
Karateka Indonesia Cok Istri Agung Sanistyarani (kanan) berusaha memukul atlet Iran Fatemeh Saadati pada babak final perebutan perunggu 55 kg putri Asian Games 2022 di Linping Sports Centre Gymnasium, Hangzhou, China, Sabtu (7/10/2023). Cok Istri kalah 0-3. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
PRIORITAS, 23/9/26 (Nagoya) : Karateka senior Cok Istri Agung Sanistyrani mengakhiri kariernya di arena Asian Games dengan kenangan manis.

Coki sapaan akrab Cok Istri Agung menyelesaikan pertarungan terakhirnya di pesta olahraga terbesar Asia itu, bukan harus emas atau target yang muluk.
Karateka yang berusia 31 tahun itu hanya berharap bisa membawa pulang medali, apa pun warnanya, sebagai kenangan dari Asian Games terakhir dalam kariernya di Aichi-Nagoya 2026.
Bisa persembahkan medali

“Harapannya semoga bisa mempersembahkan medali, apa pun warnanya. Supaya bisa dikenang, ada kenangan manis untuk menutup karier,” kata Cok Istri saat ditemui sebelum bertolak ke Jepang.
Keinginan sederhana itu akhirnya terwujud di Toyohashi City General Gymnasium, Selasa (22/9/26).
Cok Istri berdiri di podium nomor kumite -55 kg putri dengan medali perunggu setelah mengalahkan karateka Singapura, Hafezan Marissa, 7-3 pada laga perebutan tempat ketiga.
Perunggu itu mungkin bukan pencapaian tertinggi dalam olahraga. Namun bagi Cok Istri, medali tersebut terasa berbeda dibandingkan raihan lainnya.
Asian Games Aichi-Nagoya menjadi Asian Games terakhirnya. Ia juga menyebut ajang ini sebagai multi-event pamungkas sebelum perlahan melangkah keluar dari panggung yang telah lama menjadi bagian besar dalam hidupnya.
“Ini Asian Games terakhir. Kemarin SEA Games terakhir, ini Asian Games terakhir, multi-event terakhirku,” ujarnya.
Cok Istri telah membawa nama Indonesia dalam tiga kali pelaksanaan Asian Games (AG) yakni AG 2018 di Jakarta-Palembang dengan meraih medali perunggu, kemudian Asian Games 2022 di Hangzhou, China gagal meraih medali. Dan terakhir AG 2026 di Aichi-Nagoya dengan kembali menyabet perunggu.
Perjalanan menuju podium di Toyohashi pun tidak dilalui dengan mudah.Cok Istri membuka penampilannya dengan kemenangan 6-1 atas wakil India, Alisha, di babak 16 besar. Pada perempat final, ia menghadapi perlawanan ketat dari karateka Makau, Lei Hong Kio, sebelum akhirnya menang 8-5.
Satu kemenangan lagi sebenarnya akan membawanya ke partai puncak. Namun, karateka Iran, Fatemehzahra Saeidabadi, menghentikan langkah tersebut. Cok Istri kalah 0-8 di semifinal dan harus mengubur asa memperebutkan emas.
Tak ada banyak waktu untuk meratapi kekalahan. Masih ada satu laga penentu apakah ia akan pulang membawa medali atau justru tanpa podium.
Pendekatan berbeda
Cok Istri bangkit saat menghadapi Hafezan. Tampil efektif, ia menutup pertandingan dengan kemenangan 7-3 sekaligus mengunci medali perunggu.
Untuk Asian Games terakhirnya, Cok Istri memilih datang dengan pendekatan berbeda.
“Bermain nothing to lose saja. Yang pasti tekadku ngasih yang terbaik karena ini Asian Games terakhir,” katanya.
Tantangan menuju Jepang
Keputusan untuk bermain tanpa beban bukan berarti persiapannya berjalan tanpa hambatan. Cedera lutut sempat menjadi pengganggu dalam perjalanannya menuju Jepang.
Ia harus menjalani terapi, perawatan, serta menjaga kondisi bersama tim medis dan sport therapist agar tubuhnya siap bertanding kembali.
Persiapan yang dilalui pun jauh dari kata ideal lantaran sejumlah agenda tryout dan pemusatan latihan tidak berjalan sesuai rencana. Namun, alih-alih meratapi kekurangan, Cok Istri memilih fokus pada hal-hal yang masih bisa dikendalikannya.
Salah satunya lewat cara yang sederhana, yaitu aplikasi Notes di ponselnya. Seusai SEA Games 2025 yang menyisakan banyak catatan evaluasi, ia menuliskan satu per satu hal yang perlu dibenahi, mulai dari kesalahan dalam pertandingan hingga hal yang harus diperbaiki menjelang Asian Games 2026.
Daftar itu menjadi tugas pribadi yang ia rampungkan satu demi satu. “Aku tulis di Notes. Jadi di Asian Games ini apa yang belum, aku checklist, checklist, checklist. Sekarang daftar yang belum di-checklist itu sudah selesai semua,” ujarnya.
Daftar checklist itu bukan semata-mata urusan teknik, ada pula komunikasi dengan pelatih, kondisi fisik yang wajib dijaga, hingga keyakinan pada proses latihan yang telah dilalui.
Hal-hal kecil itulah yang membuat Cok Istri merasa datang ke Jepang dengan kepercayaan diri lebih baik ketimbang saat tampil di SEA Games sebelumnya.
Pengalaman dan prestasi
Pengalaman yang dimaksud Cok Istri bukan dibangun hanya dari satu atau dua turnamen, melainkan lewat lebih dari satu dekade persaingan di level internasional.
Salah satu pencapaian besarnya adalah menyabet emas SEA Games Kuala Lumpur 2017 di nomor kumite -61 kg putri.
Empat tahun berselang, ia kembali bertengger di podium tertinggi pada SEA Games Vietnam untuk kelas -55 kg putri.
Di tingkat Asia, namanya pernah menghiasi podium Asian Games Jakarta-Palembang 2018 usai meraih perunggu kumite -55 kg putri.
Ia juga mengoleksi rentetan medali Kejuaraan Asia, termasuk perak di Amman pada 2018 serta perunggu edisi 2017, 2019, dan 2021.
Deretan prestasi itu menjelaskan mengapa Cok Istri begitu tenang menyikapi akhir kariernya. Ia telah mengecap seluruh dinamika kehidupan atlet: menjadi juara, meraih medali Asian Games, gagal di perebutan podium, bergelut dengan cedera, hingga menyaksikan lahirnya generasi baru.
“Kayaknya memang sudah waktunya regenerasi. Banyak atlet muda sekarang,” tutur Cok Istri seperti dikutip Antara.
Kesadaran itulah yang membuat Asian Games 2026 di Jepang terasa sangat berkesan. (P-*/wr).

