Tenang bukan lemah: Strategi hadapi atasan toxic ala Sun Tzu

Johanes Christiaan
Selasa, 10 Februari 2026
HUMANIORA 0 500
3 menit membaca

PRIORITAS, 10/2/2026 (Jakarta): Di banyak organisasi, masalah terbesar bukan selalu kompetitor di luar sana, melainkan sosok di dalam struktur: atasan yang toxic. Mereka tidak selalu hadir dalam bentuk figur meledak-ledak atau pemarah terbuka. Sebaliknya, ketoksikan sering bekerja secara halus melalui pola yang konsisten, sistematis, dan merusak.


Ari Tjahjanto, BSc (Hons), M.PKB, CPOD, CMA, SEA, CPS — CEO PT Wongke Solusi Nusantara, menyebut atasan toxic, sebagai pemimpin yang menciptakan lingkungan kerja destruktif baik secara psikologis, profesional, maupun struktural.

“Ketoksikan tidak selalu tampak. Kadang hadir dalam bentuk kontrol berlebihan, manipulasi informasi, atau sekadar diam yang menyiksa,” kata Ari dalam keterangannya kepada PRIORITAS, di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Mengenali pola ketoksikan


Dalam pengamatan Ari, ada sejumlah karakter umum yang menjadi tanda bahaya, diantaranya kontrol berlebihan dan minim kepercayaan, manipulasi informasi demi menyalahkan bawahan, dan menghindari tanggung jawab atas keputusan.

Selain itu, tambahnya, penilaian kinerja yang tidak adil, intimidasi halus, seperti ancaman, silent treatment, hingga tekanan emosional, anti kritik, namun menuntut loyalitas absolut dan merusak reputasi bawahan demi mempertahankan posisi.

Jadi, tegas Ari, di titik tertentu, atasan toxic bukan lagi persoalan personal, melainkan risiko organisasi. Sun Tzu pernah menulis, “Pemimpin yang tidak bijak lebih berbahaya daripada musuh yang tampak.” Dalam dunia kerja modern, kalimat itu terasa sangat relevan.

Sun Tzu dan “Kemenangan Tanpa Bertempur”

Mengutip The Art of War, kata Ari, Sun Tzu menekankan bahwa kemenangan tertinggi adalah yang diraih tanpa pertempuran. Dalam konteks profesional, ini berarti melindungi diri, menjaga reputasi, memastikan keberlanjutan karier, dan tanpa terjebak dalam konflik terbuka yang menghabiskan energi.

Sun Tzu merumuskan tiga dasar strategi, pertama, kenali diri dan situasi — memahami posisi, kapasitas, dan batas diri. Kedua, kenali lawan dan medan — memahami karakter atasan, pola organisasi, dan dinamika kekuasaan. Ketiga, hindari pertempuran bila biayanya lebih besar dari manfaatnya — tidak semua konflik layak dihadapi.

Kesalahan terbesar dalam menghadapi atasan toxic adalah bereaksi impulsif tanpa membaca peta situasi. Dalam perang maupun dunia kerja, reaksi emosional jarang menghasilkan kemenangan.

Strategi Sun Tzu: Tenang saat tertekan

Salah satu prinsip paling relevan dari pemikiran Sun Tzu adalah “Saat lemah, tampakkan ketenangan. Saat kuat, jangan pamerkan semuanya.”

Ari menjelaskan, ketenangan bukan tanda kelemahan, tetapi strategi tingkat tinggi.

Caranya, tambahnya, jaga emosi tetap stabil dan profesional, sampaikan pendapat berbasis data, bukan defensif, rekam setiap instruksi dan keputusan secara rapi, dan kendalikan reaksi, karena atasan toxic sering memancing ledakan emosi.

Alasan strategisnya, karena ketenangan meredam eskalasi, menjaga reputasi, dan memberi ruang untuk membaca langkah lawan. Ia ibarat tameng yang membuat seseorang tidak mudah dipatahkan secara psikologis.

”Dalam dunia profesional, diam yang cerdas bisa lebih kuat daripada serangan balik. Mengelola atasan toxic membutuhkan kecerdasan taktis, bukan keberanian konfrontatif semata. Sebagaimana pesan Sun Tzu, kemenangan sejati adalah bertahan, bertumbuh, dan tetap waras di tengah medan yang penuh intrik,” pungkas Ari. (P-bwl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan