PRIORITAS, 11/10/26 (Jakarta): Persoalan hingga lahirnya Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) adalah bagaimana perjalanan belajar berlangsung ketika pindah ke jenjang pendidikan berikutnya.
Sebagaimana pengalaman Sekolah Fastabiqul Khairat di Samarinda memberikan gambaran menarik tentang hal tersebut. Sekolah ini menyelenggarakan pendidikan TK, SD, SMP hingga SMA. Fakta yang menarik bukan semata-mata karena beberapa jenjang berada dalam satu pengelolaan, melainkan karena ada upaya menjaga agar perjalanan pendidikan anak tidak terputus ketika berganti jenjang.
Sebagai catatan tumbuh kembang anak sejak TK menjadi informasi bagi guru SD. Ketika anak melanjutkan ke SMP, informasi dari SD tetap dapat digunakan. Begitu pula ketika memasuki SMA.
Sehingga guru pada jenjang berikutnya tidak harus mengenal anak seolah-olah baru pertama kali bertemu. Ada jejak perkembangan yang dapat menjadi dasar untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan capaian belajar anak. Prinsip serupa diterapkan dalam pembelajaran mengaji. Kemampuan anak dicatat. Ketika naik jenjang, guru dapat mengetahui posisi kemampuan tersebut dan meneruskan pembelajaran dari titik yang sesuai.
Itu semakin penting bagi anak berkebutuhan khusus. Informasi dari guru pendamping dapat diteruskan kepada guru pada jenjang berikutnya sehingga kebutuhan individual anak tidak hilang hanya karena ia berganti kelas atau jenjang. Di sini tampak bahwa kesinambungan pendidikan bukan sekadar memastikan anak naik kelas dan naik jenjang. Hal yang perlu diteruskan adalah pengetahuan tentang siapa anak itu, apa yang sudah dicapainya, dan apa yang masih perlu dikembangkan.
Keberlanjutan juga dapat dibangun melalui pencapaian kompetensi. Apa yang diperoleh anak pada satu tahap menjadi bekal untuk mencapai kemampuan pada tahap berikutnya. Implikasinya jelas: guru SD perlu mengetahui kesiapan yang diperlukan untuk memasuki SMP. Guru SMP perlu memahami fondasi yang seharusnya telah dibangun di SD, sekaligus mengetahui tuntutan SMA. Guru SMA pun perlu mengetahui dari mana peserta didik memulai perjalanan belajarnya. Tanpa hubungan semacam itu, setiap kenaikan jenjang berisiko menjadi titik mulai yang baru.
Budaya kerja
Kemudian ada pelajaran lain dari lembaga pendidikan swasta di Samarinda ini yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya penting: budaya kerja. Setiap pagi guru TK dan SD sudah berada di sekolah untuk mengikuti pengarahan dan membaca Al-Quran bersama pukul 06.50–07.05.
Tak hanya tu, mereka mempersiapkan kelas dan pembelajaran dimulai pukul 07.15. Untuk guru dan karyawan SMP dan SMA, pengarahan dan membaca Al-Quran berlangsung pukul 07.00–07.15. Persiapan kelas dilakukan sesudahnya dan pembelajaran dimulai pukul 07.30.
Para guru yang mendapat tugas piket sudah berada di sekolah sejak pukul 06.30. Bagi orang tua yang mengantar anak pada pagi hari, pesan yang diterima sederhana: ketika anak datang, sekolah sudah siap. Ini bukan hanya soal disiplin waktu.
Dengan adanya kebiasaan tersebut terdapat budaya kesiapan, keteladanan, dan tanggung jawab. Sekolah tidak akan menjadi satu kesatuan hanya karena berada di bawah satu manajemen apabila setiap unit memiliki kebiasaan kerja dan standar tanggung jawab yang berbeda. Oleh karena itu, membangun SNT tidak cukup dengan menyatukan struktur kelembagaan. Budaya kerja orang-orang di dalamnya juga harus dipertemukan.
KIemudian bagaimana dengan anak yang datang dari luar? Ada satu persoalan lain yang tidak boleh diabaikan. Tidak semua peserta didik akan memulai pendidikan dari TK atau SD di dalam sistem yang sama. Anak yang masuk SMP dari sekolah lain, misalnya, belum tentu memiliki kemampuan yang sama dengan anak yang telah mengikuti pembelajaran di Fastabiqul Khairat sejak jenjang sebelumnya.
Guna mengatasi perbedaan tersebut, anak yang belum mencapai kemampuan mengaji sesuai standar sekolah mengikuti matrikulasi. Ini memberikan pelajaran penting bagi SNT. Kesinambungan tidak boleh hanya dirancang untuk anak yang sejak awal berada di dalam sistem. Sekolah terintegrasi harus memiliki pintu masuk yang ramah bagi anak dari luar.
Sedangkan anak yang telah mengikuti sistem sejak awal, yang dibutuhkan adalah kesinambungan informasi dan pembelajaran. Untuk anak yang datang dari luar, yang dibutuhkan adalah asesmen awal, pemetaan kebutuhan, dan matrikulasi yang memungkinkan mereka mencapai standar yang ditetapkan.
Sebab itu, data perkembangan peserta didik harus memiliki fungsi nyata. Data bukan untuk menambah tumpukan administrasi, tetapi untuk membantu guru menentukan apa yang perlu dilakukan terhadap anak yang ada di hadapannya.
Adapun gagasan tersebut sejalan dengan Pembelajaran Mendalam. Pendekatan ini bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan yang menghidupkan proses belajar melalui praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital. Pengalaman belajar peserta didik berlangsung melalui memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Kemudian dalam perspektif ini, kesinambungan antarjenjang menjadi semakin penting. Pengalaman memahami di SD seharusnya menjadi modal untuk mengaplikasi dan memperdalam pengetahuan di SMP. Apa yang telah dikembangkan di SMP menjadi pijakan bagi pengalaman belajar di SMA.
Selanjutnya minat dan talenta yang mulai tampak pada satu jenjang juga tidak seharusnya menghilang ketika anak berpindah jenjang. Dengan demikian, yang perlu diintegrasikan bukan hanya kelembagaan sekolah, tetapi juga pengalaman belajar anak.
Suksesnya SNT sebaiknya tidak hanya dihitung dari berapa gedung yang dibangun, berapa ruang kelas yang tersedia, atau berapa fasilitas yang berhasil disediakan.
Untuk ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada perjalanan pendidikan peserta didik. Apakah guru mengetahui perkembangan anak sebelum memasuki jenjangnya? Apakah hasil belajar sebelumnya menjadi pijakan bagi pembelajaran berikutnya? Apakah anak dari luar mendapatkan bantuan untuk mencapai standar yang ditetapkan? Apakah guru antarjenjang bekerja sebagai komunitas profesional? Apakah budaya kerja menunjukkan kesiapan dan tanggung jawab yang sama? Jika jawabannya ya, integrasi mulai memiliki makna yang sesungguhnya.
Sementara fasilitas fisik tetap penting, namun fasilitas hanyalah sarana. Tujuan akhirnya adalah membuat proses pendidikan anak menjadi lebih utuh, berkesinambungan, dan bermakna.(P-*/am)








