PRIORITAS, 20/10/26 (Bandung): Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, meminta para insinyur di Indonesia untuk turun tangan dan berperan aktif dalam menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Gubernur yang sering disapa Kang Dedi Mulyadi alias KDM itu menekankan pentingnya kontribusi nyata dari komunitas keinsinyuran untuk merancang sistem pencegahan mutakhir sekaligus mengembangkan teknologi pemadaman api yang efektif serta terjangkau bagi masyarakat luas.
Pernyataan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri pembukaan Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara ke-44 yang digelar di Kota Bandung, Selasa (20/10/26), seperti dilansir dari Antara.
Menurut Dedi, keahlian teknis para insinyur sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai problem lingkungan krusial yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.
“Sering kali kita berpikir terlalu jauh dan mengawang-awang, padahal masih banyak persoalan sederhana yang belum terselesaikan. Persoalan kebakaran hutan merupakan persoalan yang harus diselesaikan melalui pemikiran para insinyur,” ujar Dedi Mulyadi di hadapan para delegasi.
Insinyur harus rancang metode konkret di lapangan
Dedi menilai penanganan karhutla tidak bisa lagi menggunakan cara-cara konvensional yang lambat. Penyelenggaraan mitigasi lingkungan membutuhkan kalkulasi teknis yang presisi.
Insinyur diharapkan dapat memetakan wilayah rawan, merancang metode pembersihan lahan yang aman, membuat sekat bakar (firebreak) yang efektif, hingga mengisolasi titik api agar tidak meluas ke area pemukiman atau hutan lindung.
Lebih lanjut, Dedi juga menyoroti pentingnya sistem deteksi dini (early warning system). "Pendekatan semacam itu bukan hal baru. Masyarakat telah mengenal berbagai metode pencegahan kebakaran sejak dahulu. Namun, cara berpikir ekonomi yang terlalu pendek dapat mengakibatkan persoalan lingkungan terus berulang,” kritiknya.
Tantangan pemadaman lahan gambut yang kompleks
Senada dengan Gubernur Jabar, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, membenarkan bahwa bencana karhutla merupakan masalah sistemik yang kompleks.
Penyelesaiannya memerlukan reformasi tata kelola di sektor pertanian dan kehutanan yang dipadukan dengan pendekatan sains keinsinyuran.
Ilham menggarisbawahi tantangan terbesar dalam pemadaman kebakaran, terutama di area lahan gambut. Karakteristik lahan gambut membuat api kerap menjalar di bawah permukaan tanah, sehingga sulit dideteksi secara visual dan memerlukan metode pemadaman cepat yang khusus.
“Memang ini adalah satu hal yang sangat serius harus kita tangani agar kita bisa menghindari, tidak adanya kerugian pada kualitas hidup kita, karena udara yang kita hirup juga kualitasnya sangat tidak baik,” ucap putra mantan Presiden RI BJ Habibie itu. (P-Ant/ht)








