Bukan cuma soal satwa, ‘Burung Indonesia’ ajak jurnalis Gorontalo bongkar cerita besar Kehati

Sem Muhaling
Rabu, 23 September 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 23/9/26 (Gorontalo): Isu keanekaragaman hayati perlu mendapat perhatian lebih luas dalam pemberitaan media. Karena itu Program Burung Indonesia mendorong jurnalis di Gorontalo tidak hanya melihat isu konservasi dari sisi satwa liar, tetapi juga mengaitkannya dengan pangan, pertanian, perikanan, ekosistem dan kehidupan masyarakat.


Dorongan tersebut terlontar dalam kegiatan Kelas Konservasi Jurnalis untuk Pengarusutamaan Keragaman Hayati yang berlangsung pada 22–23 September 2026 di Gorontalo. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi jurnalis untuk memperluas pemahaman mengenai isu keanekaragaman hayati atau Kehati.

Koordinator Program Burung Indonesia Wilayah Gorontalo Marahalim Siagian mengatakan, jurnalisme konservasi perlu melihat keanekaragaman hayati sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Menurut dia, Kehati tidak sebatas membicarakan spesies langka atau satwa yang terancam punah. Keanekaragaman hayati mencakup tumbuhan, hewan hingga keragaman genetik yang saling berkaitan dalam sebuah ekosistem.


Kehati dekat dengan masyarakat

Marahalim mencontohkan ikan nike yang menjadi salah satu bagian dari kehidupan masyarakat Gorontalo. Kemunculannya yang bersifat musiman, menurut dia, dapat menjadi bahan liputan untuk menggali lebih jauh hubungan antara kondisi lingkungan dengan keberadaan sumber daya perikanan tersebut.

Pertanyaan mengenai penyebab ikan nike muncul pada musim tertentu dapat berkembang menjadi liputan yang menghubungkan fenomena alam, ekosistem dan kehidupan masyarakat. Perspektif semacam itu penting agar pemberitaan konservasi tidak berhenti pada informasi mengenai keberadaan suatu spesies.

Hal serupa juga dapat terjadi pada sektor pertanian. Marahalim mencontohkan tanaman durian yang proses penyerbukannya berkaitan dengan keberadaan kelelawar sebagai bagian dari ekosistem.

Jika salah satu unsur dalam ekosistem terganggu atau hilang, dampaknya dapat menjalar pada sektor lain, termasuk produksi pertanian. Karena itu, hubungan antarkomponen alam menjadi salah satu aspek yang dapat jurnalis gali dalam membuat liputan Kehati.

Dari jagung hingga pangan lokal

Keanekaragaman hayati juga berkaitan erat dengan pangan lokal. Di Gorontalo, keberagaman jenis jagung tidak hanya memiliki nilai dari sisi pertanian, tetapi juga berhubungan dengan tradisi dan kehidupan masyarakat.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi jurnalis untuk mengangkat cerita mengenai bagaimana kekayaan hayati memengaruhi pola konsumsi, budaya, ekonomi dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Marahalim berharap jurnalis dapat mengembangkan perspektif tersebut dalam liputan mereka. Dengan demikian, isu Kehati tidak hanya muncul ketika ada konflik satwa, penemuan spesies langka atau kerusakan kawasan hutan.

“Harapannya mereka juga punya perspektif melihat kehati ini bukan cuma soal burung tapi punya ekosistem yang luas,” ujarnya, melansir Antara News.

Siapkan jurnalis untuk liputan mendalam

Menurut Marahalim, media memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan persoalan lingkungan kepada masyarakat. Peran tersebut menjadi semakin penting seiring perubahan pola konsumsi informasi masyarakat melalui berbagai platform digital.

Liputan yang mendalam kiranya dapat membantu masyarakat memahami keterkaitan antara kondisi lingkungan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Ia berharap pemberitaan juga mampu membuka ruang bagi perhatian yang lebih besar terhadap upaya konservasi dan mendorong munculnya aksi nyata.

Dalam kegiatan tersebut, Burung Indonesia melibatkan 43 jurnalis. Dari jumlah itu, sekitar 10 jurnalis terpilih nantinya akan mendapatkan dukungan berupa beasiswa liputan untuk melakukan peliputan lanjutan setelah mengikuti pelatihan.

Dukungan tersebut diharapkan memberi kesempatan kepada jurnalis untuk menelusuri lebih jauh persoalan keanekaragaman hayati di daerah masing-masing, sekaligus menghasilkan pemberitaan yang menghubungkan isu konservasi dengan kehidupan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, isu Kehati diharapkan tidak lagi dipandang sebagai persoalan yang hanya menjadi perhatian kelompok pemerhati lingkungan. Kekayaan hayati, pangan, pertanian, perikanan dan kehidupan sosial masyarakat merupakan bagian yang saling berkaitan dan dapat menjadi sumber cerita jurnalistik yang lebih luas. (P-*/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan