi juga dari keberanian menerima tanggung jawab, memimpin kota, mendidik generasi, dan membawa Indonesia ke dunia.

Sejarah telah mencatatnya. Tinggal kita, apakah mau mengingatnya.

Wali kota perempuan pertama di Indonesia

Sesuai data sejarah, wali kota perempuan pertama di Indonesia tercatat adalah Salawati Daud. Ia merupakan wali kota perempuan pertama di Indonesia yang menjabat sebagai Wali Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada periode 27 Desember 1949 hingga 17 Agustus 1950.

Salawati Daud juga tercatat sebagai wali kota Makassar pertama di bawah pemerintahan Republik Indonesia. 

Selamat memperingati Hari Kartini! (P-Semuel Muhaling)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan