
PM Israel, Benjamin Netanyahu. (Reuters/Amir Cohen/Courtesy Detik.com)PRIORITAS, 4/8/26 (Tel Aviv): Agaknya ancaman penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu karena dianggap melakukan kejahatan perang, tidaklah mempan. Malahan Netanyahu balik menebar ancaman, jika dirinya ditangkap di luar negeri, ia menegaskan, militer Israel siap siaga melakukan intervensi untuk menyelamatkan dirinya.


PM Israel Benjamin Netanyahu saat menghadiri acara memorial untuk mendiang Senator AS Lindsey Graham di Washington DC, pekan lalu. Padahal,
Wali Kota New York Zohran Mamdani menyerukan penangkapan Netanyahu jika ia berkunjung ke Amerika Serikat (AS). Sementara Presiden AS, Donald Trump menyatakan, tidak ada yang akan menangkap Netanyahu selama di Amerika. (Ma’ayan Toaf/GPO/Handout via Reuters/Courtesy Detik.com)
Sikap tegas Netanyahu tersebut disampaikan di tengah ancaman penangkapan yang dihadapinya berdasarkan surat perintah ICC tersebut. Penangkapan ini terkait dengan tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Kemudian, jelang kunjunhannya ke AS, Wali Kota New York Zohran Mamdani menyerukan penangkapan Netanyahu jika ia berkunjung ke Amerika Serikat (AS). Mamdani secara terang-terangan menyebut Netanyahu sebagai “penjahat perang” dan meminta pemerintah federal AS melaksanakan surat perintah penangkapan ICC terhadap PM Israel tersebut.

Netanyahu: Kita beri militer tugas baru
Namun, dalam wawancara dengan presenter media top AS Fox News, Sean Hannity, seperti dilansir Middle East Monitor dan The Independent, Sabtu (1/8/26) waktu setempat, Netanyahu ditanya apakah ia khawatir jika diharuskan mendarat di AS atau negara-negara lain dalam situasi darurat, seperti kondisi darurat medis.
“Anda bepergian ke luar negeri, jangan sampai terjadi, lalu Anda mengalami keadaan darurat medis, dan harus mendarat, dan Anda hendak mendarat di negara yang mengakui ICC. Itu akan memperumit situasi. Apakah Anda mengkhawatirkan hal tersebut?” tanya Hannity kepada Netanyahu, dikutip media.
“Ya, saya memikirkannya. Anda tahu, kami memiliki pasukan khusus di sekitar ini. Saya sendiri pernah bertugas di sana selama lima tahun,” jawab PM Israel tersebut dengan meyakinkan.
Lalu Hannity menanggapi dengan menyebut militer Israel “sangat tangguh”, yang kemudian ditimpali oleh Netanyahu: “Ya, mari kita berikan mereka tugas baru.”
Ya, pernyataan Netanyahu tersebut mengisyaratkan bahwa unit pasukan khusus Israel dapat ditugaskan untuk menyelamatkan dirinya seandainya ia ditangkap saat berada di luar negeri.
Tetapi, Netanyahu tidak menjelaskan secara spesifik mengenai mekanisme operasi penyelamatan tersebut.
Hanya saja, sesuai ketentuan, setiap operasi militer yang dilakukan oleh suatu negara di wilayah negara lain tanpa izin otoritas setempat dapat dinilai melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu sengketa diplomatik yang serius.
Pertimbangkan secara cermat setiap rute tujuan
Adapun pernyataan Netanyahu ini mencuat seiring laporan media yang mengindikasikan bahwa surat perintah penangkapan ICC telah membatasi ruang gerak perjalanan luar negerinya. Kondisi tersebut mengharuskan pihak Israel mempertimbangkan secara cermat setiap rute tujuan perjalanan yang sekiranya berpotensi menegakkan surat perintah penangkapan tersebut.
Sesuai Statuta Roma yang menjadi dasar berdirinya ICC, setiap negara anggota pada umumnya diwajibkan bekerja sama dengan mahkamah tersebut, termasuk melaksanakan surat perintah penangkapan, meskipun penerapannya kerap menjadi perdebatan hukum dan politik.
Di samping seruan Mamdani di AS, demikian lansiran Detik.com, sejumlah pemerintah negara Eropa sebelumnya juga telah menyatakan akan bertindak sesuai kewajiban hukum internasional jika Netanyahu memasuki wilayah mereka.
Namun nyatanya, Benyamin Netanyahu tetap saja bisa terbang melewati banyak negara, termasuk ketika datang ke Amerika. (P-*/jr)

