Lompat ke konten
Jumat, 16 Oktober 2026
Breaking
HUMANIORACuacaKemanusiaanLingkungan

NASA: ‘Silent Killer’ Menyelimuti Seluruh Wilayah Indonesia

Armin Mandika2 menit baca
Bagikan
NASA: ‘Silent Killer’ Menyelimuti Seluruh Wilayah Indonesia
Penampakan wilayah Indonesia yang diselimuti karbon monoksida dari citra satelit NASA.(CNBC Indonesia)

PRIORITAS, 16/10/26 (Jakarta): Karbon monoksida sebagaimana yang ditunjukkan Citra satelit NASA, menyelimuti seluruh wilayah Indonesia selang seminggu ini.

Sebagaimana nampak lewat visualisasi pada situs Eyes on the Earth, sejumlah wilayah di Indonesia tampak didominasi warna merah.

Adapun peta yang ditampilkan NASA, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia, menggunakan gradasi warna untuk menggambarkan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer. Wilayah berwarna oranye dan merah menunjukkan konsentrasi CO yang lebih tinggi, sedangkan warna biru dan ungu menandakan konsentrasi yang lebih rendah.

Sesuai data tersebut menggambarkan rata-rata karbon monoksida di atmosfer pada ketinggian sekitar 18.000 kaki (5,5 kilometer), dengan rentang pengamatan selama tiga hari.

Seperti diketahui, karbon monoksida merupakan gas yang dihasilkan dari berbagai sumber, seperti kendaraan bermotor, gunung berapi, kebakaran hutan, serta pembakaran kayu dan bahan bakar fosil yang tidak sempurna.

Menurut pihak NASA karbon monoksida juga memengaruhi kadar metana dan ozon di atmosfer bagian bawah. Kondisi ini membuat CO berperan penting dalam isu polusi udara dan perubahan iklim.

Pihak NASA mengukur konsentrasi karbon monoksida menggunakan satuan ppbv (parts per billion by volume), yaitu bagian per miliar berdasarkan volume. Artinya, nilai 1 ppbv menunjukkan bahwa dari setiap satu miliar molekul gas dalam volume tertentu, terdapat satu molekul karbon monoksida.

Adapun karbon monoksida adalah gas atau cairan anorganik yang tidak berwarna, praktis tidak berbau, dan tidak berasa, sering disebut sebagai 'pembunuh pelan-pelan' (silent killer). Senyawa ini terbentuk dari proses pembakaran karbon yang tidak sempurna dan terbakar dengan nyala api berwarna ungu.

Sebagaimana merujuk pada The Condensed Chemical Dictionary edisi ke-9, senyawa ini memiliki karakteristik fisik sebagai berikut, dikutip dari situs resmi United States Environmental Protection Agency (EPA), Jumat (16/10/26):

Pertama sifat Kelarutan. Sedikit larut dalam air, namun larut dalam alkohol dan benzene. Berat Jenis 0,96716, Titik Didih: -190 °C, Titik Beku: -207 °C
Volume Spesifik 13,8 kaki kubik/pon (pada suhu 70 °F), Suhu Penyalaan Otomatis (Cair): 1128 °F

Kemudian ancaman dampak kesehatan. Ketika masuk ke dalam tubuh, CO mengikat hemoglobin darah dan membentuk karboksihemoglobin. Kondisi ini merusak kemampuan darah dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Untuk dampaknya berkisar dari ringan hingga mematikan, bergantung pada tingkat konsentrasinya.

Untuk konsentrasi Rendah, memicu kelelahan pada orang sehat serta memicu nyeri dada (angina) pada penderita penyakit jantung. Konsentrasi Sedang, menyebabkan gangguan penglihatan, penurunan fungsi otak, serta gejala mirip flu yang biasanya mereda setelah keluar dari ruangan.

Sementara konsentrasi tinggi, memicu pusing, sakit kepala hebat, mual, kebingungan, gangguan koordinasi tubuh, hingga berujung fatal (kematian).(P-*/am)

 

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami