PRIORITAS, 6/10/26 (Jakarta): Istilah toxic semakin sering merajai percakapan publik di media sosial guna menggambarkan relasi bermasalah.
Menyikapi tren viral ini, kalangan psikolog melayangkan peringatan keras bahwa tidak seluruh konflik, perbedaan pendapat, atau perilaku menyebalkan layak menyandang label toxic.
Psikolog Lisa Liggins-Chambers memaparkan pandangan melalui Psychology Today.
Menyoroti fenomena digital, media sosial mempercepat popularitas kosakata psikologi, namun simplifikasi berlebihan kerap mendangkalkan esensi masalah sebenarnya.
“Tidak semua perilaku yang tidak sehat adalah toxic, dan tidak semua perilaku yang sulit berarti dilakukan dengan sengaja atau dilandasi niat buruk,” tulis Liggins-Chambers, melansir Antara, Selasa (6/10/26).
Menelusuri akar perilaku manusia, pengalaman masa lalu membentuk cara individu memproses situasi serta merespons lingkungan sosial.
Memperhatikan dinamika tersebut, tindakan mengontrol, menjaga jarak, ataupun menutup diri seringkali berpangkal dari trauma personal.
Refleksi konflik relasi
Mengetahui latar belakang trauma masa lalu bukan berarti melegitimasi tindakan merugikan pihak lain.
Menghadapi situasi pelik, setiap orang tetap berhak menetapkan batas aman sekaligus mengevaluasi dampak perilaku tersebut terhadap kesehatan mental pribadi.
Liggins-Chambers menyarankan publik menahan diri dari keputusan instan mengakhiri relasi semata-mata akibat rasa tidak nyaman sesaat.
Menjalin komunikasi sehat, menerima kritik terbuka, serta melatih kemampuan meminta maaf memegang peran kunci dalam merawat hubungan.
Menilai situasi secara bijak, individu perlu meninjau kembali keterlibatan diri dalam pusaran konflik sebelum menjatuhkan vonis arti istilah toxic di medsos.
Menganalisis akar masalah, pakar menyodorkan empat bahan refleksi penting mencakup kualitas relasi, reaksi emosional pribadi, peran masing-masing pihak, serta peluang perbaikan hubungan.
“Ketidaknyamanan bukan selalu bukti adanya perilaku toxic,” tegas Liggins-Chambers.
Budaya cut-off digital
Arus media sosial turut melambungkan tren populer seperti perlindungan diri, budaya pemutusan hubungan, hingga penghentian komunikasi total.
Memanfaatkan langkah protektif ini, individu memang berhak melindungi batas privasi dari relasi destruktif.
Menjaga kewarasan emosional, pembatasan interaksi mutlak berjalan selektif alih-alih diterapkan secara serampangan pada setiap gesekan kecil.
Mengkaji realitas hubungan, masyarakat harus membedakan secara jeli antara relasi toksik murni dan relasi sehat yang sekadar memerlukan perbaikan komunikasi. (P-Ant/Khalied M)








