Lompat ke konten
Minggu, 18 Oktober 2026
Breaking
PertanianDAERAHCuaca

Puluhan hektare sawah Sigi mulai mengering, ancaman gagal panen mengintai!

Semuel Muhaling3 menit baca
Bagikan
Sawah terdampak kekeringan
Kondisi sawah mengalami kekeringan di musim kemarau panjang. (P-Ilustrasi/Isitimewa)

PRIORITAS, 25/08/26 (Sigi): Puluhan hektare sawah di Kabupaten Sigi mulai terdampak kekeringan. Kondisi tersebut muncul akibat cuaca panas ekstrem yang berkaitan dengan fenomena El Nino.

Pemerintah Kabupaten Sigi kini memperbarui data lahan pertanian yang terdampak. Langkah itu penting untuk menentukan penanganan secara cepat dan tepat.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sigi Afit Lamakarate mengatakan data awal berasal dari Kecamatan Sigi Kota. Data tersebut mencatat sekitar 30 hingga 40 hektare sawah mengalami dampak kekeringan.

"Data yang masuk saat ini berasal dari Kecamatan Sigi Kota. Luas sawah terdampak sekitar 30 sampai 40 hektare," kata Afit di Bora, Senin (24/8/2026).

Sungai Wuno menyusut, sawah terancam

Menurut Afit, wilayah pertanian paling terdampak berada di luar cakupan Irigasi Gumbasa. Lahan tersebut masih mengandalkan aliran sungai sebagai sumber air pertanian.

Salah satunya berada di kawasan yang mengandalkan Sungai Wuno. Saat ini, debit air sungai tersebut mengalami penurunan cukup signifikan.

Akibatnya, tanaman padi di sejumlah wilayah menghadapi ancaman gagal panen. Kondisi tersebut terutama terjadi di Desa Oloboju, Desa Bora, dan sebagian Desa Watunonju.

Afit menjelaskan karakter tanah juga memperbesar risiko kekeringan. Mayoritas tanah di Sigi memiliki karakter aluvial yang mudah menyerap air.

Tanah menyerap air tapi cepat kering

Saat hujan turun, tanah aluvial menyerap air dengan cepat. Namun, kondisi berbeda terjadi ketika suhu meningkat dan matahari bersinar terik.

Air dalam tanah cepat menguap dan meresap kembali. Karena itu, tanaman padi kesulitan memperoleh pasokan air secara berkelanjutan.

"Tanah di Sigi mayoritas aluvial. Saat hujan, tanah cepat menyerap air. Namun, air juga cepat hilang saat panas ekstrem," ujar Afit.

Kondisi tersebut membuat petani harus menghadapi risiko lebih besar. Terlebih, tanaman padi membutuhkan pasokan air yang cukup selama masa pertumbuhan.

Pemerintah siapkan puluhan titik irigasi

Pemkab Sigi menyiapkan langkah antisipasi untuk mengurangi dampak kekeringan. Salah satunya melalui pembangunan jaringan irigasi perpipaan.

Pemerintah mengusulkan pembangunan tersebut melalui Kementerian Pertanian dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III.

Menurut Afit, sekitar 80 titik sudah mendapat persetujuan pembangunan irigasi perpipaan. Pembangunan tersebut berlangsung pada tahun ini dan berlanjut pada 2027.

"Sudah ada sekitar 80 titik yang disetujui untuk pembangunan irigasi perpipaan. Program berlanjut pada 2027," katanya.

Data 15 kecamatan masih ditunggu

Pemkab Sigi juga meminta petugas lapangan memperbarui data dampak kekeringan. Petugas dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) mendapat tugas untuk melaporkan kondisi setiap wilayah.

Afit mengatakan data dari 15 kecamatan lainnya belum masuk secara detail. Karena itu, pemerintah masih membutuhkan laporan terbaru dari setiap wilayah.

Pembaruan data tersebut menjadi dasar pemerintah menentukan langkah penanganan. Dengan data yang akurat, bantuan dan pembangunan infrastruktur dapat menyasar lokasi yang paling membutuhkan.

"Wilayah 15 kecamatan lainnya belum masuk laporan detail. Kami perlu memperbarui data agar penanganan tepat sasaran," ujar Afit seperti dilansir dari Antara News.

Luas sawah Sigi 15.280 hektare

Berdasarkan validasi Luas Baku Sawah (LBS), Sigi memiliki lahan pertanian cukup luas. Hingga Desember 2024, luas baku sawah di daerah tersebut mencapai 15.280 hektare.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian Sigi. Apalagi, pertanian menjadi salah satu sektor penting bagi kehidupan masyarakat setempat.

Karena itu, pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur irigasi. Selain mengurangi risiko gagal panen, langkah tersebut dapat menjaga produktivitas pertanian saat cuaca ekstrem.

Pemkab Sigi juga mendorong petugas lapangan terus memantau kondisi sawah. Dengan demikian, perubahan kondisi lahan dapat diketahui lebih cepat dan segera mendapat penanganan.

Fenomena kekeringan menjadi perhatian serius karena dampaknya dapat meluas. Jika debit sungai terus menurun, semakin banyak lahan pertanian berpotensi mengalami kekurangan air. (P-*Ant/sm)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami