27.2 C
Jakarta
Friday, May 24, 2024

    Siiip !!! Vaksin Sinovac masih dapat diandalkan melawan varian B1617, virus corona India ini telah menyebar ke seluruh dunia

    Terkait

    Palembang, 15/5/21 (SOLUSSInews.com) – Prof Dr dr Yuwono, M Biomed, ahli biologi molekuler dari Universitas Sriwijaya, Palembang, menyebutkan, vaksin Sinovac dan vaksin lain berbahan dasar dari Sinovac masih tetap bisa diandalkan untuk melawan varian India B1617 di dalam tubuh, sama seperti varian B117.

    “Varian B1617 masih berasal dari mutasi S yang sama seperti varian B117, sementara Vaksin Sinovac dibuat dari virus utuh, jadi masih tercakup,” katanya di Palembang, Sabtu (15/5/21).

    Namun, menurutnya, efikasi vaksin tersebut dalam membentuk atibodi di dalam tubuh terhadap setiap orang bisa berbeda satu sama lain. “Meski efikasi vaksin Sinovac dalam uji klinis ketiga mencapai 65 persen, ” ujarnya.

    Efikasi ialah estimasi bagaimana nanti efektivitasnya vaksin tersebut.

    Selain itu, katan6a, meski B1617 diperkirakan mampu menimbulkan mutasi ganda, namun mutasi itu tetap berada di bagian S, sehingga masih dapat diandalkan dengan Vaksin Sinovac.

    Ia menjelaskan, varian Covid-19 saat ini banyak berasal dari mutasi S yang ada di permukaan virus dan memang paling aktif melekat ke tubuh manusia.

    “Namun untuk mutasi B117 dan B1617 diyakini lebih cepat menyebar sehingga masyarakat perlu waspada, sebab dampaknya terhadap orang lanjut usia dan berkomorbid tetap membahayakan,” kata Yuwono yang juga Direktur Utama Rumah Sakit Pupuk Sriwijaya, Palembang.

    Oleh karena itu ia mengimbau masyarakat tetap mengikuti program vaksinasi Covid-19 dari pemerintah untuk menurunkan temuan kasus baru di tengah kemungkinan munculnya varian-varian baru.

    Selain itu protokol kesehatan Covid-19 tetap harus diterapkan termasuk bagi yang telah menerima vaksin.

    “Karena vaksin baru membentuk antibodi yang optimal tiga bulan setelah suntikan pertama,” demikian Yuwono, seperti dilansir ANTARA.

    Menyebar ke seluruh dunia

    Sementara itu, dari Bengaluru, India, dilaporkan, jumlah kasus infeksi Covid-19 yang tercatat di India naik di atas 24 juta pada Jumat (14/5/21). Kenaikan kasus terjadi di tengah laporan, mutan virus corona yang sangat mudah menular itu menyebar ke seluruh dunia.

    “Varian virus B1617 telah ditemukan pada kasus di delapan negara Amerika, termasuk Kanada dan Amerika Serikat,” kata Jairo Mendez, seorang ahli penyakit menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Bara kayu yang menyala membakar jenazah para korban yang meninggal karena Covid-19 di krematorium udara terbuka di pinggiran Bangalore, India pada Sabtu 8 Mei 2021.

    Bara kayu yang menyala membakar jenazah para korban yang meninggal karena Covid-19 di krematorium udara terbuka di pinggiran Bangalore, India pada Sabtu 8 Mei 2021. (Foto: AFP)

    Orang yang terinfeksi oleh varian tersebut termasuk pelancong di Panama dan Argentina, d8mana datang dari India atau Eropa. Di Karibia, kasus varian B1617 telah terdeteksi di Aruba, Dutch St Maarten, dan wilayah Guadeloupe Prancis.

    Jenis mutan yang sama juga telah terdeteksi di Inggris, serta di Singapura.

    “Varian ini memiliki kapasitas transmisi yang lebih besar, tetapi sejauh ini kami belum menemukan konsekuensi jaminan apa pun. Satu-satunya kekhawatiran adalah mereka menyebar lebih cepat,” kata Mendez.

    Kesehatan Masyarakat Inggris mengatakan, jumlah total kasus yang dikonfirmasi dari varian tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam seminggu terakhir menjadi 1.313 di seluruh Inggris.

    “Kami cemas varian itu telah menyebar. Kami tidak mengesampingkan apa pun,” kata Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, seraya menambahkan, akan ada pertemuan untuk membahas apa yang harus dilakukan.

    Berdasarkan data kementerian kesehatan, India mencatat 4.000 kematian dan 343.144 infeksi dalam 24 jam terakhir. Jumlah itu ialah hari ketiga berturut-turut dari 4.000 kematian atau lebih. Tetapi infeksi harian tetap di bawah puncak 414.188 minggu lalu.

    Sementara jumlah total infeksi yang tercatat melebihi 24 juta. Jumlah orang yang dipastikan meninggal karena Covid-19 mencapai 262.317 sejak pandemi pertama kali melanda India lebih dari setahun lalu.

    Tetapi kurangnya pengujian di banyak tempat berarti banyak kematian dan infeksi dihilangkan dari penghitungan resmi. Para ahli mengatakan, angka sebenarnya bisa lima hingga sepuluh kali lebih tinggi.

    Bhramar Mukherjee, seorang profesor epidemiologi di Universitas Michigan, mengatakan, sebagian besar model telah memperkirakan puncaknya minggu ini dan negara tersebut dapat melihat tanda-tanda tren itu.

    Situasi krisis Covid-19 sangat buruk di daerah pedesaan Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India dengan populasi lebih dari 240 juta. Gambar-gambar televisi memperlihatkan keluarga-keluarga yang menangisi orang mati di rumah sakit pedesaan atau berkemah di bangsal untuk merawat orang sakit.

    Mayat-mayat telah terdampar di Sungai Gangga, sungai yang mengalir melalui negara bagian, karena krematorium kewalahan dan kayu untuk pembakaran kayu bakar sangat sedikit. (S-ANT/BS/jr)

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    - Advertisement -spot_img

    Terkini