Presiden ajak elite politik hormati demokrasi dan terima kekalahan secara bermartabat
PRIORITAS, 13/7/26 (Jakarta): Presiden Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras kepada siapa pun yang memprovokasi masyarakat melakukan kerusuhan, perusakan, maupun pembakaran fasilitas umum. Menurutnya, pemimpin yang menghalalkan cara-cara tersebut tidak layak memimpin bangsa.
Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri puncak Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7). Dalam pidatonya, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa menjaga persatuan meski memiliki pilihan politik yang berbeda.
Perbedaan politik bukan alasan memecah bangsa
Prabowo menegaskan bahwa perbedaan partai maupun pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi. Karena itu, setiap pihak harus menghormati hasil pemilihan dan tidak menempuh jalan kekerasan ketika mengalami kekalahan.
"Semua unsur kita berbeda tidak ada masalah. Berbeda partai tidak ada masalah. Sekian tahun kita bertanding dengan baik. Siapa yang menang, silakan. Jangan kalau kalah mau bakar-bakar," kata Prabowo, melansir Antaranews.
Ia kemudian menegaskan bahwa pemimpin yang menghasut masyarakat melakukan aksi pembakaran dan perusakan merupakan pengkhianat terhadap bangsa.
Singgung pengalaman lima kali Pilpres
Dalam pidatonya, Prabowo juga mengingatkan bahwa dirinya telah lima kali mengikuti kontestasi pemilihan presiden. Dari pengalaman tersebut, ia mengaku pernah mengalami empat kali kekalahan.
Namun, menurutnya, kekalahan tidak pernah menjadi alasan untuk menggerakkan massa melakukan tindakan anarkistis.
Ia menilai sikap menerima hasil demokrasi secara dewasa menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas nasional serta memperkuat persatuan bangsa.
Yakin hukum karma berlaku
Prabowo turut menyampaikan keyakinannya bahwa setiap tindakan yang merusak kepentingan bangsa pada akhirnya akan menuai konsekuensi.
"Saya percaya hukum karma akan kena kepada mereka semua itu," ujarnya di hadapan ribuan peserta peringatan Hari Koperasi Nasional.
Seruan jaga persatuan
Menutup pidatonya, Presiden kembali mengajak seluruh masyarakat dan elite politik menjaga persatuan nasional. Menurutnya, kompetisi politik harus berakhir ketika hasil demokrasi telah ditetapkan, sehingga seluruh elemen bangsa dapat kembali bersatu membangun Indonesia.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa demokrasi harus menjunjung sportivitas, menghormati hukum, dan menolak segala bentuk kekerasan maupun aksi anarkistis sebagai cara menyampaikan ketidakpuasan politik. (P-sm)








