PRIORITAS, 10/10/26 (Gianyar, Bali): Komisi X DPR RI membentuk lima panitia kerja (Panja) strategis untuk memperkuat pengawasan sektor pendidikan dan kebudayaan, guna merumuskan kebijakan alokasi anggaran yang tepat sasaran, termasuk bagi Kabupaten Gianyar, Bali.
Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, saat memimpin kunjungan kerja di Kabupaten Gianyar pada Sabtu (10/10/2026).
"Temuan di lapangan akan menjadi bahan pertimbangan kami dalam proses perumusan kebijakan dan alokasi anggaran bersama pemerintah," ujar Lalu Hadrian.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar segera menyetor data kebutuhan riil di lapangan. Data komprehensif ini nantinya menjadi input utama dalam rapat-rapat kerja parlemen pada masa sidang berikutnya.
Fokus 5 Panja Komisi X DPR RI
Untuk memaksimalkan pengawasan, Komisi X DPR membagi fokus kerja ke dalam lima tim Panja khusus, yaitu Panja Pendidikan 3T dan Daerah Marjinal, Panja Perguruan Tinggi Kementerian/Lembaga (PTKL), dan Panja Pelestarian Cagar Budaya (PCB).
Selanutnya Panja Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), serta Panja Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya (PPCB).
Dikatakan, seluruh hasil pemetaan dari kelima Panja ini akan diramu menjadi rujukan resmi saat DPR melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama kementerian terkait.
Pemkab Gianyar targetkan SDM berkarakter budaya
Merespons dukungan parlemen, Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, memaparkan strategi daerahnya. Pemkab Gianyar saat ini sedang fokus mengintegrasikan sektor pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Agung Mayun menilai, untuk mendongkrak ekonomi daerah, Gianyar tidak bisa hanya mengandalkan keunggulan akademik semata.
"Kami membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul akademik, sekaligus memiliki karakter, kreativitas, keterampilan, serta kecintaan terhadap budaya lokal," ungkap Agung Mayun, dilansir dari Antara.
Dampak Multiplier Effect untuk UMKM dan Seniman
Melalui sinkronisasi kebijakan anggaran dari pusat, Pemkab Gianyar optimistis pengembangan pariwisata berbasis budaya dapat membuka keran ekonomi yang lebih luas.
Manfaat ekonomi dari ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif ini ditargetkan menyasar langsung kepada pelaku UMKM lokal, para seniman tradisional, generasi muda produktif, dan masyarakat desa adat.
"Kebijakan kami dirancang untuk menciptakan keseimbangan. Antara pelestarian budaya identitas daerah, kemajuan pariwisata, mutu SDM, dan peningkatan kesejahteraan warga," tutupnya. (P-Ant/ht)





