
Dua pesawat tempur F A-18 Super Hornet lepas landas dari dek kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN 72). Armada perang AS masih siaga di Timur Tengah saat gencatan senjata berlaku.(us navy)PRIORITAS, 9/4/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberi peringatan kepada Iran, agar jangan sampai proses kesepakatan damai gagal, karena konsekuensinya berat.

“Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat tidak mungkin, maka ‘Shootin’ Starts,’ akan lebih besar dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya,” tegas Trump merujuk pada serangan militer AS yang lebih hebat akan terjadi.
Trump mengatakan pasukan AS saat ini akan tetap berada di dekat Iran, sampai kesepakatan permanen tercapai.
“Semua kapal, pesawat, dan personel militer AS, beserta amunisi, persenjataan, dan segala sesuatu yang sesuai dan diperlukan untuk penghancuran mematikan terhadap musuh, akan tetap berada di dan sekitar Iran, sampai kesepakatan nyata yang telah dicapai sepenuhnya dipatuhi,” kata Trump dalam unggahannya di Truth Social, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis (9/4/26).

Unggahan tersebut muncul sehari setelah Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran pada hari Selasa. Gencatan senjata itu akan berlaku hingga 22 April 2026 mendatang.
Trump menekankan kesepakatan damai apa pun dengan Iran, harus mencakup Iran tanpa senjata nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Sudah disepakati sejak lama, dan terlepas dari semua retorika palsu yang menyatakan sebaliknya. Tidak ada senjata nuklir dan Selat Hormuz akan terbuka & aman,” tambah Trump.
Israel-Hizbullah
Pihak Iran terkesan ingin membatalkan proses kesepakatan damai, dengan alasan Israel masih membombardir Hizbullah (proxi Iran) di Lebanon.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan serangan Israel terhadap Hizbullah akan membuat pembicaraan yang direncanakan antara AS dan Iran pada hari Sabtu akan tidak berarti.
Pezeshkian mengeluarkan pernyataan tersebut di X. Dia menilai serangan Israel merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang disepakati awal pekan ini.
“Agresi berulang yang dilakukan oleh entitas Zionis terhadap Lebanon merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata awal dan indikator berbahaya dari tipu daya dan kurangnya komitmen terhadap kesepakatan potensial,” tulis Pezeshkian.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan kepada PBS News Hour, Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan itu karena Hizbollah.
Kekalahan Iran
Komandan Pusat Komando AS (Centcom), Laksamana Brad Cooper, menyampaikan perkembangan terbaru tentang Operasi Epic Fury pada hari Kamis, sekitar enam minggu setelah perang dimulai.
“Kami berupaya untuk melumpuhkan kemampuan rezim Iran untuk memproyeksikan kekuasaan di luar perbatasannya sendiri, dan kami jelas telah menyelesaikan tugas ini,” kata Cooper, seperti rilis Fox News.
Menurut Cooper, Iran telah mengalami kekalahan militer yang bersejarah.
Amerika Serikat dan Israel secara sistematis menghancurkan kemampuan Iran, untuk melakukan operasi militer skala besar selama bertahun-tahun mendatang.
Cooper mencatat pasukan AS telah menghentikan operasi di tengah gencatan senjata yang sedang berlangsung, tetapi dia mengatakan Centcom akan tetap hadir, waspada dan siap jika diperintah untuk kembali berperang menyerang Iran.(P-Jeffry W)

