
Suasana Pasar Ambuwa di Desa Huntu Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Jumat (7/8/2026). Pasar kuliner berbasis pangan lokal tersebut menerapkan konsep zero waste dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengajak pengunjung membawa wadah makan, botol minum, serta tas belanja sendiri. (‘Courtesy’ Antara/Faradila Alim)PRIORITAS, 8/8/26 (Gorontalo): Pasar Ambuwa di Desa Huntu Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Pasar ini tidak sekadar menyajikan kuliner berbahan pangan lokal tapi juga mengajak masyarakat mengurangi sampah dan mengenali kembali tradisi pangan Gorontalo.
Deretan tikar menjadi tempat warga menikmati makanan di bawah rindangnya pepohonan. Para penjual menggunakan daun atau wadah guna ulang untuk membungkus dagangan.
Pengelola juga mendorong pengunjung membawa wadah makan, botol minum, dan tas belanja sendiri.

Penanggung Jawab Pasar Ambuwa, Fatma Paato, mengatakan pengelola terus memberikan edukasi tentang pengurangan sampah.
Papan informasi di pintu masuk mengingatkan pengunjung agar tidak menggunakan plastik sekali pakai.
“Kadang ada pengunjung baru yang masih membawa kantong plastik. Biasanya kami tegur dan beri penjelasan,” kata Fatma.
Menurut dia, sebagian besar pengunjung mulai memahami konsep tersebut. Namun, pengelola tetap menjalankan edukasi agar kebiasaan itu berlanjut di rumah.
Nama Ambuwa sendiri berasal dari bahasa Gorontalo. Ambu berarti berkumpul, sedangkan buwa berarti perempuan. Nama itu mencerminkan peran perempuan Desa Huntu Selatan sebagai penjual sekaligus penggerak pasar.
Pasar Ambuwa hanya berlangsung dua kali setiap bulan. Jadwal tersebut menyesuaikan kesibukan para penjual dan relawan. Sebagian dari mereka bekerja sebagai petani, pedagang sekolah, dan ibu rumah tangga.
Pasar Ambuwa memiliki sistem transaksi yang tidak biasa. Pengunjung menukarkan uang dengan keping tempurung kelapa di loket masuk.
Keping tempurung itu menjadi alat pembayaran selama berada di area pasar. Satu keping bernilai Rp6.000. Sebanyak Rp5.000 digunakan untuk berbelanja.
Sementara Rp1.000 masuk dana operasional bersama. Dana tersebut mendukung kebersihan, listrik, dan perawatan fasilitas.
Koordinator Kelompok Usaha Ekonomi Studio Pangan Warga, Lukman Al Hakim Nur, mengatakan sistem tersebut menjadi bagian dari konsep pasar.
“Pasar Ambuwa ini seperti bazar makanan, tetapi konsepnya lebih hijau,” kata Lukman.
Menurut dia, pasar tersebut sejak awal dirancang sebagai ruang belajar bersama.
Masyarakat dapat mengenal pangan lokal sekaligus belajar menjaga lingkungan.
Pasar Ambuwa juga melahirkan Kelompok Usaha Ekonomi Studio Pangan Warga.
Kelompok itu menjadi wadah bagi para penjual untuk mengembangkan usaha. Mereka juga berupaya memperkuat ketahanan pangan lokal.
Anggota Hartdiks Studio, Zahra Khan, mengatakan gerakan tersebut melibatkan banyak pihak.
Penjual, relawan, warga, dan pengunjung memiliki peran dalam kampanye pangan lokal hijau.
“Yang mengampanyekan bukan hanya Hartdiks Studio, melainkan warga dan seluruh pengunjung,” ujar Zahra dikutip dari Antara News.
Menurut dia, tantangan Pasar Ambuwa kini tidak hanya menyangkut sampah plastik.
Pengelola juga menghadapi persoalan konsumsi berlebihan dan limbah makanan.
Sebagian pengunjung membeli makanan dalam jumlah banyak karena khawatir dagangan habis.
Akibatnya, makanan yang tidak habis berpotensi menjadi limbah pangan.
Pengelola mulai mendorong penjual menyediakan pilihan porsi kecil. Langkah itu membantu pengunjung membeli makanan sesuai kebutuhan.

Pengunjung juga melihat Pasar Ambuwa sebagai ruang untuk belajar pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Salah satunya Annisa Insyah. Ia menilai pasar tersebut mengajarkan kebiasaan sederhana dalam mengurangi sampah.
Sementara itu, Ahmad Faruq Ananda tertarik dengan perpaduan kuliner tradisional dan konsep zero waste.
Menurut dia, makanan tradisional yang mulai langka menjadi daya tarik tersendiri.
Lingkungan pasar yang bersih juga membuat pengunjung lebih nyaman menikmati kuliner bersama keluarga.
Bagi pengelola, Pasar Ambuwa bukan sekadar tempat jual beli.
Pasar ini menjadi ruang kolaborasi untuk menjaga pangan lokal, memberdayakan perempuan, dan mengurangi sampah.
Gerakan tersebut tumbuh dari aktivitas sederhana di Desa Huntu Selatan.
Warga berkumpul, menikmati pangan lokal, dan belajar membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan. (P-sm)

