
Dalam rangka HUT ke-499 Kota Jakarta, Transjakarta memperkenalkan layanan premium makan mewah di atas bus tingkat, dengan rute sementara Bunderan Senayan – Kota Tua pergi-pulang. (Courtesy: Gridoto.com)PRIORITAS, 22/6/26 (Jakarta): Hari ini, 22 Juni 2026, Kota Jakarta genap berusia 499 tahun. Jelang HUT Jakarta itu, Transjakarta telah memperkenalkan layanan premium berupa makan mewah di bus tingkat setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu) dengan biaya Rp500 ribu per orang.

Dihimpun dari berbagai sumber, peluncuran layanan istimewa itu dilakukan PT Transportasi Jakarta atau Transjakarta saat giat “Busworld 2026” yang berlangsung di JiEXPO Kemayoran Mei lalu. Di acara tersebut mereka memperkenalkan bus yang diberi nama “Open Dining of Jakarta” – disebut juga “Panoramic Fine Dining”.
“Kita mem-present satu inovasi terbaru, yaitu open dining. Jadi Anda bisa dining sambil melihat keindahan kota Jakarta,” jelas Raditya Maulana Rusdi, Direktur Sistem Teknologi Informasi dan Pelayanan PT Transjakarta. Dikatakannya, PT Transjakarta mengubah bus tingkat mereka menjadi sebuah restoran fine dining atau makan mewah berjalan.
Bus tingkat dengan sasis Mercedes-Benz OC500-RF 2542 ini bagian atasnya sudah diubah menjadi seperti restoran mewah.

Di sana terdapat sekitar dua belas meja makan yang masing-masing bisa diisi oleh empat orang. Di sisi kanan dan kiri bus menggunakan kaca yang lebar sehingga penumpang bisa menikmati pemandangan kota.
Plus atapnya sudah pakai panoramic roof yang membuat kabin atas terasa lapang dan mewah. Penumpang bebas memandang ke luar menikmati pemandangan Kota Jakarta dari Bunderan Senayan sampai Kota Tua dan sebaliknya.
Bukan sekadar bus wisata biasa
Jika Anda perhatikan, ada yang berbeda di jalanan Jakarta dalam mulai awal Juni lalu, khususnya pada setiap akhir pekan. Terdapat bus tingkat Transjakarta dengan konsep baru yang mencuri perhatian: Panoramic Fine Dining – Jakarta Culinary dari PT Transportasi Jakarta.
Sekilas, mungkin orang akan mengira ini hanya inovasi desain atau sekadar “bus wisata biasa”. Tapi begitu diperhatikan lebih dalam, konsep yang ditawarkan jauh melampaui itu. Ini bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan tentang bagaimana menikmati perjalanan itu sendiri.
Dari tampilan luarnya saja, bus ini sudah terasa “beda kelas”. Balutan warna merah dengan sentuhan ornamen budaya, dipadu tulisan “Jakarta Cultural and Culinary”, seakan ingin menyampaikan pesan bahwa Jakarta bukan hanya kota sibuk, tetapi juga kota dengan cerita, rasa, dan pengalaman.
Kalau dilihat sekilas, bentuknya masih menyerupai armada Transjakarta pada umumnya. Namun, perbedaannya langsung terasa ketika kita membayangkan bagian dalamnya.
Interior bus didesain menyerupai restoran eksklusif. Kursi tidak lagi disusun seperti transportasi massal, melainkan seperti ruang makan yang nyaman dan tertata. Jendela besar di sisi kanan dan kiri memberikan pandangan luas ke luar, menjadikan perjalanan sebagai bagian utama dari pengalaman.
Bayangkan suasananya. Kita menyantap hidangan hangat sambil menikmati gemerlap lampu kota Jakarta di malam hari, dengan ritme perjalanan yang perlahan dan suasana yang lebih tenang dibanding hiruk pikuk jalanan.
Di titik ini, Jakarta tidak lagi sekadar kota yang “dilewati”, tapi berubah menjadi kota yang benar-benar “dinikmati”.
Konsep ini mencoba menyatukan tiga hal sekaligus: transportasi, wisata, dan kuliner. Sebuah pendekatan yang jarang dilakukan dalam layanan publik di Indonesia.
Layanan premium
Salah satu hal yang membuat bus ini tampil berbeda adalah peran dari Karoseri Ngalam Group, yang dipercaya melakukan rombak body kendaraan. Hasilnya tidak main-main. Transformasi yang dilakukan terasa menyeluruh, bukan sekadar kosmetik.
Desain eksterior terlihat lebih modern dan premium. Proporsi bus dibuat lebih elegan, sementara detail grafisnya memperkuat identitas budaya Jakarta. Ada kesan bahwa kendaraan ini memang dirancang untuk menghadirkan pengalaman, bukan hanya fungsi.
Ini yang menarik. Karena di sini kita melihat perubahan paradigma: dari kendaraan publik menjadi experience vehicle.
Bagi wisatawan, ini bisa menjadi cara baru menikmati Jakarta tanpa harus berpindah-pindah tempat. Cukup duduk, menikmati makanan, dan membiarkan kota “datang” lewat jendela.
Bagi warga lokal, ini bisa menjadi alternatif “healing ringan” tanpa perlu keluar kota. Tidak perlu macet ke luar daerah, cukup naik bus, dan menikmati suasana Jakarta dengan cara yang berbeda.
Lebih jauh lagi, konsep ini berpotensi menjadi ikon baru, seperti bus wisata di kota-kota dunia yang menggabungkan sightseeing dengan pengalaman tematik.
Di sinilah letak kekuatan ide ini: Jakarta sebenarnya punya banyak cerita, hanya saja selama ini belum dikemas dengan cara yang menarik.
Dengan harga paket minimal Rp500 ribu per orang, layanan “Open Ding of Jakarta” Transjakarta merupakan layanan premium bagi warga Jakarta atau luar kota – atau bahkan wisatawan mancanegara – yang ingin mendapatkan pengalaman unik dengan sensasi yang berbeda. (P-*/rwt)

