
Tempurung kelapa sebagai produk limbah petani siap naik kelas.(‘Courtesy’ Media Perkebunan/istimewa)PRIORITAS, 12/6/26 (Jakarta): Limbah tempurung kelapa yang selama ini kerap dianggap tak bernilai kini semakin dilirik sebagai sumber energi hijau sekaligus peluang bisnis menjanjikan. Isu tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam ajang Indonesia International Coconut Community and Conference Expo (IICCE) 2026 yang digelar oleh Media Perkebunan yang dijadwalkan berlangsung pada 8–11 Juli 2026 di Medan, Sumatera Utara.

Dalam forum tersebut, pemanfaatan limbah tempurung kelapa menjadi briket arang berkualitas tinggi dinilai sebagai salah satu solusi untuk mendorong ekonomi sirkular, mengurangi limbah, sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
IICCE 2026 menghadirkan Founder House of Charcoal Indonesia sekaligus tokoh industri briket arang kelapa, Asep Jembar, yang dijadwalkan membawakan materi mengenai potensi bisnis briket tempurung kelapa sebagai energi hijau masa depan.
Permintaan pasar internasional terhadap briket arang kelapa terus meningkat karena dinilai lebih ramah lingkungan, memiliki daya bakar tinggi, menghasilkan sedikit abu, serta menjadi alternatif pengganti bahan bakar konvensional.

Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa terbesar dunia memiliki ketersediaan bahan baku yang sangat melimpah. Tempurung kelapa yang sebelumnya hanya menjadi limbah kini dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.
Selain memberikan manfaat lingkungan melalui pengurangan limbah, pengembangan industri briket juga berpotensi membuka lapangan kerja baru, memperkuat UMKM, dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sentra-sentra perkebunan kelapa.
Berbagai kajian menunjukkan bahwa briket tempurung kelapa dapat menjadi sumber energi alternatif yang lebih bersih dibanding sejumlah bahan bakar tradisional. Produk ini menghasilkan emisi yang lebih rendah serta memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal.
Karena itu, pengembangan industri briket dinilai sejalan dengan agenda global pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal.
Melalui IICCE 2026, pelaku usaha, akademisi, investor, dan pemerintah diharapkan dapat memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan hilirisasi industri kelapa nasional. Pemanfaatan tempurung kelapa menjadi briket menjadi salah satu contoh nyata bagaimana limbah dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.(P-*r/sm)

