Lompat ke konten
Selasa, 20 Oktober 2026
Breaking
EKBISHEADLINE NEWSBursaVIRAL

Mendag SBY-Jokowi: Singapura di balik jatuhnya IHSG

Berupaya tekan melalui MSCI, bertujuan memicu kepanikan

Jeffrey Rawis3 menit baca
Bagikan
Mendag SBY-Jokowi: Singapura di balik jatuhnya IHSG — foto 1
1 / 2
Eks Mendag Lutfi menuding Singapura berupaya menekan pasar RI agar dapat saham murah melalui lembaga penyedia indeks global MSCI. (Dok/Isr/Arsip Humas Kementerian Perdagangan)

PRIORITAS, 20/10/26 (Jakarta): Ramainya perbincangan tentang anjloknya pasar saham RI beserta beragam dugaan penyebabnya semakin viral saja. 

Pasalnya, eks Menteri Perdagangan (Mendag) RI Muhammad Lutfi menuding pihak-pihak dari Singapura berupaya menekan pasar saham Indonesia melalui lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Diketahui, Lutfi merupakan Mendag pada dua era kepresidenan. Pertama, era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia menjabat Mendag pada 14 Februari- 20 Oktober 2014. Kedua, di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), di mana ia menjabat Mendag pada 23 Desember 2020-15 Juni 2022.

Bertujuan memicu kepanikan

Selanjutnya Lutfi menduga ancaman perubahan status pasar modal Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) bertujuan memicu kepanikan agar investor asing bisa kembali membeli saham Indonesia dengan harga lebih murah.

Lutfi lalu menyebut perusahaan investasi milik Singapura, Temasek dan GIC, memiliki pengaruh besar terhadap MSCI. 

Tapi, ia tak menyertakan bukti independen yang mengonfirmasi dugaan adanya tekanan dari kedua lembaga tersebut.

"Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia?" tanya Lutfi dalam unggahan reelsnya di aku Instagram resminya @m.lutfi pada Senin (19/10/26).

Belum terverifikasi secara independen

Lalu, Lutfi juga mengklaim mendapat informasi mengenai seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh yang disebutnya menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia. 

Namun, klaim tersebut belum terverifikasi secara independen.

Lutfi mengingatkan, perubahan klasifikasi pasar berpotensi memicu penurunan harga saham Indonesia. Dan ia menduga tekanan itu dapat dimanfaatkan investor asing untuk kembali masuk dan membeli saham pada harga yang lebih rendah.

"Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah," ujarnya, dikutip media.

Untuk membela kepentingan Indonesia

Secara gamblang Lutfi menegaskan pernyataannya bukan untuk membela pemerintah, melainkan untuk membela kepentingan Indonesia. 

Karenanya, ia mengajak masyarakat tidak terpecah oleh persoalan tersebut dan meminta publik menjaga kepentingan nasional di tengah tekanan terhadap pasar modal.

"Jadi, buat bangsa Indonesia, jangan mau kita diadu-adu, dibuat minder oleh negara tetangga. Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan Indonesia. Kita harus kompak, kita harus patriotik. Kita jaga harga diri bangsa kita sendiri," kata Lutfi meyakinkan.

Sebelumnya, MSCI pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Dilansir CNN Indonesia, MSCI menyatakan langkah tersebut didasari masukan pelaku pasar mengenai ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta belum terlihatnya dampak reformasi pasar modal secara konsisten. (P-*/jr)

Eks Mendag Lutfi menuding Singapura berupaya menekan pasar RI agar dapat saham murah melalui lembaga penyedia indeks global MSCI. (Dok/Isr/Arsip Humas Kementerian Perdagangan)

Muhammad Lutfi, IHSG, Singapura, MSCI,

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami