
Leo Rustandi, Direktur Pengembangan dan Pariwisata KEK Likupang.(Istimewa.)PRIORITAS, 22/4/2026 (Minahasa Utara): Kawasan ekonomi khusus (KEK) Likupang terus dipacu sebagai salah satu motor penggerak pariwisata nasional melalui pengembangan regenerative tourism, sebuah konsep wisata berkelanjutan yang mengintegrasikan konservasi alam, budaya, dan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai bagian dari lima Destinasi Super Prioritas (DSP) Indonesia bersama Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo, KEK Likupang diproyeksikan menjadi ikon baru pariwisata berkelanjutan Indonesia di kancah global.
Konsep regenerative tourism di KEK Likupang tidak hanya menekankan keberlanjutan, tetapi juga pemulihan ekosistem dan pemberdayaan masyarakat lokal. Implementasi konsep ini diperkuat melalui kolaborasi dengan Yayasan Indonesia Biru dalam program Wallace Conservation Likupang (WCL).
Program ini mencakup perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversity), riset ilmiah, pengembangan agrowisata, serta penguatan ekonomi berbasis masyarakat.

WCL turut melibatkan berbagai institusi, seperti Universitas Sam Ratulangi, CIRAD, Coral Triangle Initiative, serta Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Salah satu fasilitas pendukung yang telah dibangun adalah Dormitory Wallace Conservation Likupang untuk menunjang penelitian mahasiswa dan ilmuwan.
Selain itu, KEK Likupang juga menjadi zona penyangga kawasan biodiversity hotspot di Tanjung Pulisan, termasuk upaya konservasi spesies endemik seperti Monyet Hitam Sulawesi (yaki).
Untuk mendukung pertumbuhan sektor pariwisata, berbagai infrastruktur strategis terus dikembangkan. Mulai dari akses jalan, jaringan listrik, pasokan air bersih, hingga menara telekomunikasi.
Di sektor akomodasi, sejumlah fasilitas telah beroperasi, seperti The Pulisan sebagai resort premium, serta Noma Likupang yang mengusung konsep wisata alam berbasis konservasi.
Fasilitas pendukung lainnya meliputi puskesmas, pos keamanan, unit pemadam kebakaran, amphitheater untuk kegiatan seni budaya, serta kantor Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Likupang.
Sejumlah proyek strategis juga tengah dikembangkan untuk memperkuat daya tarik kawasan, di antaranya:
Program Community Nexus diharapkan menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar kawasan.
Direktur Pengembangan dan Pariwisata KEK Likupang, Leo Rustandi, menegaskan bahwa pengembangan kawasan tidak hanya berorientasi pada destinasi wisata.
“KEK Likupang tidak hanya membangun destinasi, tetapi juga menciptakan ekosistem pariwisata masa depan yang berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan regenerative tourism memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan selaras dengan pelestarian alam.
Namun demikian, keberhasilan konsep ini akan sangat bergantung pada implementasi di lapangan, terutama dalam memastikan keterlibatan masyarakat lokal, penguatan UMKM, serta perlindungan lingkungan secara berkelanjutan.
Dengan kombinasi investasi, infrastruktur, dan kekayaan alam, KEK Likupang dinilai memiliki peluang besar menjadi benchmark global dalam pengembangan destinasi wisata berkelanjutan berbasis regenerative tourism.(P-Sem)

