PRIORITAS, 25/8/26 (Jakarta): Lonjakan mikropartikel PM2.5 akibat asap pembakaran memicu risiko peradangan paru-paru secara mendesak. Masyarakat membutuhkan pemahaman khusus mengenai langkah pencegahan asma akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) demi mengantisipasi serangan akut.
“Konsultasi ke dokter untuk jenis dan dosis obat. Yang perlu diantisipasi tentu adalah serangan asma akut,” ungkap Ketua Majelis Kehormatan PDPI Prof Tjandra Yoga Aditama, dikutip Selasa (25/8/26).
Pasien perlu menggunakan obat inhaler controller secara rutin sesuai dengan petunjuk dokter perujuk. Penggunaan obat reliever juga membantu meredakan gejala sesak napas secara cepat. Tjandra membedah kandungan berbahaya dalam kepulan asap pembakaran hutan.
“Dampak (paparan asap karhutla) akut seperti terjadi infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Dampak lanjutan seperti perburukan infeksi paru, penyakit asma dan penyakit lain seperti dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardio respirasi,” ujarnya.
Gas beracun jenis nitrogen dioksida dan ozon membentuk campuran toksik yang membahayakan tubuh. Paparan materi pembakaran ini menimbulkan gejala batuk berdahak hingga nyeri dada.
Bencana kebakaran lahan turut merusak kelancaran akses warga menuju fasilitas kesehatan terdekat. Tjandra membeberkan gangguan pasokan air bersih serta kelumpuhan jaringan transportasi daerah terdampak.
“Hindari perjalanan yang tidak terlalu perlu dan gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator, kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan,” tuturnya. (P-*/Khalied M)








