Taiwan gembira Presiden China tinggalkan AS dengan tangan kosong

Jeffry Wuisan
Sabtu, 26 September 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 26/9/26 (Washington): Para pejabat pemerintahan Taiwan merayakan kemenangan setelah Presiden China, Xi Jinping, meninggalkan Amerika Serikat (AS) hari Sabtu (26/9/26) dengan tangan kosong atau tanpa komitmen substantif apa pun terkait Taiwan.


Dalam kunjungan tiga hari di AS, Xi Jinping hanya mendesak Presiden Donald Trump untuk menangani masalah Taiwan dengan hati-hati, tetapi tidak mendapatkan komitmen apa pun dari Gedung Putih.

Presiden Trump malah masih mempertahankan penjualan senjata yang ada kepada Taiwan.

Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan, Francois Wu, memberikan tanggapan pemerintah pada Sabtu pagi, yang menyatakan Trump telah melakukan hal yang benar demi kepentingan Amerika sendiri dengan tidak tunduk pada tekanan China terkait masalah ini.


Media The Independent menyebutkan, satu-satunya capaian nyata dalam pertemuan Trump dan Xi adalah kesepakatan antara AS dan China untuk memperpanjang ‘gencatan senjata perdagangan’ selama dua bulan, yang seharusnya berakhir pada 10 November 2026.

Rincian kesepakatan tersebut akan dirilis pada hari Senin, kata perwakilan perdagangan AS Jamieson Greer.

Kunjungan pertama Xi Jinping ke Gedung Putih dalam satu dekade tampaknya merupakan kesempatan bagi dirinya dan Trump untuk mempererat diplomasi pribadi mereka, alih-alih mencapai terobosan publik besar dalam sejumlah isu kontroversial, termasuk Taiwan.

Klaim atas Taiwan

China mengklaim kedaulatan atas Taiwan yang memiliki pemerintahan terpilih secara demokratis, dan tidak mengesampingkan kemungkinan menggunakan kekerasan untuk menguasai pulau tersebut.

Hari pertama di AS, Xi Jinping mendesak Trump terkait Taiwan, dengan mengatakan ia berharap AS akan “menangani masalah Taiwan dengan bijaksana.”

Menurut media pemerintah Tiongkok, ia berharap pihak AS akan berpegang pada posisi yang benar dalam menentang kemerdekaan Taiwan.

Amerika Serikat, seperti kebanyakan negara, tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, tetapi terikat hukum AS untuk menyediakan pulau itu sarana untuk mempertahankan diri.

Amerika Serikat adalah pengekspor senjata terbesar ke Taiwan.

Sekutu-sekutu Washington di Asia mengamati dengan saksama bagaimana Trump berbicara tentang Taiwan setelah kunjungan Xi.

Media pemerintah Tiongkok, The People’s Daily, menegaskan kembali dalam sebuah editorial soal Taiwan adalah inti dari kepentingan utama Tiongkok dan garis merah pertama yang tak dapat dilanggar dalam hubungan Tiongkok-AS.

Setelah kunjungan kenegaraannya sendiri ke Beijing pada bulan Mei, Trump menunda paket penjualan senjata terbesar ke Taiwan, senilai sekitar $14 miliar.

Trump menggambarkannya sebagai “alat tawar-menawar yang sangat bagus”.

Hal itu dipandang sebagai kemenangan besar bagi kampanye Beijing untuk menciptakan perpecahan antara Taipei dan Washington. Namun, belum ada indikasi Xi Jinping memperoleh konsesi lebih lanjut terkait Taiwan selama kunjungan minggu ini.

Hasil lebih baik

Seorang profesor ilmu politik di Universitas Nasional Cheng Kung Taiwan, Wang Hung-jen, mengatakan sejauh ini hasil pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Trump dan Xi tersebut lebih baik dari yang diharapkan.

Ia menilai Xi Jinping tampaknya tidak secara langsung mengangkat isu penjualan senjata dan Taiwan bukan fokus utama.

“Melihat hasilnya, banyak hal yang kami kira akan sangat buruk ternyata tidak terjadi,” katanya.

Wu mengatakan pemerintah Taiwan telah “berkomunikasi terus-menerus” dengan Washington mengenai KTT tersebut.

Francois Wu mengatakan AS mempertahankan penjualan senjata ke Taiwan dan dengan demikian memberi pulau itu kemampuan untuk membela diri, sehingga tidak harus hidup di bawah kekuasaan Tiongkok.

Lebih dari itu, keadaan ini memungkinkan industri semikonduktor Taiwan untuk terus berkontribusi bagi dunia, adalah “kepentingan penting AS”.

Taiwan adalah salah satu produsen terkemuka chip canggih yang mendukung revolusi AI, sesuatu yang belakangan ini sangat diminati Trump untuk dipromosikan.

Trump menyarankan untuk mengubah citra AI secara lebih positif menjadi “kecerdasan super” dan menepis kekhawatiran apa pun tentang keamanan teknologi tersebut.

Tak ada perubahan

Duta besar AS untuk China, David Perdue, mengatakan Presiden Trump tidak melakukan perubahan dalam kebijakan Taiwan, termasuk pada Undang-Undang Hubungan Taiwan tahun 1979 yang mewajibkan penjualan senjata ke pulau tersebut.

“Kami menginginkan perdamaian di selat ini. Kami tidak menginginkan paksaan. Kami tidak mendukung kemerdekaan dan kami pikir, Anda tahu, Presiden Xi telah memahami pesan itu. Presiden Trump telah menunjukkan rasa hormat dan mendengarkan argumen mereka,” kata Perdue kepada CNBC.

Para senator Demokrat AS mengkritik Trump karena tidak mampu mencapai kesepakatan tentang AI dan gagal secara terbuka menanggapi tekanan militer China terhadap Taiwan.

Mereka malah menyerukan pengiriman segera bantuan militer dan penjualan senjata yang telah disetujui ke pulau tersebut.

“Itu seharusnya mudah sekali,” sesal Ro Khanna, anggota komite khusus Dewan Perwakilan Rakyat untuk Tiongkok.

“Saya yakin Xi Jinping akan menyetujui setidaknya beberapa kelompok kerja teknis. Tapi dia [Trump] tidak mau, dia tidak tertarik untuk melakukan itu”, katanya seperti dilaporkan The Guardian. (P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan