PRIORITAS, 20/10/26 (Denpasar): Sektor pariwisata Indonesia mencatatkan performa gemilang dengan menyerap sebanyak 25,91 juta tenaga kerja sepanjang tahun 2025. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan capaian penyerapan tenaga kerja tersebut merupakan yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir di tanah air.
Dalam Laporan Capaian Dua Tahun Sektor Pariwisata yang dirilis di Denpasar, Bali, Selasa (20/10/26), Menpar Widiyanti mengungkapkan bahwa sektor ini menjadi motor penggerak lapangan kerja terbesar ketiga nasional setelah pertanian dan perdagangan.
Ekosistem yang terdampak mencakup perhotelan, restoran, agen perjalanan, transportasi, hingga industri ekonomi kreatif.
"Hal ini tentunya memberikan dampak atau peluang bagi masyarakat untuk berkarya, bekerja, dan memperoleh penghasilan di sektor pariwisata," ujar Widiyanti.
Capaian devisa pariwisata tembus Rp305,47 triliun
Pertumbuhan positif ini berbanding lurus dengan nilai kontribusi ekonomi terhadap negara. Sepanjang 2025, sektor pariwisata berhasil mendatangkan devisa sebesar USD18,27 miliar atau setara Rp305,47 triliun. Angka ini melonjak sebesar 9,41 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tren positif ini dipastikan terus berlanjut hingga tahun ini. Pada semester I 2026, sumbangan devisa pariwisata telah menyentuh USD8,43 miliar (sekitar Rp140,95 triliun), atau tumbuh 2,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Investasi kian agresif di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Laporan kementerian juga menyoroti realisasi investasi pariwisata 2025 yang menembus angka Rp73,56 triliun. Angka tersebut terus merangkak naik pada semester I 2026 dengan torehan investasi sebesar Rp39,68 triliun.
Khusus di enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, investasi pada paruh pertama 2026 sukses menyerap modal Rp1,4 triliun dan membuka 1.858 lapangan kerja baru.
Sementara itu, lima KEK lainnya yang memiliki aktivitas pariwisata menyumbang investasi Rp4,5 triliun dengan serapan 1.621 tenaga kerja baru.
"Investasi tersebut bukan hanya berarti pembangunan hotel atau fasilitas baru. Di belakang investasi terdapat kegiatan usaha, kebutuhan terhadap barang dan jasa, serta peluang penciptaan pekerjaan,” jelas Menpar.
Program strategis: Potongan harga tiket hingga insentif pajak
Untuk menjaga momentum kebangkitan ini, Kementerian Pariwisata memperkuat kolaborasi strategis lintas sektor melalui penyediaan sejumlah insentif penting bagi masyarakat dan pelaku industri.
Salah satunya adalah potongan harga tiket transportasi pada periode musim liburan guna menjaga daya beli masyarakat yang ingin bepergian.
Selain itu, insentif PPh 21 ditanggung pemerintah (DTP) bagi para pekerja pariwisata berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan, dengan target 552.000 penerima manfaat.
Selanjutnya program magang nasional untuk membuka peluang karier bagi generasi muda langsung di pusat industri.
Dilakukan juga optimalisasi Politeknik Pariwisata (Poltekpar) untuk memberikan pelatihan higiene dan manajemen dapur guna menyukseskan program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Gerakan Wisata Bersih
Di sisi lingkungan, lewat Gerakan Wisata Bersih yang terafiliasi dengan Gerakan Indonesia ASRI, kementerian telah menggelar 14 Aksi Bersih di 10 provinsi yang berhasil mengumpulkan 21,5 ton sampah dengan melibatkan 9.134 partisipan sepanjang tahun 2025.
"Sederet pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan wujud nyata sinergi dan komitmen berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem pariwisata, membangkitkan ekonomi lokal, serta memperluas peluang bagi seluruh elemen bangsa," tutup Widiyanti. (P-Ant/ht)








