
Kepala Dinas Tanaman Pangan Sulwesi Utara, Rahel Ruth Rotinsulu. (Istimewa/SS/Ttk)PRIORITAS, 25/09/26 (Manado): Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memperkuat strategi ketahanan pangan daerah untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem sekaligus menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan bagi masyarakat.

Langkah tersebut terealisasi melalui penguatan koordinasi lintas instansi, mulai dari pengamanan pasokan dan distribusi hingga mendorong peningkatan produksi pangan di daerah. Pemerintah daerah menilai sinergi menjadi penting karena kondisi cuaca dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat memengaruhi stabilitas pangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Utara Rahel Ruth Rotinsulu mengatakan penguatan ketahanan pangan tidak hanya terfokus untuk menyelesaikan persoalan pasokan dalam jangka pendek. Menurut dia, pemerintah juga menyiapkan langkah berkelanjutan dengan memperkuat produksi pangan lokal.
“Sinergi antarinstansi perlu terus diperkuat, khususnya menghadapi tantangan cuaca dan ketergantungan pasokan dari wilayah lain,” kata Rahel di Manado, Kamis (24/9/26), melansir Antara News..

Dinas Ketahanan Pangan Sulut, kata Rahel, ikut mengawal distribusi pangan agar intervensi pemerintah dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan. Pihaknya melakukan pengawasan secara terpadu bersama instansi terkait sehingga pergerakan pasokan dapat dipantau.
Di sisi lain, Satgas Pangan terus melakukan pemantauan terhadap harga dan distribusi komoditas di tingkat pengecer. Pengawasan tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya lonjakan harga yang tidak wajar yang berpotensi membebani masyarakat.
Upaya pengendalian juga pemprov lakukan melalui pakta integritas bersama pedagang pengecer. Langkah ini menjadi bagian dari pengawasan terhadap penyaluran komoditas pangan sekaligus menjaga agar intervensi pemerintah benar-benar memberikan dampak kepada konsumen.
Menurut Rahel, pemerintah tidak ingin penanganan pangan hanya bersifat reaktif ketika terjadi gangguan pasokan. Karena itu, penguatan produksi lokal dan perencanaan pertanian menjadi bagian penting dari strategi jangka menengah dan panjang.
Dalam kerangka tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara berfokus untuk memperkuat produksi pangan lokal, termasuk melalui pengaturan kalender tanam dan berbagai langkah peningkatan ketahanan pangan.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah cabai rawit. Untuk menjaga ketersediaan sekaligus meredam tekanan harga, Sulawesi Utara melakukan fasilitasi distribusi pangan cabai rawit dari Probolinggo, Jawa Timur.
Pasokan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) Tahap II. Program ini menjangkau seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara yang menjadi wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Pemprov Sulut menempatkan distribusi dari luar daerah sebagai langkah respons cepat ketika kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi lokal. Pada saat yang sama, pemerintah tetap mendorong peningkatan produksi di dalam daerah agar dapat menekan ketergantungan terhadap pasokan dari wilayah lain.
Penguatan ketahanan pangan tersebut semakin penting di tengah tantangan cuaca ekstrem. Pemerintah daerah berupaya memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga, distribusi berjalan lancar, dan gejolak harga terkendalikan melalui koordinasi lintas sektor. (P-*/Ant/sm)

